Six - Kiss It Off Me

1987 Kata
Ara berdiri didepan pintu sambil menekan bel beberapa kali. Ntah apa yang dilakukan Evan didalam sana. Intinya, Ara terpaksa harus menanti Evan cukup lama untuk membukakannya pintu. Menekan tombol untuk yang ketujuh kali dan pintu terbuka. Evan masih mengenakan kaos tidur dan celana pendek. Rambutnya masih berantakan dan matanya masih sayu. Menatap Ara sambil tersenyum. Ara mendorong Evan agar lelaki itu tak menghalangi jalannya. Meletakan paper bag berisi makan siang, soup, ayam goreng, dan rica-rica ikan. Ara sudah yakin Evan pasti belum makan. Lelaki itu bahkan sepertinya baru saja bangun. Terbukti dengan mata yang masih sangat mengantuk. Ara mengeluarkan isi paper bag. Meletakannya diatas meja. Menata makanan itu agar terlihat rapi. Kemudian, membuka tutupnya agar aroma tercium memenuhi ruangan. Evan memeluk Ara dari belakang. Meletakan kepalanya dibahu wanita itu. Matanya lengket sekali tidak mau terbuka. Semalam dia pesta bersama teman-temannya hingga pulang dini hari dalam keadaan mabuk. "Ara, mengantuk sekali rasanya. Kepalaku berat." Ara menghela nafasnya. "Salahmu sendiri kenapa pulang hingga dini hari. Dalam keadaan mabuk pula." Ara memutar tubunya setelah menyelesaikan menyiapkan makan siang untuk Evan. Memeluk lelaki itu. Mengusap kepala lelaki yang lebih tinggi darinya. "Mandi lalu makan siang. Setelah itu kepalamu tidak akan pusing lagi." Evan enggan melepaskan pelukannya. Bahkan mendorong Ara hingga mereka berdua jatuh diatas sofa. "Astaga, Evan, apa kamu gila?" Ara kesal sekali. Dia kaget saat Evan mendorongnya hingga terjatuh. "Mau memandikan aku tidak?" Evan mengusak leher Ara. Sepertinya wanita itu mengganti parfumnya. Sudah tidak beraroma manis lagi. Kini aromanya segar seperti buah-buahan. "Tidak. Aku sudah mandi. Lagipula aku mau bertemu Aldric setelah ini. Aku hanya mampir sebentar saja." Evan semakin mengeratkan pelukannya. Kesal saat mendengar nama Aldric disebut. Menyebalkan sekali Ara ini. "Tidak boleh kemana-mana. Denganku saja disini, ya?" Ara menggeleng. "Tidak, aku harus pergi menemaninya membeli sesuatu." Evan menghela nafasnya. "Cepat mandi. Aku sudah menyiapkan makanan untukmu." Setelahnya Evan bangkit dan berjalan menuju kamarnya untuk mandi. Ara tidak ada kelas hari ini. Berjanjian dengan Aldric akan bertemu nanti pukul lima sore. Ara akan menemani Aldric membeli sesuatu. Lelaki itu juga tidak menyebutkan apa. Dia hanya menurut saja. Sebelum bertemu dengan Aldric, dia sempatkan sebentar mengunjungi Evan. Ara menelpon lelaki itu beberapa kali dan tidak ada jawaban. Jadi, Ara mengasumsikan lelaki itu masih tidur. Juga semalam mengatakan pada Ara akan party dengan teman-temannya. Sekalian Ara membawakan makan siang. Tidak ada salahnya baik dengan teman, bukan? Mereka kan teman. Teman yang saling menguntungkan. Istilahnya friend with benefit. Ara bermain ponselnya sebentar. Menggulir layar ponsel dengan jarinya. Melihat sebentar isi sosial media yang dis miliki. Menunggu hingga Evan selesai membersihkan diri. Tak berselang lama Evan keluar dari kamar. Kaos dan celanannya sudah berubah. Walaupun masih bentuk yang sama. Kaos rumah dan celana pendek. Style rumah kesukaan lelaki itu. Rambut Evan masih basah. Wajahnya terlihat lebih segar daripada tadi. Menatap Ara yang kini tengah bermain dengan ponselnya. "Ara?" Panggil Evan. "Uhm?" Hanya menjawab begitu saja. "Ayo, temani aku makan siang," Ara menatap Evan sekilas. Meletakan ponselnya diatas meja ruang tengah Evan. Duduk disalah satu kursi makan milik Evan. Berhadapan dengan lelaki itu. Evan tersenyum setelah mencium aroma makanan yang dibawa Ara. Dia tidak sempat sarapan karena masih tidur. Jadi, perutnya lapar sekali. Beruntung Ara membawakannya makan siang. "Kamu mau?" Evan menawari Ara yang kini tengah menatapnya. Wanita itu menggeleng. "Aku sudah makan. Kamu saja. Habiskan semuanya." Evan mengangguk. Memulai makan siang dengan ayam goreng terlebih terlebih dahulu. "Semalam minum berapa botol?" Ara bertanya kepada Evan. "Uhm, mungkin enam atau tujuh botol." Ara terkejut. "Kamu mau mati?" Mendadak wanita itu berteriak. "Lalu siapa yang mengantarmu pulang?" Evan masih tenang saja melanjutkan makan siangnya tanpa terganggu dengan teriakan Ara. Dalam hati dia senang, wanita itu memperdulikannya. Terbukti dengan saat ini tengah mengomelinya. Membuatnya gemas. Mengendikan bahunya. "Tidak tahu." Ara membulatkan matanya. "Bodoh sekali, Evan Adinata. Jika terjadi sesuatu denganmu bagaimana. Jika ada yang menyakitimu, mencuri barang-barangmu, membunuhmu, bagaimana, huh?" Evan tersenyum saja melihat Ara mengomel sejak tadi. "Tapi, aku selamat. Barangku tidak ada yang hilang. Dompet dan ponsel aman." Ara menggeleng. "Terserah." Evan menyentuh tangan Ara lembut. Mengusap jemari wanita itu. "Kamu mengkhawatirkanku?" Tanya Evan hati-hati. Ara menaikan sebelah alisnya. "Jangan terbawa perasaan. Aku hanya tidak ingin kamu kenapa-kenapa." Jawab Ara tanpa mau menatap kedua mata Evan. Baiklah, wanita ini tidak mau mengakuinya. Evan melanjutkan makannya. "Ara, aaakkk" Menyuapi Ara dengan jjajangmyeon. "Enak,kan?" Ara mengangguk sambil mengunyah makanan yang ada dimulutnya. "Mau lagi?" Ara menggeleng. "Habiskan semua. Aku membawanya untukmu." Setelah itu Ara bangkit dari duduknya. Membuka kulkas dan membuka botol berisi jus apel. Meminumnya langsung dari botolnya. Ara teralalu sering mengunjungi Apartemen Evan. Hingga berperilaku seolah apartemen ini miliknya. Tapi, Evan tak pernah keberatan. Bahkan dia tak masalah jika Ara tinggal bersamanya disini selamanya. Ara meninggalkan Evan dan kembali ke ruang tengah, mengambil ponselnya. Ada pesan dari Aldric. Pesan biasa seperti menanyakan sudah makan atau belum. Pertanyaan khas orang berpacaran pada umumnya. Perhatian Ara beralih pada sebuah piano yang letaknya tak jauh dari tempatnya berdiri. Ara tahu ada piano disini, tapi baru benar-benar mengamatinya sekarang. Evan pandai sekali bermain musik. Setelah ini Ara akan meminta lelaki itu memainkan satu lagu untuknya. Evan sudah selesai. Hanya memakan soup dan beberapa potong ayam saja. Sudah cukup kenyang rasanya. Lelaki itu berjalan menghampiri Ara yang tengah menatap piano miliknya. Dia tersenyum melihat Ara. "Evan," Ara menyadari kehadirannya. Padahal wanita itu masih menghadap piano. Belum melihat dirinya datang dan sudah langsung memanggil namanya. "Mainkan sebuah lagu untukku," Evan mengangguk. Menarik kursi yang dipersiapkan memang untuk bermain piano. "Duduk sini," Evan meminta Ara duduk disampingnya. "Bagaimana jika When We Were Young?" Ara mengangguk saja. Seungyoun mulai menekan tuts piano itu. Ara mengamati jemari Evan yang sangat ahli bermain disana. Membuat Ara terkagum-kagum. Evan memang gemar sekali bermain musik dan membuat lagu. Jadi, tidak heran saat tangannya bermain diatas tuts piano dengan begitu lihainya. Lelaki itu mulai bernyanyi. "Everybody loves the things you do," Evan menyanyi sambil memejamkan kedua matanya. Mencoba merasakan musik yang dia mainkan sendiri. "From the way you talk," Ara menatap Evan dalam. Ntah, mengapa jantungnya menjadi berdebar. "To the way you move," Evan masih terus melanjutkan nyanyian beserta iringan pianonya. "Everybody here is watching you" Ara terus memandang Evan. Lelaki ini memang pandai sekali dalam hal bermusik. "Cause you feel like home You're like a dream come true But if by chance you're here alone Can I have a moment Before I go? 