Bab 7: Yang Belum Usai

1110 Kata
Dia kembali! Sosok pria yang sudah bertahun-tahun berusaha ia lupakan kini mendadak muncul di depan matanya. Di tempat yang tak terduga. Begitu ia berhasil kembali ke UKS setelah insiden mengejutkan, lututnya sudah tak kuasa menahan bobot tubuhnya dan ia terduduk begitu saja di bangku. Dadanya masih bergemuruh. Napasnya tercekat dan benaknya tak mampu berhenti memutarkan berbagai spekulasi. “Bukannya seharusnya dia ada di luar negeri dan tak kembali?” Benaknya mulai memutarkan kembali kenangan terakhir dirinya dan Shaka harus berpisah, yang tentunya dengan tidak baik-baik hingga membuat Kalila sesak. Tak ada yang menginginkan perpisahan terjadi diantara dua insan yang saling mencintai, tapi hanya itu yang bisa ia lakukan sebelum semuanya terlambat. Tapi saat mata itu akhirnya saling bertemu kembali, ada sebuah kilat kemarahan yang tampaknya berusaha pria itu pendam. Dan ketika Shaka melewatinya begitu saja, tanpa menoleh apalagi melirik dari sudut matanya, Kalila tak menampik bahwa hatinya pun mencelos. Kamu sudah meninggalkannya dan sekarang kamu berharap dia bersikap ramah padamu? Sebuah suara dari lubuk hatinya membuat Kalila mengerjap mata dan sontak wanita itu menepis semua perasaan yang tak semestinya hadir di saat ini. “Bukan itu yang harus aku pikirkan,” gumamnya lirih. Kepalanya tertunduk dalam. Ada yang lebih penting dibanding dengan urusan sosok dari masa lalu. Saat ini Kalila berusaha untuk fokus pada Rangga yang belum juga kelihatan batang hidungnya. Biasanya pria itu sudah berada di ruang UKS dan membolos jam pelajaran hanya untuk mengganggunya. Jika sebelumnya Kalila berusaha untuk mengusir Rangga setengah mati, saat ini malah ia mengharapkan kehadiran anak tirinya. Meskipun tak dapat dipungkiri bahwa hatinya juga dilanda rasa khawatir pada remaja itu, meski seringkali ia dibuat kepusingan. Tapi ini lebih sebagai bentuk tanggung jawabnya kepada ayahnya. Bahwa Kalila diminta untuk menjaga Rangga. Menit demi menit berlalu yang terasa sangat panjang hingga ia tak menyadari bahwa sudah dua jam berlalu tapi Rangga juga belum menunjukkan batang hidungnya. Hingga pintu ruang UKS terbuka secara kasar oleh seorang perempuan berambut panjang yang wajahnya sudah tak asing bagi Kalila. “Yaa? Kenapa? Kamu sakit?” Kalila cepat berdiri dan hendak menghampiri gadis itu. Diliriknya name tag yang tersemat pada baju seragamnya, Olivia Raharja. “Apa Rangga ada disini?” “Rangga?” Kalila mengernyit. “Iyaa. Dia kesini nggak tadi?” Olivia berdecak tak sabaran. “Yang tadi ribut di lapangan basket sekolah,” lanjut Olivia kemudian. “Oh … yang itu. Tidak ada tuh. Bukannya dia harusnya berada di ruang konseling?” tanya Kalila dengan suara berhati-hati. Dengan niatan untuk mencari tahu dimana remaja itu saat ini. Toh semua orang sudah menyaksikan kan kejadian pagi ini? Dan Kalila yakin, setelahnya berita itu sudah menyebar ke penjuru sekolah. “Dia sudah keluar sejak sejam yang lalu,” jawab Olivia kembali berdecak sebelum akhirnya berbalik badan meninggalkan ruangan tanpa pamit. Kalila kembali seorang diri dan membuatnya langsung termenung. Jika Olivia sampai mencarinya kemana-mana, itu berarti Rangga kembali membolos sekolah hari ini. Hal itu praktis menjawab tanda tanya besar dalam benak Kalila mengapa Rangga belum juga mengganggunya di UKS sampai saat ini. “Dia sedang menghindariku.” *** Biasanya Kalila akan dengan mudah mencari sumber informasi, tapi hari ini tidak ada yang datang ke UKS seperti sebelumnya. Ia kehilangan momen dimana bisa mencuri dengar apa obrolan para siswa di sekolah. Jam sekolah sudah usai setelah bunyi bel panjang berbunyi. Terdengar sayup-sayup langkah kaki yang perlahan keluar kelas dan derit meja dan kursi yang digeser. Kalila pun juga bangkit dari kursinya, merapikan meja dengan sedikit asal, lalu mengambil cardigan dan mengenakannya sebelum akhirnya ia menyampirkan tas di bahunya. Ia sedikit terburu-buru hingga kakinya terantuk kaki-kaki meja hingga membuatnya mengaduh kesakitan. “Aduh!” Kalila mengangkat sebelah kaki dan mengelus dengan tangannya. Satu-satunya yang ia pikirkan saat ini adalah segera pergi dari sekolah bebarengan dengan para siswa agar tidak bertemu dengan pria itu. Walaupun kesempatan mereka akan bertemu tak sengaja pada hari-hari berikutnya tak akan bisa dihindari, tapi setidaknya hari ini Kalila ingin menghindar. Pada detik berikutnya pintu UKS kembali terbuka. Kalila pun mendongak dan terkesiap sampai nyaris kehilangan keseimbangannya. Hal yang ditakutkan beberapa detik yang lalu saat ini benar-benar terjadi. Pria itu kini tengah berdiri di ambang pintu dengan sorot mata yang dalam dan wajahnya yang tak menunjukkan keramahan. “Ternyata benar kamu,” ujarnya dengan suara datar. Susah payah Kalila menelan ludah melewati tenggorokannya yang terasa kering. “Tadinya aku pikir bahwa aku berhalusinasi. Tapi setelahnya aku baru tahu kalau kamu juga bekerja disini. Sebagai perawat.” Kalila tak menjawab. Matanya dengan hati-hati terus memperhatikan Shaka dengan segala perubahan wajah dan emosinya. Wajah yang dulu selalu menatapnya dengan tatapan lembut kini berubah menjadi dingin dan berjarak. Bukan salahnya, pikir Kalila. “Lama tak bertemu. Kamu masih mengenalku, kan?” “S-shaka ….” Suaranya terdengar parau. “Rupanya kamu masih mengenalku. “Bagaimana kabarmu?” “Baik.” Kalila menatap mata Shaka dengan hati-hati. “Kamu?” “Awalnya baik. Sebelum aku bertemu denganmu.” Suaranya terdengar tajam. Kalila tak menjawab. Ia menahan napas selagi menatap mata Shaka yang kian menggelap. Seolah sedang menahan amarahnya. “Dari ribuan tempat dan luasnya negara ini, tak pernah kusangka kalau kita akan bertemu disini.” Kalila menggigit bibir bawahnya. “Bukannya kamu ada di luar negeri?” Shaka menelengkan kepala lalu kembali menyunggingkan senyum miring. Menyadari usaha wanita itu untuk mengalihkan pembicaraan. “Aku hanya kuliah di luar, bukan tinggal selamanya disana.” Dia benar, batinnya membenarkan. Shaka menyunggingkan senyum miring. Matanya masih menatap Kalila dengan sorot mata berkilat. “Jadi, kenapa kamu meninggalkanku dulu?” tanya Shaka kemudian. Kalila mengerjap, tak siap dengan pertanyaan pria itu yang mendadak. Meski seharusnya Kalila sudah memprediksikan, tapi tetap saja ia tidak pernah siap dengan pertemuan mereka yang mendadak. “Kita kan sudah sepakat,” jawab Kalila dengan suara serak. Shaka mendengus sinis mendengar alasan itu. “Tidak pernah ada kesepakatan diantara kita, Kalila.” “Tapi kamu tak menjawab apapun.” “Aku terkejut. Kamu hanya meninggalkan pesan singkat minta putus secara sepihak dan memanfaatkan keadaan saat kita lagi berjauhan.” Kalila tak menyangkal lagi karena sebenarnya memang itu yang terjadi. Hanya saja, ia tidak benar-benar memberitahu alasannya. “Kamu nggak tahu gimana aku berusaha untuk menekan emosiku untuk nggak langsung terbang menemuimu saat itu?” Lagi. Kalila terdiam. “Aku memang nggak menjawab pesanmu, karena kalau sampai aku melakukan itu, aku nggak tahu hal gila apa yang bisa aku lakukan.” Hidung Kalila mulai terasa perih seiring hatinya yang juga mulai kembali teriris. “Aku harus menelan perkataanmu bulat-bulat. Butuh berbulan-bulan hingga akhirnya aku sadar kalau aku membuang waktu. Dan disaat aku sudah sepenuhnya lupa, aku malah bertemu denganmu lagi,” jelasnya lagi. “Jadi … kamu mau apa?” “Penjelasan darimu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN