“Kamu serius banget soal ini?”
Lara menatap Raka penuh curiga, sambil berdiri canggung di depan sebuah kantor notaris kecil di pinggiran kota.
Cowok itu cuma mengangguk, mengenakan hoodie hitam dan masker. Tapi bahkan dengan penyamaran setengah hati, auranya tetap mencolok. Tetap… Raka yang nyebelin dan kelewat pede.
“Lara, kamu bisa mundur sekarang. Tapi begitu kita tanda tangan, no turning back.”
“Kamu pikir aku takut?”
Lara mendongak menantang.
“Aku cuma heran kenapa kamu pilih aku. Sekolah ini penuh cewek-cewek yang lebih… gampang diatur.”
Raka tersenyum miring.
“Justru karena kamu susah diatur. Biar seru.”
Di dalam ruangan, seorang notaris paruh baya membacakan isi kontrak dengan nada datar.
“Pernikahan ini bersifat kontrak. Tidak berlaku secara hukum negara. Hanya untuk kepentingan pribadi dua pihak. Jangka waktu: tiga bulan.”
“Syarat-syaratnya sudah disetujui?”
“Ya,” jawab Raka dan Lara hampir bersamaan.
“Tanda tangan di sini.”
Tangan Lara sempat gemetar. Tapi bayangan wajah ibunya yang lelah, dan adiknya yang belum bayar SPP, membuat dia mantap menuliskan namanya.
Lara Nadhira.
Di bawahnya, Raka langsung menandatangani.
Raka Aldrean Putra.
Begitu pena terangkat, suasana langsung hening.
Mereka saling tatap.
“Resmi ya. Kamu sekarang istri kontrakku.”
“Dan kamu suami kontrakku. Jangan GR.”
Keesokan harinya di sekolah...
Lara datang lebih pagi dari biasanya. Tapi dia langsung disambut heboh.
“Lara! Kamu trending di grup w******p alumni!”
“Apa? Kenapa?”
Temannya menyodorkan ponsel.
Foto: Raka dan Lara keluar dari kantor notaris.
Caption: Anak Sultan Nikah Diam-diam!?
“ASTAGA…”
Lara membeku. Napasnya tercekat.
“Kamu emang nikah beneran?!”
Sebelum Lara bisa jawab, sosok Raka muncul di lorong sekolah.
Dengan santainya, dia melingkarkan tangan di bahu Lara.
“Iya, kami nikah. Punya masalah?”
Seluruh lorong sekolah seperti meledak.
Bisik-bisik. Tatapan kaget. Ponsel-ponsel mengarah ke mereka.
Dan Lara cuma bisa berdiri mematung.
Ini gila. Ini nyata. Dan ini baru permulaan.