Terjebak Dalam Kebohongan

1701 Kata

Aku berjalan menghampiri seorang pemuda yang berdiri di samping Mbok Yem. "Jadi kamu, orang yang dikirim untuk memperbaiki brankas saya?" tanyaku kepada pemuda tersebut. "Iya, Bu," sahutnya mengangguk sopan. "Baik, ikuti saya, kebetulan brankasnya ada di atas," ajakku dengan berjalan lebih dulu. "Delia, tunggu." Mas Heru dengan cepat mencekal lenganku. "Kenapa lagi, Mas? Aku buru-buru. Nanti kita telat lo ke kantornya." "Kantor? Maksudmu ke butik? Ya sudah, kamu ke butik saja, biar Mas yang mengurus brankas kita." Matanya seketika berbinar. "Bukan, Mas. Aku tidak ke butik tapi ke kantor kita. Perusahaan Angkasa group," jawabku lugas. Mata Mas Heru terbelalak kaget. Mulutnya menganga terbuka lebar. Aku menyukai ekspresinya ini. Dia benar-benar kaget mendengar ucapanku barusan. Aku

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN