Hampir sebulan lamanya, mereka tak saling sapa. Tak saling bersua, apa lagi saling tatap mata. Priska benar-benar menghindari damar. Ia telah membulatkan tekadnya. Ia telah memilih untuk berhenti melanjutkan skripsinya semester ini. Melakukannya di semester depan dengan pendaftaran dosen pembimbing baru lagi. Menurutnya, tak apa prosesnya akan lama. Asalkan hatinya aman dan tenteram. Sementara itu, Damar pun telah berulang kali mengirimkan pesan padanya. Tentang berkas yang seharusnya ia ambil dan melakukan revisi secepatnya. Tapi ia tak mendapatkan balasan apa-apa. Gadis itu seakan tidak menganggapnya ada. Damar mulai pusing dengan semua kejadian yang ada. Setiap kali ia mendapati Priska melintas. Baru saja ia akan membuka mulut untuk memanggilnya. Gadis itu buru-buru pergi dari pandang

