Priska merapikan rambut dengan jemari tangannya. Rambutnya yang tergerai tampak lurus dan lembut. Walau baru saja terbangun dari tidur. Rambutnya tetap menurut dan tidak megar ke mana-mana. Ia mengusap wajah, hawa dingin masih menyelimuti. Ia menggosok kedua tangannya, kemudian menempelkannya di kedua pipinya. Ia mengatur napas, pikirannya masih kacau. Bagaimana bisa dia meneleponku? Kenapa? Bukannya mereka dekat? Lagi pula, kapan aku memberikan nomor ponselku padanya? Ia tampak berpikir keras. Kening berkerut, wajah tegang dan terlihat sama sekali tidak ramah. Rara yang duduk di dekat jendela merasa aneh dengan sikap temannya itu. “Ada apa? Kau mimpi buruk?” Rara berjalan mendekat, ia duduk di samping Priska. Menunggu gadis itu mulai menceritakan tentang apa yang sedang ia pikirkan.

