Bab 2: Nyonya Affandi

975 Kata
Pernikahan itu akhirnya tak terelakkan dan diselenggarakan di kediaman Irsyad Affandi. Padhe sendiri yang menikahkan Kalila selaku paman kandungnya dan setelah Ijab Kabul itu telah terlaksana dan dinyatakan sah oleh para saksi, air mata Kalila luruh dan membanjiri kedua pipinya seiring dengan dunianya yang ikut runtuh. “Pa, Ma. Aku harus bagaimana?” bisik Kalila lirih pada dirinya sendiri. Meremas kedua tanganya yang sampai kemerahan. Keinginan untuk mengikuti kemana kedua orang tuanya berada sempat terbesit dalam benaknya. Namun, detik berikutnya ia menepisnya kembali. Seseorang memasuki kamar tempat ia harus disembunyikan selama proses akad berlangsung dan kini Kalila sudah seharusnya dituntun keluar untuk menemui suami yang baru akan ia temui seumur hidupnya. Selama ini, bukan hanya Kalila yang tak pernah mengenal sosok asli dari Irsyad Affandi yang dikenal begitu misterius, tapi juga hampir seluruh orang yang berada di lingkungan rumahnya. Satu-satunya informasi yang ia tahu adalah pria itu berusia empat puluh lima tahun dan mempunyai anak laki-laki masih remaja yang tak terlihat kehadirannya. Masih sambil sesegukan dan menahan agar air matanya untuk berhenti mengalir, Kalila mencium tangan suaminya dan membiarkan pria itu mencium keningnya sebagai tanda simbol bahwa telah sah-nya hubungan mereka sebagai suami istri. Setidaknya, ada satu permintaan Kalila yang dipenuhi bahwa ia ingin pernikahan diadakan sederhana tanpa perayaan. Segera setelah akad selesai, Padhe dan Budhe pamit. Pria itu memeluk Kalila dan mengucapkan permintaan maaf dengan nada penyesalan sementara Budhe tampak berusaha keras untuk menyembunyikan senyumannya. Setelahnya rumah mewah itu terasa lebih sunyi. Hanya tersisa Kalila dan Irsyad yang berdiri menyaksikan segelintir tamu yang meninggalkan rumah dengan suasana yang canggung. “Kalila,” panggil Irsyad dengan nada suara pelan. “Gantilah bajumu. Kita harus segera pergi.” Tanpa banyak bertanya, Kalila mengangguk. Ia sudah tahu bahwa Irsyad tak pernah tinggal di rumah ini semenjak mendiang istrinya wafat beberapa tahun silam. Budhe sudah menceritakan padanya bahwa setelah menikah, Kalila akan diboyong ke rumah Irsyad Affandi yang berada kota untuk tinggal bersama anak tirinya dan juga mertuanya. *** Butuh menempuh perjalanan kurang lebih empat jam menggunakan mobil hingga akhirnya mereka sampai di sebuah rumah mewah bergaya minimalis dengan pintu pagar yang menjulang tinggi. Pintu dibukakan oleh seorang pelayan dan keduanya melangkah beriringan melewati sebuah pintu besar. Irsyad menjelaskan tata ruang rumah itu secara singkat dan datar. Seorang remaja lelaki yang baru datang menginterupsi keduanya. Pria yang mengenakan seragam putih abu-abu itu pun sontak mematung diambang pintu. Sorot matanya bergantian menatap Irsyad yang tengah berdiri di tengah ruang keluarga bersama seorang wanita asing yang mengenakan pakaian terusan berwarna putih. “Jadi ternyata benar Papa menikah lagi.” Seringaian mulai terbentuk di sudut bibirnya. “Rangga. Kenalkan, ini Kalila.” Irsyad lalu menoleh ke arah Kalila. “Kalila, ini Rangga, anakku satu-satunya.” Kalila dan Rangga bertemu tatap dan keduanya membisu. Remaja lelaki itu memandangnya dari atas hingga ke bawah dengan sikap angkuh nan congkak. “Aku tidak menyangka kalau Papa suka daun muda.” Mata Rangga berkilat dan bibirnya membentuk seringai. Kalila menahan napas. Tenggorokannya tercekat. “Sekarang dia adalah ibumu. Bersikaplah yang sopan.” “Aku tak akan pernah menerima perempuan manapun untuk menjadi Mama.” Rangga berdecih dan berlalu melewatinya dan menaiki tangga menuju kamarnya. “Maklumi sikapnya. Dia sudah lama bersikap seperti itu setelah ibunya meninggal,” ujar Irsyad. Kalila tidak menanggapinya, melainkan, ia menatap Rangga yang kini berjalan menaiki tangga menuju lantai dua rumah. “Nah kalau begitu, sekarang ikuti saya.” Pria itu memberikan isyarat untuk Kalila mengikutinya menuju ke satu-satunya pintu kamar yang berada di sudut rumah, bersebelahan dengan taman belakang. Kalila mengekor pria itu sembari meremas kedua tangannya khawatir. Bertanya-tanya dalam hati apa yang akan terjadi selanjutnya. “Ini kamar kita,” ujar Irsyad lagi seraya membuka pintu kamar lebar. Pria itu mempersilahkan Kalila masuk lebih dulu. Kamar itu tak kalah luasnya. Terdapat satu ranjang besar di tengah ruangan yang menghadap ke salah satu jendela besar yang menghubungkan ke halaman kecil membuat kamar ini memiliki pencahayaan alami. Irsyad melangkahkan kaki menuju ranjang dan duduk di pinggirnya. “Duduk disini, Kalila.” Degup jantung Kalila berdetak semakin cepat, keringat dingin sudah mulai muncul dari pelipisnya. Namun, Kalila tetap menyeret langkahnya dan duduk di samping pria itu. “Saya tidak akan melakukan apa-apa terhadapmu.” Perkataan Irsyad sontak membuat Kalila mendongak. “Saya tahu kamu tidak menginginkan pernikahan ini,” lanjut pria itu. “Begitupun juga saya.” “Kalau Bapak juga tidak menginginkan pernikahan ini, lalu kenapa?” Kalila bertanya heran. “Niat saya ingin membantu Padhe dan Budhe-mu dengan kamu sebagai jaminannya. Mereka bilang kalau kamu bekerja sebagai perawat di rumah sakit, apa itu betul?” Kalila mengangguk. “Saya butuh kamu untuk merawat ibu saya.” Irsyad berdehem. “Dia sudah lama sakit dan harus didampingi. Sebelumnya sudah ada perawat lain yang menjaganya tapi tak pernah lama karena tidak betah dengan sikap Ibu yang kadang kelewat batas.” “Jadi, maksud dan tujuan Bapak menikahi saya bukan karena ….” “Bukan. Saya tidak pernah berniat menikah pasca meninggalnya istri saya.” Wajah pria itu berubah muram. “Saya melihat ini bukanlah sebuah kebetulan. Bisa dibilang kita berada dalam situasi membutuhkan, bukan?” Kalila bergeming sesaat sebelum akhirnya mengangguk. Meski tidak membenarkan seluruh pertanyaan Irsyad. “Malam ini, tidurlah di ranjang ini. Saya akan tidur di sofa. Besok saya akan beli ranjang baru dan ditempatkan di sebelah. Kita harus terlihat satu kamar, agar tidak terlihat mencurigakan. Jangan khawatir, saya akan lebih sering keluar kota maka kamu bisa menikmati sedikit waktu sendirimu.” Walau masih berusaha mencerna perkataan dari pria itu, Kalila pun mengangguk. “Di depan ibu dan anak saya, bersikaplah kalau kamu adalah istri saya. Jangan panggil ‘pak’ di depan mereka.” Tanpa menunggu jawaban dari Kalila, pria itu sudah berbalik dan meninggalkannya sendirian di kamar. Detik itu juga Kalila kembali terduduk lemas. Menyadari bahwa keberuntungan masih berpihak padanya meski ia tidak tahu apa yang akan dihadapinya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN