Priska masih membawa map yang berisi berkas skripsinya yang tadi diberikan oleh Damar padanya. Berkas yang sudah pasti memiliki banyak coretan dan catatan di setiap lembarnya. Dari atas hingga ke bawah. Di setiap kesalahan tanda baca. Juga pada kesalahan penulisannya. Walau belum membukanya. Priska sudah sangat yakin akan hal itu. Setiap kali ia menghadap Damar. Pria itu selalu saja mempunyai banyak catatan yang dia omelkan dan dia cantumkan di setiap halaman tersebut. Priska melemparkan dirinya ke atas tempat tidur. Berkas yang masih dia gulung itu dia pandangi. Lalu ia lemparkan begitu saja ke arah meja. Namanya kertas, tipis dan ringan. Tentunya isi dari map itu berserakan ke seluruh lantai di kamarnya. “Bodo amat! Aku enggak akan mengerjakan itu untuk sementara! Menghindar da

