Bab.11 Tidur Bersama

1054 Kata
  Leo tanpa sadar merebahkan tubuhnya di paha Jeana. Perempuan itu masih lanjut menonton seri drama Korea kesukaanya. Sesekali dia protes dengan gaya tidur Leo yang seenaknya di sampingnya saat ini.   Jeana berusaha menstabilkan posisi tubuhnya dan dengan sekuat tenaga, dia mendorong tubuh lelaki itu agar berada jauh. Sofa itu berukuran lumayan besar jadi cukup buat mereka berdua.   “Tuan Leo, bergeser sedikit!” ujar Jeana lagi.   “Astaga!” aduhnya. Leo sudah tertidur lelap dan tidak menyadari apa pun sekarang. Leo berbaring di samping Jeana untuk menambah kenyamanan baginya.   “Tuan Leo,” ujar Jeana sekali lagi. Yang menjadi jawaban adalah suara mengorok dari lelaki itu.   “Ya ampun,” keluh Jeana. Dia tidak punya pilihan sekarang selain tetap di sofa itu dan menunggu Leo memindahkan badanya sendiri. Jeana tidak punya kekuatan untuk mengangkatnya.   Leo secara tiba-tiba memeluk Jeana, membuat bola mata Jeana terbelalak..   “Tuan Leo?” ujarnya lembut.   “Sela,” Leo mengigau.   “Tuan Leo, aku Jeana,” bisik Jeana pelan. Lelaki itu malah mempererat pelukannya.   Jeana menghembuskan nafas. Dia menyesal menonton tv series di sofa ini. Kalo di dalam kamar tidur, dia bisa berlari jika Leo mendekatinya.   Jeana menutup matanya sejenak. Dia sudah lelah seharian kuliah tetapi lelaki ini seenak jidat menghimpit tubuhnya di sofa.   “Cup!” sebuah ciuman mendarat di pipi Jeana. Dia kaget bukan main, kenapa lelaki ini masih saja terus membuatnya kaget.   “Kaget yah?” sahut Leo. Dia lalu membuka mata dan menatap Jeana lekat-lekat. Mata mereka bertemu, bahkan sangat dekat jarak di antara mereka.   “Ahh!” Jeana belari ke kamar sambil memegang pipinya. Dia menutup pintu dengan keras dan menguncinya dari dalam.   “Aku tidak akan masuk kok,” ucap Leo sambil tertawa melihat aksinya.   “Pakaian itu cocok ngak?” sahutnya lagi.   “Aku ingin melihatmu malam ini memakainya,” sambungnya sambil menahan tawa.   “Gila!” teriak Jeana dari dalam kamar.   “Ayolah sayang!” ujarnya lagi. Leo sangat suka mengoda perempuan kecil itu, apalagi jika melihat pipi merah maron Jeana yang mengemaskan.   “Aku kan suamimu sayang,” sahut Leo lagi. Jeana menutup kedua telinganya. Dia tidur tengkurap sambil menyelimuti dirinya.   “Lelaki itu memang kurang sehat otaknya,” batin Jeana lagi.   Leo mencoba mengetuk pintu kamar, tetapi Jeana engan untuk membukanya.   “Aku mau tidur di situ!” sahutnya.   “Kata kamu tidak mau di sini?” seru Jeana lagi tidak mau kalah.   “Tapi itu kamarku Jeana,” Leo mengetuk pintu itu lagi dengan ritme yang cepat.   Dengan sangat hati-hati, dia membuka pintu. Jeana sudah membuat garis pembatasan pada kasur king di dalam kamar berornamen italia itu. Kamar ini adalah milik tuan Leo. Jeana lebih sering tidur di sofa dari pada di kamar ini.   “Aku yang keluar,” sahut Jeana sambil mengambil selimut tebalnya dan melangkah keluar kamar.   “Buat apa?” tanya Leo bingung. Raut wajah khawatir terpancar dari wajah cantik Jeana.   “Owh karena itu?” Ujar Leo memahami maksud Jeana.   “Aku tidak akan menyentuhmu sayang, walaupun kamu istriku!” seru Leo sambil menyenderkan tubuhnya di kasur yang empuk.   “Ini, sudah jelas bukan?” Leo menunjuk batas dari kasur kingnya. Di tengah kasur itu sudah ada batasan antara Jeana dan Leo. Meskipun yang selalu melanggar adalah Jeana.   “Nah, ini lagi,” Leo kemudian menunjuk batasan di kamar itu. Kamar itu memang luas, sehingga ada penanda di mana Jeana bisa duduk dan tidur.   “Bukankah tiap pagi yang memeluk tubuhku dan menjadikan lenganku bantal adalah kamu?” tanya Leo lagi dengan senyuman misteriusnya. Jeana bergeming, dia tidak bisa berkata apa-apa. Semua yang di katakana Leo benar.   “Hmm,”   “Tapi..”   “Kamu kira aku akan menyentuhmu?” potong Leo.   “Ha?” Leo tertawa sehingga lesung pipitnya terlihat jelas dan menambah kadar ketampanannya.   “Jangan pikir hal konyol Jeana Brokas,” ujar Leo lalu berbaring dan menutup tubuhnya dengan selimut.   “Owh yah, papa besok pulang, aku tidak mau papa melihatmu tidur di sofa lagi!” sambung Leo dan dia benar-benar tertidur sekarang.   Jeana berdiri kaku di depan pintu. Tidak ada pilihan baginya sekarang. Kakinya melangkah pelan untuk menaiki kasur king itu. Tubuhnya seketika kaku untuk tidur di samping suaminya. Lebih tepatnya tidur bersama Leo. Lelaki misterius yang menikahi dirinya secepat kilat.   “Serius, aku tidak akan menyentuhmu,” seru Leo lagi.   Jeana menutup matanya, dia terlelap tidur. Dia menjaga posisinya agar tidak melewati batas kebebasan. Seharusnya lelaki itu yang mengalah dan tidur di sofa. Tetapi seorang Leo Vernando tidak akan pernah mengalah. Dia kaku dan keras bahkan sifatnya yang cepat berubah.   Tuan Andra ingin segera punya cucu agar Leo Vernando bisa memiliki semua asset papanya. Tetapi Leo Vernando tidak akan melakukan itu kepada Jeana. Sudah jelas bahwa ini adalah pernikahan dengan jangka waktu tertentu.   Jeana menghembuskan nafas panjang dan berusaha untuk terlelap malam ini. Dia akan meminta maaf kepada kekasihnya itu esok hari dan berani berkata jujur.   ***   Semburat wajah kaku dan dingin dari Leo Vernando menambah kesan kaku di meja makan. Jeana dari subuh sudah bangun dan segera menyediakan teh hangat dan sepiring roti bakar.   Benar saja yang dikatakan Leo tadi malam bahwa Jeana selalu melanggar batas kebebasan. Dia tertidur sambil memeluk lelaki itu. Jeana mengira bahwa tubuh itu adalah bantal guling miliknya.   “Aduh!” pipinya memerah membayangkan kejadian itu. Leo bahkan tidak mengucapkan satu kata pun hari ini. Jelas Jeana sangat malu menyadari kesalahanya.   “Sudah makan Jeana?” tanya tuan Andra. Jeana mengangguk sambil tersenyum.   “Pagi ini kamu bersama suamimu yah ke kantor, lagi libur kan?” sambung tuan Andra.   “Ia tuan,” jawab Jeana. Dia menyeruput cokelat hangat kesukaanya.   “Jangan pangil tuan, panggil papa,” seru tuan Andra sambil mengeja kata papa.   “Ia p-papa,” ucap Jeana. Leo hanya terdiam, dia sama sekali tidak bersuara bahkan sama sekali tidak tersenyum hari ini. Manusia kanebo itu selalu melakukan kebiasaanya di pagi hari seperti ini.   “Sudah ada garis dua?” tuan Andra menatap Jeana intens.   “Maksudnya papa?”   “Ya maksud papa, hamil!” tegas tuan Andra.   “Huakk,” Leo menelan teh hangat itu lalu menyemburnya di atas roti panggang yang terletak di depannya. Bibi Oliv tertawa namun berusaha di tahannya saat melihat kejadian itu. Sedangkan mata Jeana terbelalak mendegarkan kata hamil.   “Ya hamil, papa mau punya cucu,” sambung tuan Andra.   “Owh Tuhan!” batin Jeana.   Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN