“Lepaskan aku!” jerit Jeana. Dia memukul lengan Leo yang mengendongnya saat turun dari mobil. “Aku bilang mau pergi!” ujarnya. “Cup!” kecupan di kening berhasil membuat Jeana terdiam sejenak dan menatap ornament wajah Leo yang semakin mendekat ke wajahnya. “Kenapa menatapku?” tanya Leo. Perempuan itu tiba-tiba terdiam dan sama sekali tidak memberontak. Dia melihat wajah Jeana secara dekat. Hanya beberapa sentimeter hidung mereka akan bersentuhan. “Kenapa pipimu selalu memerah jika aku cium?” tanya Leo dengan ekspresi dingin. “Apakah kamu semacam amuba, bisa berubah-ubah?” tanyanya lagi. Jeana menggelengkan kepala. “Turun!” perintah Leo. “Kamu sangat menikmati gendonganku, yah!” godannya. Jeana terdiam, sakit hatinya tidak akan terobati hanya karena Leo menjemputnya s

