Prolog
Evan mencium bibir wanita itu. Menjilat bibir atas dan bawahnya. Kemudian menggigit bibir ranum berwarna merah yang serupa zat adiktif untuknya. Menyesap bibir itu dengan gemasnya. Kemudian memasukan lidahnya berniat berperang dengan lidah milik wanita itu.
Jemari wanita itu meremas rambut Evan. Tak tahan dengan ciuman memabukan yang membuatnya gila ini. Lidah Evan sangat lihai bermain didalam mulutnya. Terbukti dengan saliva yang menetes hingga lehernya.
Tangan Evan memeluk pinggang wanita itu erat. Merapatkan dengan tubuhnya agar tubuh mereka tak berjarak. Diusapnya pinggang yang masih terbalut celana jeans milik wanita itu.
Ara mendorong tubuh Evan. Nafasnya terengah-engah. Benang saliva mereka terhubung. Tak ada yang berniat memutus. Biar saja. Barangkali setelah ini bibir mereka akan menyatu lagi.
"Tunggu, beri aku waktu untuk bernafas dulu. Kenapa nafasmu panjang sekali, sih?" Ara mengomel. Heran sekali kenapa nafas Evan kuat sekali. Mereka berciuman sekitar tiga menit. Nafas Ara sudah terengah sedangkan Evan masih baik-baik saja.
"Itu karena aku selalu berolahraga." Evan menyatukan dahinya dengan dahi Ara. Menatap wanita yang jauh lebih pendek darinya dengan jelas. "Sudah cukup bernafasnya?" Tanya Evan. Ara mengangguk.
Mereka kembali berciuman lagi. Kali ini Ara mendorong tubuh Evan agar terjatuh diatas ranjang. Berdiri sambil menyesuaikan tinggi badan Evan sangat menyusahkan. Lelah harus berjinjit terus.
Evan jatuh diatas ranjang. Dengan Ara yang kini sedang berada diatas perut berototnya. Ciuman mereka sama sekali tidak terlepas. Terbukti hingga saat ini bibir mereka masih saling bertautan.
Ara menggigit bibir Evan gemas. Meremas rambut lelaki itu lagi. Ara mendesah tertahan. Membuat Evan yang semula kalem berubah menjadi liar. Dibaliknya tubuh Ara hingga bertukar posisi.
Evan menyesap bibir Ara. Hingga kemudian turun menuju leher. Mengusak ceruk leher Ara dengan hidungnya. "Evan, akhh, janga-nh b-bh-beri tanda kumohon." Evan mengerti. Memang itu salah satu aturan main mereka. Tidak memberi tanda.
Maka dia hanya mencium leher itu saja. Menjilat leher Ara dengan lembut. Ara selalu mengenakan parfum beraroma vanila disekitar lehernya. Membuat Evan dapat menghirup aroma manis dari ceruk leher milik Ara. Evan suka aroma manis, terlebih yang tercampur dengan aroma tubuh Ara.
"Evan, akhh, astaga, apa kamu berencana membuatku gila?" Evan tersenyum ditengah aktifitasnya mengusak leher Ara. Leher merupakan titik sensitif wanita itu. Saat lehernya disentuh dia akan merasa lemah mendadak. Terlebih jika menyentuh menggunakan bibir. Jangan harap Ara akan dapat menahan desahannya.
Evan bangkit. Melepas kancing baju milik Ara. Hanya tiga dari atas. Tidak semua. Yang penting dia dapat menggeser baju itu hingga bahu Ara yang semula tertutup dapat terlihat. Evan mencium bahu itu lembut. Mengecupnya dengan sangat lembut. Sesekali menjilatnya. Membuat Ara meremaskan jemarinya diatas sprei berwarna abu-abu milik Evan.
Ara tersenyum. "Boleh aku yang memimpin?" Evan menatap mata Ara dalam. Selanjutnya bibir lelaki itu tersenyum. Mengangguk dan memutar posisinya hingga Ara kembali berada diatas perutnya.
Evan sudah melepas kaosnya. Menyisakan celana jeans milik lelaki itu. Ara menyukai tubuh Evan. Terlebih beberapa tato permanen yang bersemayam ditubuh lelaki itu. Membuatnya ingin menyentuh lagi dan lagi.
Ara membiarkan rambut panjangnya tergerai. Tak perduli ketika rambutnya justru membuatnya semakin gerah. Tapi, Evan menyukai itu. Lelaki itu menyukai rambut panjang Ara yang tergerai dan basah karena peluh wanita itu bercucuran.
"Evan, kapan kamu membuat tato ini?" Ara bertanya kepada Evan mengenai tato pistol yang berada di atas perut sebelah kanannya. "Hmmm, aku lupa. Sudah lama sekali. Selama ini kamu tidak hanya melihat tato ini bahkan bibirmu--- hmppt" Ara malu sekali ketika Evan mengungkit dirinya yang gemar sekali mendaratkan bibirnya diatas tato pistol itu. Tak hanya itu, ada satu lagi tato yang selalu ingin Ara sentuh dengan bibirnya. Tato yang ada dipunggung Evan. Lupa sudah berapa kali dirinya menyentuh tato itu dengan bibirnya.
Tangan Ara menutupi bibir Evan agar tak melanjutkan ucapannya. Malu sekali jika diingatkan. Padahal itu merupakan kenyataan. Dirinya memang tidak hanya melihat saja. Tapi, sudah berkali-kali mencium, menjilat, bahkan menyesap.
Ara dan Evan merupakan kakak dan adik tingkat di salah satu universitas swasta Jakarta Selatan. Mereka berada difakultas dan jurusan yang berbeda. Ara merupakan mahasiswi semester enam jurusan Communication. Sedangkan Evan merupakan mahasiswa semester delapan jurusan electrical and computer engineering. Evan adalah kakak tingkat Ara.
Sejak pertama kali melihat Ara menjadi mahasiswa baru, Evan memang menyukai Ara. Kerap melihat Ara berkeliaran di sekitar fakultasnya karena menunggu Aldrico Mikail yang saat itu masih berstatus teman Ara selesai kelas. Terlampaui sering menemui Aldrico Mikail difakultasnya. Lalu kemudian, dua tahun setelahnya Evan mengetahui sendiri dengan mata kepalanya bahwa Ara dan Aldric resmi menjadi sepasang kekasih.
Evan yang merupakan mahasiswa tekhnik bisa menyukai Ara yang jurusan komunikasi. Bahkan sangat menyukai wanita itu. Acara malam anniversary kampus merupakan kesempatan Evan mendekati Ara. Saat wanita itu tiba-tiba melintas didepannya seorang diri dia langsung menariknya menjauh dari keramaian. Tentu saja Ara berontak. Tapi, dia berjanji tidak akan menyakiti wanita itu. Ara berusaha tenang.
Evan tahu satu hal. Ara tidak sepolos seperti penilaian orang lain. Dia yang kerap memperhatikan Ara lambat laun mengerti mengenai sifat wanita itu. Dibalik wajah polos dan tenangnya, dia menyimpan sisi nakal yang mungkin untuk saat ini hanya Evan yang tahu.
Hingga pertemanan dengan saling menguntungkan mulai terjalin setelah pertemuan itu. Ara yang sebenarnya juga tertarik pada Evan menyetujuinya. Asal, pertemenan mereka tidak terdengar hingga orang lain. Hanya Evan, Ara, dan Tuhan yang tahu.
"Baiklah. Aku tidak akan mengatakan apapun." Ucap Evan setelah berhasil menyingkirkan tangan Ara diatas mulutnya. Kemudian mencium lembut tangan wanita itu. Rasanya ingin memiliki. Tapi, dia tidak bisa. Sekeras apapun usaha untuk memiliki semuanya sia-sia. Ara tidak memiliki perasaan semacam itu untuknya.
"Ara?" Ara hanya bergumam. Kepalanya kini sudah berpindah diatas perut Seungyoun. Memainkan tato pistol milik lelaki itu. Mengusapnya dengan jari lentiknya. "Perasaanmu kepadaku seperti apa?" Ara mendadak tertawa. "Kenapa mendadak bertanya?" Evan mengangguk. "Aku hanya ingin tahu."
Baiklah, akan Ara jelaskan. "Perasaanku kepadamu tidak lebih dari sekedar teman. Aku membutuhkanmu. Hmm--- tidak perlu kujelaskan bukan butuh seperti apa? Karena kamu pasti mengerti." Evan mengangguk. Memang seperti itu perjanjian utama mereka.
Evan mengusap kepala Ara lembut. Membiarkan wanita itu bermain diatas tato miliknya. Rasanya nyaman melihat Ara memainkan tatonya. Setidaknya ada hal yang disukai Ara dari dirinya.
Ponsel Ara berbunyi. Mata wanita itu berubah menjadi berbinar. Tak ada tatapan nakal dan seduktif yang tadi diperlihatkan untuknya. Ara segera bangkit. Meraih ponselnya yang berada diatas nakas miliknya. Tersenyum sebelum akhirnya menggeser tombol hijau.
"Iya? Sudah selesai? Baiklah. Aku akan menyusulmu. Sampai jumpa, sayang." Evan menatap langit kamarnya. Selalu seperti ini. Ara yang selalu pergi setelah menerima telpon dari kekasihnya.
Setelah telpon dimatikan. Ara mengambil bajunya yang tercecer. Mereka tidak benar-benar melakukan. Hanya saling cium dan melepas baju saja. Buktinya pakaian dalam dan tanktop Ara masih lengkap. Juga celana jeans yang masih rapi dipinggang wanita itu.
"Aldric sudah selesai. Jadi, aku akan menyusulnya." Ara mengenakan bajunya. Mengancingkan satu persatu kancingnya. Evan masih memperhatikan Ara. Wanita yang tengah berdiri didepan cermin sambil merapikan rambutnya. Kemudian mengambil lipstik didalam tasnya. Mengenakan lisptick berwarna nude.
Ara tak menyukai lipstick dengan warna cerah. Dirinya menyukai lipstick berwarna lembut. Ntah, rasanya lebih nyaman. Setelah selesai bersiap. Ara berjalan mendekati Evan yang duduk diatas ranjangnya. Kemudian mencium bibir lelaki itu sekilas. "Terimakasih. Kamu selalu hebat." Bisik Ara tepat ditelinga lelaki itu.
"Jangan menelponku dulu sampai aku yang menelponmu." Ucap Ara selanjutnya pergi meninggalkan Evan. Lagi-lagi dirinya merasa kesepian.
Evan menyadari tempatnya. Hanya teman untuk Ara. Tempat untuk Ara meluapkan nafsunya. Setelah selesai, Ara akan kembali kepada kekasihnya. Seperti hari ini. Ara datang ke Apartemennya karena menunggu Aldric Mikail, kekasih wanita itu yang tengah kelas. Kemudian saat lelaki itu selesai, Ara akan menghampiri lelaki itu.
Ara mencintai Aldric. Evan tahu itu. Bahkan sangat mencintai lelaki itu. Hingga memikirkan ditinggalkan saja Ara selalu ketakutan. Padahal setahunya, bukankah wanita selalu takut ditinggalkan oleh lelaki yang sudah merebut mahkotanya. Kenapa justru Ara berbeda. Wanita itu takut ditinggalkan Aldric yang menjaga kehormatan Ara. Tidak tahu saja lelaki itu bahwa sudah sejak lama mahkota Ara direnggut oleh Evan. Memang gila mereka berdua.
Evan menang. Setidaknya lelaki itu yang pertama kali melesakan tubuhnya ke dalam tubuh Ara. Bukan Aldrico Mikail kekasih yang Ara cintai. Hanya saja, setiap kali memikirkan perasaan, Evan selalu kalah. Ara selalu menganggapnya sama bahkan sejak setahun yang lalu.
***
Ara sudah tiba di Kampusnya. Matanya menjelajah mencari keberadaan lelaki tampan yang sudah menjadi kekasihnya sekitar dua tahun lamanya. Jika membahas perkenalan mereka, sudah sangat lama mereka berteman. Sejak kecil.
Aldric merupakan anak dari kolega bisnis Ayah Ara. Mereka bertemu beberapa kali di Acara resmi perusahaan. Puncaknya mereka dekat ketika Kakek Ara meninggal. Disana Ara menangis seorang diri di ayunan. Kemudian Aldric kecil datang memberikan Ara sebuah lolipop. Sejak saat itu mereka menjadi dekat. Kerap menghabiskan waktu bersama.
Selalu bertemu sejak kecil. Hingga kemudian, lelaki itu menyatakan perasaannya kepada Ara dua tahun lalu. Ara tentu saja menerimanya. Dia sudah menyimpan rasa pada lelaki itu sangat lama. Selalu berada di Sekolah yang sama. Mereka benar-benar tak terpisahkan. Aldric selalu menjaga Ara sejak dulu. Maka dari itu tiba-tiba perasaan tumbuh dihati keduanya.
Aldric berjalan bersama dengan sahabatnya, Revano Ananda, Vano. Ara mengenalnya tidak begitu dekat. Hanya sekedar saling menyapa saja. Karena, beberapa kali Ara bertemu Vano saat sedang bersama Aldric. Ara melambaikan tangan kepada Aldric. Lelaki itu tersenyum dan membalas lambaian tangan Ara.
Mempercepat sedikit jalannya agar segera bertemu dengan Ara. Vano hanya mengikuti langkah Aldric saja dibelakangnya. "Sudah lama menunggu?" Tanya Aldric kepada Ara. Wanita itu menggeleng. Jemarinya membenarkan kerah Aldric yang sedikit terlipat membuat pakaian lelaki itu tidak rapi. "Uhmm, sepuluh menit mungkin." Aldric mengangguk.
"Hai, Vano." Vano tersenyum. "Hai, Ara." Balas Vano seadanya. "Maaf, tadi dosen meminta tolong kepadaku untuk membagi nama-nama anggota kerja kelompok. Jadi, sebagai komting aku yang bertanggung jawab." Ara mengangguk. "Tidak papa." Ara melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya.
"Kamu sudah makan siang?" Aldric menggeleng. "Ayo, ada yang ingin kamu makan?" Ara berpikir sejenak. "Bagaimana jika pasta?" Saran Ara kepada Aldric. Lelaki itu setuju saja. "Vano, mau bergabung?" Lelaki itu menggeleng. "Aku sudah ada janji dengan Rayhan. Menemaninya membeli gitar baru." Vano tidak bisa bergabung karena dirinya sudah berjanji akan menemani Rayhan Dewata, membeli gitar baru. "Ada apa dengan gitarnya?" Aldric heran. Biasanya Rayhan sangat menjaga gitarnya dengan baik. Vano mengendikan bahunya. "Tidak tahu. Nanti baru mau kutanyakan. Ya sudah, selamat makan siang. Aku pergi dulu. Sampai jumpa!" Vano segera meninggalkan Ara dan Aldric.
"Kita pergi sekarang?" Tanya Aldric. Ara mengangguk. "Ayo, aku lapar sekali ingin makan pasta." Aldric tersenyum karena gemas dengan tingkah laku kekasihnya. "Ayo," Setelah itu Aldric pasrah ketika Ara menarik tangannya.
Mereka sudah tiba disalah satu Restoran Italia yang menjadi langganan mereka berdua. Kerap sekali memesan makanan disini. Ara sangat menyukai pasta aglio olio yang ada disini. Bahkan pernah beberapa kali makan hingga dua piring. Ntahlah, Ara sangat suka.
Ara mengusap dahi Aldric lembut. Lelaki itu tampak sangat lelah. "Kamu pasti kurang tidur. Apa tugasmu membebanimu?" Aldric adalah salah satu mahasiswa teladan di Kampus mereka. Tidak heran jika lelaki itu merelakan waktu istirahatnya untuk belajar.