'Cause I've been by myself all night long Hoping you're someone I used to know" Evan melirik Ara tepat saat wanita itu tengah menatapnya. Mata mereka tak sengaja bertemu. Membuat Evan takjub. Ara tak pernah memandangnya seperti itu. Tapi, dia kembali melanjutkan nyanyiannya. "You look like a movie You sound like a song My God, this reminds me Of when we were young" Ara berteriak dalam hati. Kenapa Evan harus semenakjubkan ini. Bagaimana dia mencintai Evan, nanti? "Let me photograph you in this light In case it is the last time That we might be exactly like we were Before we realized We were sad of getting old It made us restless It was just like a movie It was just like a song" Nyanyian Evan berhenti. Ara tersenyum kemudian bertepuk tangan. "Sejak kapan kamu bisa bernyanyi sekeren ini? Kenapa aku tidak tahu?" Evan menatap Ara takjub. Lelaki itu hanya diam saja sambil terus menatap Ara. Kemudian tiba-tiba menyentuh pipi Ara. Menyatukan bibir mereka. Wanita itu bingung, tapi kemudian membalas ciuman yang Evan berikan. Membiarkan bibir mereka saling bertautan. Kemudian Ara melepas ciuman itu karena merasa kehabisan nafas. "Kenapa, sih?" Ara bingung sekali. Dia bahkan tidak melakukan apa-apa. Evan tiba-tiba menciumnya. Bukankah seharusnya dia yang mencium lelaki itu karena kagum. Kenapa berkebalikan. "Aku hanya gemas saja melihatmu. Kenapa kamu semenggemaskan ini sih?" Evan tersenyum. Mengusak rambut Ara lembut. "Ara, aku menyesal tidak bertemu denganmu lebih dulu." Ara tidak suka pembahasan seperti ini. Sungguh, dia tidak suka saat Evan mengatakan betapa menyesalnya dia tidak bertemu Ara lebih dulu. "Evan, sudah. Jangan bahas itu lagi." Evan menyerah, baiklah. Jadi, dia diam saja menunduk. Memandangi tuts piano yang baru saja berhenti dimainkannya. "Kenapa kamu selalu menyesal? Apa bersamaku saja tidak cukup? Apa harus juga memilikiku?" Evan diam saja. Enggan menjawab. Lagipula dia tidak tahu harus merangkai kata seperti apa agar Ara memahami perasaannya. Dia ingin memiliki Ara, itu yang dia harapkan selama ini. Ara menyentuh pipi Evan. Menatap mata itu dari jarak dekat. "Tak perlu memilikiku jika kamu bisa bersamaku terus menerus." Evan diam saja memandang mata berbinar milik wanita itu. Kemudian mengangguk pasrah. Ara memeluk Evan. Mengusap rambut yang masih belum kering sepenuhnya karena sehabis mandi sekitar lima belas menit yang lalu. Membiarkan lelaki itu menyenderkan kepala di bahunya. "Evan, aku ngantuk. Apa aku boleh tidur di kamarmu?" Evan mengangguk. "Aku akan menemanimu tidur." Ara mengangguk. Kemudian mereka berjalan meninggalkan piano menuju kamar Evan. Ara sengaja melepas pakaiannya dan celana jeans yang dikenakannya. Hanya menyisakan tanktop beserta c*****************a itu. Selain merasa tak nyaman, Ara juga takut bajunya menjadi lusuh. Bisa-bisa Aldric curiga. Evan sudah biasa melihat Ara seperti ini. Tapi, walaupun sudah biasa. Tak membuat lelaki itu lekas biasa saja. Dia tetap merasakan gelenyar aneh yang ntah dirasakan Ara juga atau tidak. Ara masuk ke dalam selimut bersama Evan. Nyaman sekali rasanya kembali merebahkan diri dikasur kingsize milik lelaki itu. Bukan karena kasur Ara tidak seperti ini. Kasur miliknya hampir serupa. Tapi, dikasurnya tidak ada Evan. Suasananya terasa berbeda. "Evan, lepas saja kaosmu. Aku ingin memainkan tatomu," Evan tersenyum, melepaskan kaos yang dikenakannya. Kemudian melempar kaos itu ke sembarang tempat. Ara memposisikan kepalanya diperut sixpack milik lelaki itu. Bermain diatas tato pistol lelaki itu. Ara juga mengusap-ngusap tato emotikon yang ada dipergelangan tangan Evan. "Kamu senang sekali bermain diatas tatoku," Ara mengangguk. "Gemas. Dan semua tatomu memiliki arti. Aku suka," Evan mengangguk. Memang semua tato yang dia miliki memiliki arti. Intinya tato yang ada ditubuhnya tidak serta-merta hanya karena dia suka dengan bentuknya. Tapi, karena ada artinya. "Bukankah Aldric juga memiliki tato dipunggungnya? Apa kamu juga senang memainkannya?" Evan jadi penasaran. Ara pernah bercerita kekasihnya itu memiliki tato ditubuhnya juga. Berbentuk kompas dan naga kalo tidak salah. "Uhm, tapi aku biasa saja. Terlebih tatonya ada dipunggung. Jika aku memainkannya berarti dia harus membelakangiku. Terlebih Aldric jarang shirtless didepanku." Evan diam saja. Sibuk memainkan rambut panjang Ara. Wanita itu juga sibuk memainkan tato miliknya. "Sudah. Aku mau tidur." Ara mensejajarkan dirinya disamping Evan. Kemudian menyenderkan kepalanya didada bidang lelaki itu. Nyaman sekali rasanya bisa tidur dengan Evan seperti ini. Evan mengecup bibir Ara, kemudian pipi, kening, dan hidung. Ara masih dalam keadaan setengah sadar. Pasrah saja, toh dia menyukainya. Bibir Evan dan kecupannya benar-benar gila. Evan menarik tangan Ara dengan perlahan. Mengecup jemari-jemari wanita itu satu persatu. Dimulai dari ibu jari hingga kelingking. Tak ada yang luput dikecup oleh Evan. Kini lelaki itu beralih menuju pergelangan tangan Ara. Mengecup pergelangan tangan itu. Kemudian menghisap pergelangan tangan itu hingga menimbulkan hickey yang cukup terlihat. Evan mengusap sisa hisapannya sambil tersenyum. Senang bisa membuat tanda kepemilikan ditubuh Ara. Walaupun, dia belum bisa memiliki Ara dalam artian sebenarnya. *** Ara menggeliat kecil. Evan masih tertidur sambil memeluknya. Wajah lelaki itu damai sekali. Membuatnya gemas, ingin mengecup seluruh permukaan wajahnya. Ara melirik jam yang tergantung di dinding Evan. Masih pukul empat sore. Ara masih ada waktu sebentar. Dia mau mengamati wajah damai Evan saat tertidur begini. Memainkan jemari telunjuknya diatas pipi Evan. Membentuk gerakan memutar dengan sangat perlahan. Lalu beralih menuju bibir Evan yang kering. Ara ingin mencium bibir itu. Membasahi dengan salivanya. Tapi, dia takut akan membangunkan Evan. Evan membuka matanya. Hal pertama yang dilihatnya adalah mata berbinar berwarna cokelat milik Ara. Lagi-lagi Evan hanya bisa diam menatap mata itu. Kemudian Ara tersenyum, membuatnya sadar. "Kenapa menatapku?" Evan jadi malu. Dia tidak menjawab, melainkan menggesekan hidungnya dengan hidung milik Ara. "Tidak, hanya senang rasanya melihatmu menatapku juga." Ara terkekeh. Kemudian jemarinya menyapu bibir kering Evan dengan ibu jarinya. "Pakai lipbalm agar bibirmu tidak kering. Bisa berdarah dan perih kalau dibiarkan," Evan menggeleng. "Untuk apa memakai lipbalm jika kita memiliki saliva?" Evan menjeda dialognya. "Aku bahkan juga memiliki salivamu juga," Evan mendekatkan bibirnya ke bibir Ara. Kemudian menyapu bibir itu dengan lidahnya. Ara memejamkan matanya menikmati lidah Evan yang bergerak diatas permukaan bibirnya. Saat berhenti, Ara langsung membuka matanya. "Aku akan mencoba membasahi bibirmu kalau begitu," Evan tersenyum untuk kesekian kalinya. "Tentu, silahkan" Evan diam saja. Bahkan menikmati saat lidah milik Ara menyapu bibirnya. Membuatnya merasakan lembab disekitar bibirnya. Astaga, lidah mungil itu memang sangat lihai. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN