48. Jalan Keluar

1923 Kata

“Bodoh kau Priska, bodoh!” rutuknya pada diri sendiri. Dia mengetuk-ngetuk pelipisnya dengan ujung telunjuk. Hingga kepala terantuk-antuk. Mengentakkan kaki ke lantai beberapa kali dengan sangat keras. Beberapa barang yang ada di dalam kamarnya bahkan bergeser karena tingkahnya. Robi yang ada di lantai bawah pun merasakan getarannya sampai di kamarnya. Jika dia tidak mendengar suara entakkan kaki itu. Ia bisa saja mengira itu adalah gempa. Tapi, dia sadar. Entakkan kaki itu jelas milik si gergasi Priska! Adiknya yang sungguh tidak bisa menjaga emosi. Robi menggelengkan kepalanya pelan. Mengambil earphone lalu memasangnya ke telinga. Ia harus melindungi telinganya dari serangan musuh. Kenapa lagi dia? Apa lagi yang sedang dia lakukan sekarang? Semoga bukan karena kesurupan! Robi memil

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN