Penasaran

1103 Kata

Shanum, minta maaf, Nak!" titahku pada anak gadis semata wayangku. Tampak Shanum membulatkan mata, kepalanya lemah menggeleng. Aku terpaksa memintanya minta maaf karena sudah membuat wali kelasnya meminta maaf pada ibunya Alan. Jujur, aku tidak terima, hatiku pun berat, apalagi setelah tahu siapa wanita sombong di hadapanku ini. Hanya saja aku ingin mempercepat penyelesaian permasalahan ini. Kurasa berdebat panjang dengan wanita keras kepala ini tidak ada gunanya. Hanya membuang waktu dan emosiku saja. Jangan sampai tensiku naik karena kepalaku mulai pusing. "Kalau begitu, ehm … namamu Alan, kan Nak?" Aku berbalik ke arah remaja di sebelah anaknya Mas Heru. Remaja bernama Alan itu mengangguk. "Boleh Bunda tahu bagaimana kronologis kejadiannya lagi? Dari kamu dan juga dari mereka." Arah m

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN