Leo mendekatkan bibirnya, Jeana memundurkan wajahnya segera. Dia yakin bahwa lelaki tidak waras itu akan melakukan hal yang membuatnya akan menyesal pagi ini.
Aroma maskulin dari Leo begitu menusuk hidung Jeana. Lelaki itu selalu memiliki daya pikat yang kuat. Bunyi deru nafas yang semakin mendekat membuat Jeana mengerutkan keningnya dan menghindari tubuh lelaki itu.
Namun tangan kekar Leo sudah memegang bahunya sehingga Jeana sulit untuk bergerak.
“Aku tidak akan menciummu, berpura-purahlah seperti ini!” bisik Leo. Bisikan lembut di telinga Jeana membuat bulu kuduk perempuan itu berdiri.
“Apa maksud tuan?” Jeana terbata-bata sedikit ketakutan. Leo melihat kearah samping kiri dan kanan ruanganya lalu mendekatkan bibirnya lagi ke telinga perempuan itu.
“Bantu aku untuk hari ini!” bisiknya dan tetap mendekatkan wajahnya dihadapan Jeana, sehingga siapa pun yang masuk ke ruangan Leo, akan mengira mereka sedang berciuman.
“Tapi jangan terlalu dekat, aku risih,” aduh Jeana.
“Sebentar saja Jeana Brokas!” tatapan mata tajam begitu menyihir Jeana sejenak. Dia terdiam sejenak dan mengikuti alur permainan lelaki di depannya.
“Apa yang mau dia lakukan?” batin Jeana.
Tanpa sadar, Jeana menimati setiap sudut lekukan wajah Leo yang tampan.
“Sayang!”
“Apa yang sedang kalian lakukan di ruangan ini, ah?” Sela yang masuk tiba-tiba, kaget dengan posisi Jeana dan Leo. Mereka terlihat sangat berantakan bahkan kancing baju Jeana dan Leo yang masing-masing sudah terbuka.
“Leo Vernando!” Mata Sela menatap tajam lelaki itu.
“Sela, ini tidak seperti..”
“Cukup!” potong Sela. Dia kemudian berlari keluar ruangan dan menyeka bulir air mata yang berusaha ditahannya.
Sebuah senyuman tersirat dari bibir Leo membuat Jeana mengelengkan kepala menatap lelaki itu.
“Benar-benar tidak normal,” ucap Jeana memandang Leo yang tersenyum di depannya.
***
Alfin menunggu Jeana dengan perasaan gusar karena perempuan itu sudah dua hari tidak menelfonnya. Jeana tidak pernah seperti ini, apalagi terakhir kali dia melihat Jeana dijemput paksa lelaki berjas hitam yang misterius.
“Apakah dia terlibat mafia?” batin Alfin lagi. Alfin semenjak pulang dari Inggri dan mengejar Jeana sampai di Moskow, dia sudah berhadapan dengan beberapa mafia yang ingin menculiknya. Tetapi Alfin adalah orang yang cerdas, dia punya sejuta akal untuk menghindar dari kejaran mereka.
“Jeana, tolong angkat!” serunya. Pangilan telefon itu tidak pernah tersambung. Alfin semakin menaroh curiga kepada gadis itu.
Tetapi Alfin tahu bahwa Jeana gadis baik-baik dan tidak mungkin terlibat kasus mafia. Jeana gadis pemalu dan manja. Dia selalu menghandalkan Alfin dan menelefon Alfin tiap saat sejak Alfin mengurus thesisnya di London. Alfin bahkan rela berpindah ke Moskow untuk mengejar Jeana dan menjaganya.
“Angkat Jeana!” serunya. Ini sudah kelima kalinya dia menghubungi kekasihnya itu.
“Aku tidak akan memaafkan diriku jika sesuatu terjadi padanya,” batinnya. Alfin bergegas menuju kelas Rebeca dan menemui perempuan berambut ikal itu.
Sebuah senyuman teruntai indah dari wajah manis Rebeca. Dia tahu bahwa lelaki tampan yang menghampirinya dengan wajah panik itu pasti sedang mencari Jeana.
“Tumben,” sahut Rebeca.
“Tumben Alfin, ada apa?” tanya Rebeca basa-basi.
“Katakan apa yang terjadi pada Jeana?”
“Sekarang!” sahutnya tegas sambil mengarahkan pandangan tajam ke Rebeca.
“Owh itu,”
“Apa Rebeca?” potong Alfin. Alfin merasa mereka menutupi sesuatu.
“Kamu hubungi saja dia, dia ada di taman kota sekarang,” sahut Rebeca santai lalu meninggalkan Alfin. Terakhir kali Jeana mengirimkan chat pada Rebeca dan mengatakan bahwa Leo Vernando membawahnya ke taman kota untuk jalan-jalan.
Tanpa aba-aba, Alfin lalu berlari masuk ke dalam mobilnya dan menancap gas. Dia kali ini menyetir dengan sangat kencang. Pikiranya hanya berpusat kepada kekasihnya itu, Jeana.
***
Jeana menatap pohon besar yang berada di samping tempat duduknya. Pohon itu hanya menyisihkan ranting tanpa dedaunan. Warna jingga kesukaanya sangat khas dari warna daun maple yang berserakan di taman ini. Beberapa petugas kebersihan melakukan tugasnya, mereka menumpuk dedaunan di satu tempat di sudut taman.
Bagi Jeana, menikmati daun maple yang berwarna jingga memberikan kedamaian baginya. Mesti tatapan sinis dari lelaki dingin selalu mengintainya.
Leo menemani perempuan itu untuk menikmati taman terindah di kota Moskow, baru saja turun dari mobil, perempuan itu seperti kelinci yang lepas dari kandangnya.
Secepat kilat Jeana turun dari mobil dan melompat-lompat menghamburkan dedaunan maple yang berserakan.
Tawa dan senyuman berhasil terukir dari wajah kaku nan dingin Leo Vernando. Tingkah Jeana dihadapanya sangat mirip anak kecil yang baru mendapatkan mainan. Sangat lucu.
“Selain aneh, kamu juga agak berbeda yah dari manusia normal,” ucap Leo. Lelaki itu lebih memilih duduk di samping pohon besar yang lengkap dengan kursi kayu dibandingkan mengikuti Jeana yang lincah berlarian kesana-kemari.
Angin musim gugur yang menusuk kulit membuat Leo merapatkan mantel hitamnya. Dia mencoba merekam aksi Jeana yang asik menabur daun maple yang kering.
“Kamu seperti anak kecil,” sahut Leo lagi sambil merekam tawa gadis itu melalui ponsel pintarnya.
Jeana tidak mengubris, dia lebih menikmati kesukaanya sekarang. Berada ditumpukan daun maple yang menutupi sebagian kakinya. Jeana bahkan duduk di tengah-tengah dan membiarkan dedaunan itu menutupi seluruh badannya.
“Setelah ini jangan lupa mandi!” sahut Leo lagi. Dia masih asik merekam Jeana dengan segala tingkah mengemaskanya.
Di ujung sana, mata Alfin menangkap sosok Jeana. Dia memilih menepi sejenak dan memperhatiakan Jeana dari kejauhan. Perempuan itu tidak bersedih atau kah ketakutan. Jeana malah terlihat sangat menikmati hidup.
Sorot mata Alfin menangkap lelaki tinggi besar dengan mantel hitam sedang tersenyum memandangi kekasihnya.
Lelaki itu bukan saudara Jeana, Jeana tidak punya teman lelaki selain dirinya. Lelaki itu tampak sangat akrab dan begitu terlihat memperhatikan Jeana.
“Siapa dia?” batin Alfin.
Hati Alfin serasa tercabik melihat tatapan lelaki itu. Lelaki itu menatap Jeana dengan cara pandang yang berbeda.
Hanya Alfin yang bisa menatap penuh sayang kepada Jeana. Hanya Alfin yang bisa memiliki Jeana, lelaki mana pun tidak bisa merebut posisinya.
“b******k!” Alfin mengepal tanganya sehingga uratnya terlihat jelas. Wajahnya memerah menahan amarah. Alfin sudah sangat lama menjaga Jeana. Tidak seorang pun bisa merebut Jeana darinya.
Bersambung…