Prolog
“Apa yang kamu lakukan disini?” tanya Kalila dengan suara setengah panik dan napas yang masih memburu.
Baru beberapa menit yang lalu ponselnya bergetar, sebuah pesan singkat yang memintanya untuk datang ke sebuah persimpangan di ujung kompleks rumah. Yang awalnya hari ini tidak akan pernah terjadi.
Di depannya berdiri sosok pria yang sudah bertahun-tahun telah dikubur dalam-dalam, namun nyatanya masih menguasai hatinya yang kini menjadi sudut paling terlarang.
“Menjemputmu.”
“Apa?” Suaranya tercekat nyaris seperti bisikan.
Matanya melebar dan menatap nanar wajah pria itu. Setengah berharap ia salah mendengarnya. Namun, raut wajahnya yang serius sontak membuat hatinya mencelos.
“Katamu kamu masih mencintaiku,kan?”
Wanita itu tak menjawab, lidahnya mendadak kelu. Secara refleks, kepalanya menoleh ke belakang, menatap sebuah rumah mewah yang berdiri angkuh di ujung jalan namun baginya itu seperti jeruji besi yang tengah mengurungnya.
Penjara mewah itu bernama pernikahan. Sebuah ikatan sakral yang tidak pernah menjadi impiannya, yang ia tukar demi melunasi utang orang lain.
“Kalila, jawablah.” Pria itu melangkah maju, mendesaknya dengan sorot mata yang menuntut.
“Aku selalu mencintaimu, sampai kapanpun,“ ujar Kalila akhirnya bersuara. “Tapi kamu harus pergi dari sini. Kalau sampai ketahuan, aku nggak tahu apa yang akan terjadi padamu.”
Pria itu berdecak. Sebuah senyuman getir tercipta di bibirnya. “Aku nggak peduli, Kal! Aku hanya ingin kamu. Aku nggak mau kita berpisah lagi.”
“Oh, Shaka.”
Pertahanan Kalila pun runtuh. Air matanya merebak dan sesaat kemudian luruh membanjiri pipinya. Tanpa banyak berpikir, Kalila menghambur diri ke dalam pelukan erat pria itu.
Shaka menerimanya dan mendekapnya begitu posesif, seolah ingin menyatukan tubuh mereka agar tidak ada lagi jarak yang memisahkan.
Lalu, bibir Shaka menemui bibirnya.
Kecupan itu awalnya hanyalah sebuah pagutan lembut. Namun, perlahan ciuman itu berubah menjadi lebih dalam dan menuntut.
Di bawah lampu jalanan yang temaram, keduanya saling menyesap, saling mengisi satu sama lain diiringi dengan deru napas yang mulai terasa menggebu dan tubuh mereka yang mulai membara.
Dunia seperti tengah berpusat kepada dua insan yang tengah dimabuk asmara. Tak ada yang ingin berhenti. Atau lebih tepatnya tak ada yang ingin berhenti.
Pada detik berikutnya, Kalila melepaskan pagutannya. Dengan napas masih terengah-engah, mereka saling tatap dalam diam.
“Ayo. Sebelum dia menemui kita.” Shaka menggamit tangannya cepat. Bersiap untuk mengajaknya pergi.
Tapi Kalila malah menahannya langkahnya.
Shaka kembali menoleh, keningnya berkerut dalam dengan sorot mata penuh keheranan.
“Aku nggak bisa,” ujarnya tercekat. Hidungnya mulai terasa panas.
“Apa maksudmu?” Keningnya berkerut dalam dan matanya menyipit.
“Aku tidak bisa pergi denganmu.”
“Kamu mencampakkanku lagi?” Nada suaranya naik satu oktaf, ada kesinisan dari suaranya.
Kalila menggeleng lemah, terisak.
“Bertahun-tahun yang lalu kamu juga mengucapkan hal yang sama, lalu kini kamu menggunakan alasan yang sama lagi?”
“Shaka, dengarkan aku. Ini semua demi kebaikanmu. Kamu nggak tahu siapa yang kamu hadapi. Dia … dia bisa menghancurkanmu dalam sekejap!” Kalila menatap Shaka dengan pandangan frustasi.
“Jangan meremehkanku, Kalila. Kamu tahu betul aku lebih dari mampu memaksamu kembali bersamaku. Bahkan sekarang aku mampu menghadapinya.” Shaka mencengkram kedua bahu Kalila dengan sedikit menekan.
“Kali ini kamu harus percaya sama sama aku. Please, kita bisa gunakan cara lain.” Kalila melepaskan cengkraman Shaka dan kemudian menggenggam tangannya dan memaksanya membalas tatapannya yang kini menyorotkan permohonan mendalam.
Shaka sudah hendak membuka mulutnya kembali. Namun, kemunculan sosok pria lain muncul dari dalam kegelapan persis di belakang punggung Kalila membuat Shaka terdiam.
“Kalila.”
Sebuah suara berat yang cukup familiar di telinga Kalila sontak membuat tubuhnya menegang.
Tanpa perlu membalikkan badan pun, Kalila sudah tahu siapa pemilik suara rendah dan bernada bariton yang tenang. Itu adalah suaminya. Pria yang menebusnya.
Shaka melirik tajam sosok pria yang berjalan tenang di bawah cahaya yang remang sebelum akhirnya tatapan Shaka kembali terarah pada Kalila yang wajahnya kini sudah berubah pucat pasi.
“Masih ada sedikit waktu, Kal. Kamu ingatkan kita pernah punya mimpi yang ingin kita capai bersama? Inilah saatnya, Kal.” Shaka mendesaknya sekali lagi. Tangannya terulur menarik menggenggam tangan Kalila dan menariknya pelan.
Tapi Kalila bergeming. Tubuhnya mematung.
“Kal?” Suara Shaka bergetar. Sorot matanya memancarkan kekecewaan mendalam.
Sementara itu langkah kaki sosok pria di belakangnya semakin dekat. Seketika saja tubuh degup jantungnya semakin berdetak lebih cepat.
Hingga langkah pria itu berhenti persis di belakangnya.
“Kalila. Pulang ke rumah sekarang juga.”
Kalila memejamkan mata. Tahu bahwa itu adalah perintah yang tak boleh dibantah. Waktu Kalila sudah benar-benar habis dan seperti biasa, hidup tidak pernah memberikannya pilihan.