"Awww," aku meringis saat badanku menubruk badan dokter Ryan yang ternyata berada di depanku. Begitu pun dirinya. Kepalaku terbentur dagunya saat menoleh ke arahnya. Pasti sakit sekali. Dia meringis dengan sangat ekspresif mengusap pelan dagunya. Melihatnya, aku pun berpura masih mengusap kepala saat dia mendelik tajam ke arahku. "Makanya kalau jalan itu matanya ke depan, bukan kebelakang," ucap dokter Ryan dengan mengusap lembut kepalaku. Tidak menyangka kalau dia akan mengusap kepalaku selembut itu, kukira dia akan menyentil keningku lalu marah-marah seperti biasanya. "Kenapa Ryan?" Ibunya dokter Ryan menatapku dan dokter Ryan dengan dahi mengernyit. "Nggak apa Ma, tadi sama-sama kebentur." Dokter Ryan membuka pintu mobilnya dan memaksaku masuk ke dalam di kursi belakang. Aku pasrah

