“Bagus, semoga anak-anak pun tetap menyetujui apa yang sudah kita rencanakan, jangan sampai salah satu diantara mereka ada yang menentang kita,” ucap Brahmana lalu dia meneguk secangkir kopi hitam di gelas nya. Sedangkan Hakim hanya terkekeh mendengar ucapan sahabatnya itu mengenai anak-anak mereka, padahal jika harus diluruskan, perjodohan tidak akan berjalan dengan lancar jika salah satu pihak terus memaksakan kehendak sendiri. “Lalu, apa rencana selanjutnya yang akan kita jalankan? Hmm?” tanya Hakim. “Seperti yang sudah saya bicarakan sebelumnya, lakukan dan katakan saja pada mereka,” sahut Brahmana. “Lalu, bagaimana kabar anakmu yang ....” Hakim sampai lupa, dia kembali menutup mulutnya. “Apa? Apa kau akan bertanya mengenai anakku yang satu lagi, hmm? Jangan sungkan, kau sudah ku

