50. Ancman-ancaman

1611 Kata

Rara yang mulanya berada di belakang Priska. Kini, ia berjalan mendahuluinya. Menarik lengan gadis itu dengan kencang. Langkah kakinya pun ia percepat. Membuat Priska harus sedikit berlari kecil untuk mengikuti langkah temannya itu. Tidak ada tempat lain yang bisa mereka tuju. Selain warung bakso Cak Sugi. Rara menariknya, mendudukkannya di bangku. Lalu menatapnya dengan tajam. “Kami akan pesan nanti, Cak!” selanya, sebelum Cak Sugi membuka mulut untuk bertanya. Berubah tungnya juga, di sana sedang sepi. Hanya ada mereka berdua. “Kau sudah gila? Kau mau mati? Atau kau mau skripsimu stagnan di sini?” cerocos Rara. Ia menggeleng pelan. Tak habis pikir dengan apa yang ada di pikiran Priska. Bagaimana bisa dia menyatakan cinta seperti itu? Gadis itu menggaruk kepalanya pelan. Padahal tid

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN