56. Penolakan yang Menyakitkan

1854 Kata

Priska berdiri lama di sana. Menatap ke arah Damar dengan tajam. Ia bergulat dengan batinnya sendiri. Apa yang akan dia lakukan sekarang? Haruskah aku masuk dan mengatakan semuanya pada dia? Priska menelan ludah. Rasanya berat untuk melangkah masuk. Tapi, gemuruh dalam hatinya tentu harus ia utarakan. Ia tak ingin menghadapi ujian dengan hati tidak tenang seperti itu. Mau bagaimana pun, dengan cara apa pun, dia tetap harus mengutarakannya. Ia tidak bisa terus diam dan memendam semuanya sendirian. Sementara ia tidak bisa fokus pada apa yang sedang dia kerjakan. Kemudian dia memantapkan hatinya. Meyakinkan dirinya sendiri. Bahwa dia harus melakukannya. Apa pun hasilnya nanti. Setidaknya dia telah mendapatkan jawaban. Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan tersebut. Soroti mata

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN