71. Kandang Sapi

1009 Kata

Udara di pegunungan memang lebih sejuk dari pada di perkotaan. Embun pagi masih begitu dingin. Angin yang berembus pelan menyelusup dari celah-celah ventilasi. Mengalir pelan hingga sampai di titik pencarian. Menyebarkan kesejukan pada pemilik tubuh yang masih terlelap jua. Si jago mulai berkokok dengan lantang. Sinar keemasan mulai semburat di peraduannya. Perlahan mulai naik dan memberikan rasa hangat. Sementara si pemilik tubuh masih saja terlelap. Padahal suara aduan kualitas dengan pengaduk sudah terdengar sejak tadi. Penggorengan dan spatula telah menari manja. Menjadi sebuah perpaduan yang sempurna.  “Damar ... Le, bangun!” sapa Pak Handoko. Ia membuka kamar, mendapati pria itu masih menarik selimut hingga di batas lehernya. Ia menggelengkan kepala pelan. Mengusap pucuk kumisnya ya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN