"Sudah, jangan tegang begitu wajahnya. Santai saja. Sekarang kita lanjut makan dulu. Setelah ini baru kita bahas yang tadi," ucap Mama Ira tanpa beban dengan santai menikmati makan malam dengan lahapnya. Sedangkan aku, Masih dalam kebingungan. Beberapa kali melirik ke arah dokter Ryan. Menikah? Apakah maksudnya aku dan dokter Ryan? Ah, itu tidak mungkin. Mama Ira sepertinya sedang mengerjai kami. Pasti dia sedang bercanda. "Yan, sudah kenyang?" tanya Mama Ira. Matanya menyorot ke piring dokter Ryan yang masih menyisakan sedikit makanan, tapi sendok sudah diletakkannya di atas piring. Dokter Ryan mengangguk mengiyakan. "Wah, sayang dong nggak dihabiskan. Pasti Delia sedih, itu 'kan masakannya. Nggak enak, ya?" Pertanyaan Mama Ira refleks membuatku melirik ke arah dokter Ryan. Padahal a

