Damar dan Fajar terus melangkah. Tempat itu memang tidak akan terlalu banyak pengunjung di hari kerja. Mereka seakan menjalani trip eksklusif di sana. Hampir tidak ada satu orang pun yang berpas-pasan dengan mereka. Suara air yang jatuh terdengar sangat jelas. Mereka mempercepat langkah menuju tempat indah yang mereka tujuan. Mereka akhirnya semakin dekat. Berada di sisi curam yang dibatasi oleh pagar bambu setinggi satu meteran. Mereka berdiri dengan tatapan lurus ke depan. Memandangi indahnya ciptaan Tuhan yang tersaji di depan mereka. Tebing tinggi dengan tumbuhan yang merambat di sisi-sisinya. Air itu mengalir dengan derasnya. Percikan-percikan yang ia hasilkan juga begitu memesona. Menyajikan pelangi indah yang tampak abadi. Jajarannya warna yang tergabung dengan sempurna. Kabut put

