Bab.12 Tidak Ingin Punya Anak

991 Kata
  “Hamil Pa?” ujar Leo lagi. Tuan andra menganggukan kepala sembari memandangi wajah anak semata wayangnya itu.   “Kemarin papa keluar negeri dan melihat teman-teman papa sudah punya cucu,”   “Papa rasanya mau juga,” ucap tuan Andra sambil tersenyum ramah ke arah Jeana. Jeana menelan ludahnya segera. Serasa ada bongkahan besar yang terpaksa ditelannya bulat-bulat.   “Kami masih mau pacaran Papa!” seru Leo. Dia mengarahkan pandangan ke Jeana dan tersenyum manis seraya mengengam tangan istrinya itu.   “Bukan menunda, tetapi aku masih mau pacaran dengan Jeana,” serunya lagi. Leo kemudian mengecup pundak tangan Jeana. Jeana membulatkan mata memandanginya dengan kening berkerut. Lelaki itu memang sudah tidak waras. Tetapi dia adalah aktor terhebat yang bisa mengkelabuhi papanya saat ini. Pantas saja banyak tawaran untuk bermain film karena bakat tersembunyinya ini, tetapi semua ditolak Leo.   “Hmm,”   “Aku rasa itu tergantung kalian sekarang, papa tidak bisa melarang kalo begitu,” ucap tuan Andra. Jeana tersenyum kaku, dia agak ragu untuk berbicara karena Leo yang punya andil di keluarga ini.   Rumah Leo terletak di pinggir jalan kota Moskow, seharusnya suasana musim gugur membuat Jeana bahagia, karena dia sangat menyukai dedaunan yang bertebaran di pinggir jalan. Jeana selalu memungut daun kering yang berwarna jingga dan meletakkan di sampul buku sebagai pembatas. Tetapi semenjak berumur 20 tahun lebih, dia sudah tidak melakukan itu.   Rebeca selalu mengatakan bahwa itu hal aneh yang dilakukan anak berumur 20 tahun seperti Jeana. Tetapi sampai saat ini, Jeana masih sesekali mengambil dedaunan dan menatapnya agak lama. Kadang juga Jeana menyimpannya di saku tas.   “Aku tidak mau yah, punya anak denganmu,” seru Leo. Mereka sedang duduk di atas mobil menuju kantor. Hari ini, Jeana memakai gaun berwarna crem soft dengan aksen mutiara di bagian leher.   “Hmm,” desah Jeana.   “Aku sama sekali belum siap,” sahut Leo lagi. Jeana tidak memandang lelaki itu. Matanya fokus melihat tumpukan daun berwarna jingga yang bertebaran karena di sapu angin. Mata lentiknya selalu fokus menikmati keindahan alam kota Moskow.   “Kamu dengar aku tidak?” bentak Leo Tanganya di letakan di wajah Jeana dan menarik wajah perempuan itu di hadapannya.   “Ia, aku paham,” seru Jeana sambil merintih kesakitan. Jeana menutup matanya segera, dia tidak ingin melihat mata elang Leo yang menusuk tajam dan berada persis di depan bola matanya.   Leo segera melepas tanganya dari pipi gadis itu. Sebuah tanda merah tergores di pipi Jeana. Jeana hanya mengusap pipinya dan segera memalingkan wajahnya ke arah jendela lagi. Jika musim dingin, Jeana suka bermain salju di depan area rumah kayunya dulu di Inggris. Sekarang dia menetap bersama Leo dan menikmati suara gemericik ranting pohon yang tersapu angin di rumah barunya di Moskow.   Mereka sampai di sebuah gedung pencakar langit. Dengan sangat hati-hati, Leo mengamati lokasinya sekarang. Leo akan waspada dari kejaran wartawan yang akan mengambil gambarnya. Leo bisa sangat malu jika ketahuan sudah menikah dengan Jeana. Gadis lusuh yang tidak terlalu menarik di mata orang banyak.   “Sudah aman Robert?” tanyanya. Robert memberikan kode melalui tanganya dan membuka pintu mobil.   Jeana turun dengan sangat pelan, dia memakai heels setinggi 3 cm sekarang. Jeana berjalan berdampingan dengan Leo memasuki lobi perusahaan. Beberapa resepsionis segera berdiri sesaat Leo menunjukan batang hidungnya.   Aura maskulin sangat terasa jika bersama Leo. Wangi parfum yang semerbak dengan sepatu pentopel yang mengkilat serta jas hitam yang mahal.   Jeana menundukan kepala, dia menjadi pusat perhatian sekarang. Baru kali ini dia memakai baju resmi untuk datang bersama Leo. Sebelumnya, dia sudah mengikuti lelaki itu ke kantor Brawijaya Group dengan mengikat rambutnya model kuncir kuda.   “Nona Jeana, apa kabar?” salah satu perempuan muda menghampiri Jeana. Jeana berdiri kaku di samping Leo. Dia hanya menundukan pandangan ke bawah tetapi perempuan muda ini segera menghampirinya.   “Saya asisten pribadi anda nantinya,” ucap perempuan itu lagi.   “Saya Lily Ametson, senang bekerja sama dengan anda nona Jeana,” sambung perempuan itu sembari menyalami Jeana.   Jeana mengerutkan kening menatap Leo yang berdiri di sampingnya, dia menanti jawaban lelaki itu. Dengan pandangan dingin, Leo menatap Jeana tanpa berkata apa pun.   “Kamu mau kan kerja sebagai profesi Psikolog, ini yang akan bantu kamu,” jelas Leo. Perempuan muda bernama Lily lalu masuk ke ruagan kerjanya kembali sedangkan Leo dan Jeana masuk ke lift khusus petinggi perusahaan.   “Aku tidak paham Leo, maksudnya bagaimana?” tanya Jeana mengikuti langkah kaki lelaki itu.   “Aku akan membiyai kuliahmu sampai tahap profesi, dan Lily adalah tamatan dari Kanada dan merupakan Psikolog terhebat!” jelas Leo singkat. Leo lalu membuka pintu ruangan kerjanya dan duduk di kursi kerjanya. Jeana berdiri kaku di depannya sambil memandang dengan tatapan heran lelaki itu.   “Aku membantumu agar cepat selesai kuliah dan akan dibantu Lily,” sambung Leo lagi. Leo lalu mengambil dua lembar kertas dari map kuning miliknya.   “Aku ingin menjadikanmu orang berharga di mata saudara-saudaramu Jeana Brokas,” seru Leo dan segera mengetik beberapa kata di laptop kerjanya. Jeana menghembuskan nafas menatap dari jauh lelaki itu. Leo adalah lelaki misterius yang pernah ditemuinya.   “Nona Jeana, bunga ini, saya letakkan di mana?” sahut Robert yang segera masuk ke ruangan Leo.   “Dari mana Robert?” tanya Jeana terheran.   “Tuan Leo yang memesannya tadi pagi,” sahut Robert lalu meletakkan bunga tulip itu di samping Jeana.   "Kenapa kamu mengirimkan aku bunga?" seru Jeana sambil mengangkat bunga tulip itu dan memperlihatkan kepada Leo.   "Aku ingin membuatmu bahagia, apa salah?" Leo tidak mau kalah. Dia lalu berdiri dari meja kerjanya dan menghampiri Jeana yang duduk manis di kursi sofa yang biasa digunakan untuk menyambut klien.   Leo mendekatkan wajahnya, sebuah senyuman terpancar dari bibirnya. Dia menikmati wajah Jeana yang menutup mata di depannya.   "Jeana Brokas?" serunya lirih. Jeana tetap menutup matanya, deruh nafas sangat terasa mengelitiki Jeana. Tengorokanya mendadak kering. Serasa seluruh tubuhnya tiba-tiba tersengat listrik akibat bisikan Leo di telinganya.   Jeana mencoba membuka matanya. Leo lalu menatap wajahnya dengan senyuman penuh misterius.   “Kenapa perasaanku jadi tidak enak?” batin Jeana.   Bersambung…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN