Priska terdiam sejenak. Ia memandang wajah Rara yang sudah tampak tidak sabar mendengar jawaban yang akan ia sampaikan. Ia menelan ludah. Entah dari mana ia harus mulai bercerita. Helaan napasnya terdengar berat. Padahal ia ingin menyimpan semuanya sendiri. Tapi, namanya juga teman dekat. Pasti Rara merasakan keanehan yang ada pada dirinya. Mau bagaimana pun pada akhirnya ia harus bercerita. “Aku tidak bisa melanjutkan skripsi semester ini. Terlalu berat untuk mengerjakannya. Dan juga ... Kau tahu sendiri. Bagaimana aku dan pak damar. Urusan kami merambat ke mana-mana. Entah bagaimana ceritanya ternyata dia anak dari teman mamaku. Lalu, waktu kita ketemuan sama lintang. Dia bahkan mengantarkan aku pulang. Terlalu rumit. Perasaanku tak akan bisa hilang kalau terus berputar dengannya. Kare

