“Andi ... kamu? Jangan, salah paham dulu, aku sebenarnya ....” Tatapan Andi lurus dengan tajam menatap Naura seorang, di dalam hatinya ingin sekali menjerit karena sudah sangat sabar selama ini menahan rasa sakitnya karena tak pernah dicintai istrinya sama sekali. Sikapnya yang tempramen pun bukan karena dia semata-mata orang yang kejam pada sesama manusia, apalagi terhadap wanita. Dia hanya ingin menunjukkan rasa berontak nya pada sang istri, untuk segera dihargai layaknya suami yang sesungguhnya seperti yang lainnya. “Andi? Nak? Kamu tak apa-apa, kan? Ibu ... tak ingin ikut campur permasalahan rumah tangga kalian, selesaikan baik-baik, silakan,” ucap Ibu Lilis, mengangguk mantap pada Naura untuk menyemangati. Setelah sang ibu pergi, keduanya masih saja saling menatap satu sama lain,

