19. Sepasang Sepatu

1780 Kata

Terima matahari sudah mulai menghangat. Seperti perasaan Priska. Dia yang semula merasa kesal dan bahkan merasa sial. Kini, ia merasa lebih hangat. Udara sejuk kian terkikis. Tapi, tak membuat dia pergi dari tempatnya duduk. Ia masih setia berada di sana. Menunggu Rara yang tak kunjung tampak kedatangannya. Berkali-kali dia mengecek jam yang ia kenakan di tangan kanannya. Jam perkuliahan Damar tak kunjung habis. Perutnya sudah mulai keroncongan. Sementara Rara masih juga tak datang-datang. Gadis dengan kemeja putih itu masih berusaha menahan amarahnya. Tenang Priska! Marah-marah akan membuatmu semakin lapar! Jadi, ambil napas dalam-dalam dan tenangkan dirimu! Dia mengulang kata-kata itu beberapa kali dalam batinnya. Wajah kusutnya berubah cerah dan licin. Saat sebuah motor masuk ke

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN