18 Langit malam tampak begitu indah. Jutaan bintang berpendar menemani sang bulan menerangi dunia. Angin berembus sepoi-sepoi menyentuh dedaunan yang bergoyang di dahan pohon. Tanti dan Farzan duduk di kursi balkon lantai dua yang menghadap belakang rumah. Hanya suara gemericik air mancur di ujung kanan rumah yang terdengar, selebihnya sunyi. Farzan baru selesai menceritakan perdebatannya dengan Ristin tadi siang. Tanti mendengarkan dengan saksama dan tanpa menyela sedikit pun. Usai mengoceh, Farzan menyugar rambutnya dengan tangan kanan. Dia melirik perempuan yang balas menatapnya lekat-lekat, kemudian lelaki berkaus merah itu mengulaskan senyuman. "Makasih, Ti. Sudah mau ngedengerin ceritaku," ucap Farzan. "Kembali kasih, Mas," jawab Tanti. "Itu juga berhubungan denganku. Jadi

