"Alhamdulillah, Non. Mbok senang dengarnya." Senyum Mbok Yem mengembang usai kuceritakan tentang lamaran tidak langsung dokter Ryan tiga hari yang lalu. "Menurut Mbok, apa yang saya lakukan itu benar atau salah?" Akhirnya aku curhat juga sama Mbok Yem. Aku merasa lebih enak ngobrol dengannya, karena Mbok Yem lebih ngemong dan bisa memberikan masukan atau saran yang baik untukku. Mungkin pengalaman hidupnya yang jauh lebih banyak, membuatnya lebih bijak dalam menyikapi suatu masalah. "Kalau dibilang salah, nggak juga. Kalau benar, harusnya sih nggak begitu." Jawaban ngambang Mbok Yem membuat mataku menyipit. "Saya tidak mengerti, Mbok. Jangan bermain kata, kepala tambah puyeng jadinya, Mbok," rutukku dengan menyesap kopi hangat buatannya. Wanita paruh baya yang duduk di sebelahku hanya

