Dilan menghampiri. "Terima kasih, Bu. Sudah memberikan saya kesempatan untuk bekerja kembali di sini." Aku mengangguk, dengan senyum merekah. "Delia, kamu! bagaimana mungkin kamu bisa meminta Dilan kerja kembali di sini, dia itu sudah banyak merugikan perusahaan kita," tukas Mas Heru penuh penekanan, menatap tajam ke Dilan. "Itu karena …." Kulihat Lastri ternyata belum keluar juga dari ruangan ini. Dia mengamati kami. "Las, apa butuh bantuan untuk mengemas barangmu itu? Dari tadi kamu masih terlihat sibuk," ucapku mengusirnya secara halus. Gerakan tangan Lastri semakin cepat merapikan barangnya dengan kasar, ia bahkan sudah berani menatapku nyalang menunjukkan kemarahannya padaku. Aku tak peduli. Baru begini saja kamu marah, lalu apa kabar aku yang kamu khianati sampai ke ubun-ubun. Ny

