Leo terbangun dari tidurnya. Dia membuka mata secara perlahan dan memperbaiki posisi duduknya. “Selimut?” serunya. Leo sama sekali tidak sempat mengambil selimut di kamar tadi malam. Dia tidur di sofa karena istrinya-Jeana- mengusirnya dari kamar. “Kenapa selimut ada di sini?” batinnya. Dia merengangkan otot-ototnya dan berdiri lalu berjalan menuju meja makan. Sepiring roti goreng tersajikan di meja makan. Leo mengerutkan kening sejenak dan berpikir. “Siapa yang pagi-pagi menyediakan ini untuknya?” batinnya. Leo mengambil sebuah kartu hitam yang tertulisan kata maaf bertinta emas. Leo menyungingkan senyum dan duduk di kursi makan itu. Dia sesekali tersenyum sambil mengunyah sarapannya hari ini. “Dia manis juga,” serunya sambil tersenyum lagi. Jeana selalu bertingkah lay

