Kalau Rara boleh memilih. Ia ingin sekali berteriak kencang. Lalu memeluk pria yang ada di belakang teman Ibunya itu. Pria yang selama ini dia kagumi ada di hadapannya. Tak hanya itu! Ia datang ke rumahnya untuk makan malam. Betapa tulisan takdir yang telah ditetapkan oleh Tuhan sangat sempurna! Ia masih tidak bergerak dari tempatnya berdiri. Orang tua dan tamu Ibunya saling pandang. Lalu melihat lagi ke arah Rara. “Ra? Itu, salaman sana!” perintah Ibunya. Ia menyenggol lengan Rara. Agar gadis itu tersadar dari lamunannya. “Ah, iya, Bu, kenalkan aku Rara!” ucapnya dengan sedikit gugup. Ia menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga sambil sedikit menunduk. Pria itu tersenyum, “Lintang! Bukannya sudah kenal?” jawabnya. Membuat jantung Rara semakin berdetak kencang. Gadis itu lang

