Naura semakin mendekatkan dirinya, berusaha untuk tidak berbohong pada siapapun, tetapi jika dia nekat berkata yang sejujurnya, habislah dia saat itu juga. Selain tak pandai untuk berbohong, Naura pun selalu melakukan yang terbaik untuk orang lain dan mengorbankan kebahagiaannya sendiri. “Naura?” “Iya, aku mengakui kamu tadi.” “Sungguh? Kenapa tiba-tiba seperti itu? Katakan, lanjutkan di dalam kamar ayo ....” Andi tak ingin menunggu lama, dia sesegera mungkin membawa istrinya ke dalam kamar dan melakukannya. Keduanya tak banyak berbincang, melayani syahwatnya suami memang sudah Naura biasakan sejak lama, mau tak mau pun harus berpura-pura ingin. Sebenarnya bukan hanya Naura saja yang merasa tertekan selama ini, Andi jauh lebih tertekan, karena kesulitan, dan tantangan mempertahankan r