"Tidak. Aku tidur dan makan dengan baik. Jangan khawatir." Aldric menggenggam tangan Ara. Mengusapnya lembut. "Bagaimana hasil perlombaan membuat robot kemarin? Sukses?" Aldric mengikuti lomba merakit robot bersama Revano Ananda dan salah satu adik tingkat mereka lagi. Kalo tidak salah namanya Arsen Aditya.
Mereka bertiga membawa nama Universitas untuk lomba merakit robot di China. Jadi, beberapa hari lalu Aldric cukup stres karena perlombaan itu. Membuat Ara sedih karena melihat Aldric yang hanya sedikit makan dan tidur juga tidak nyenyak.
Ara sangat mengenal Aldric. Lelaki itu sangat baik menyimpan perasaannya. Bahkan jika tidak ditanya, Aldric tidak akan menjawab. Jika masalahnya ringan lelaki itu bisa saja tidak perduli. Tapi, jika menurutnya masalah itu berat, maka Aldric akan memikirkan cara menyelesaikannya dengan baik.
Perlombaan merakit robot kemarin merupakan masalah berat. Jadi, Aldric tidak bisa mengabaikan begitu saja. Dirinya takut mengecewakan pihak universitas dan juga kedua orang tuanya. Sangat berusaha keras agar menang.
"Sukses. Kami mendapat posisi dua. Aku lega sekali, Ara." Benarkan. Jika tidak ditanya Aldric pasti tidak akan bercerita. "Selamat! Kalian hebat. Aku bangga. Siapa yang menempati posisi satu?" Tanya Ara. "Universitas Jepang. Kamu tahu sendiri Jepang sangat lihai merakit dan membuat robot." Aldric tampak sedikit kecewa.
Ara mengusap dahi Aldric. Membenarkan rambut lelaki itu yang jatuh sedikit menutupi matanya. "Tidak papa. Menurutku kamu sudah sangat hebat. Berada diposisi dua dengan puluhan peserta merupakan suatu kebanggan." Aldric tersenyum. "Terimakasih sudah berada disisiku selama ini." Pipi Ara merona. "Kamu bahkan selalu menjagaku sejak dulu." Ara jadi ingat dirinya yang dulu pernah dibully. Sampai akhirnya Aldric beserta teman-temannya menolongnya.
Saat bersekolah dulu Aldric merupakan salah satu siswa yang cukup ditakuti. Kerap sekali terlibat tawuran antar sekolah. Membuat Ara selalu khawatir dibuatnya. Lalu sejak ujian kelulusan, Aldric mendadak berubah. Selalu rajin belajar. Hingga nilainya nyaris sempurna.
Bahkan Ara sendiri terkejut. Hingga ujian masuk universitas, Aldric menggemparkan sekolah dengan diterimanya lelaki itu menjadi salah satu mahasiwa electrical and computer engineering di Universitas Swasta terbaik di Jakarta. Dimana dalam masuknya, membutuhkan ujian seleksi yang begitu ketat walaupun statusnya swasta. Siapa yang tidak terkejut. Orang tua Aldric sendiri juga terkejut.
Saat ditanya alasan apa lelaki itu belajar keras. Sungguh membuat Ara semakin menyayangi lelaki itu. Aldric hanya ingin selalu menjaga Ara. Jika mereka satu universitas lagi, sudah pasti mereka memiliki banyak waktu bersama.
Jika Aldric bermalas-malasan dia tidak terima di Universitas swasta itu, orang tuanya akan memindahkannya ke Amerika. Dia tidak mau jauh dengan Ara. Dan usahanya berhasil. Ara yang merupakan salah satu siswi pintar juga berhasil menjadi mahasiswi Communication.
Setelah berbincang ringan. Makanan yang sudah mereka pesan sudah tiba. Ara memulai menyuap pasta miliknya. Rasanya seperti biasa. Dan Ara tetap saja selalu menyukainya. Aldric memilih carbonara karena memang salah satu kesukaannya juga.
Mereka makan sambil sesekali tertawa karena candaan ringan. Setelah ini dia ada kelas lagi. "Ara, kamu ada kelas lagi setelah ini?" Ara mengangguk. "Mata kuliah apa?" Ara menelan aglio olio yang masih tersisa dimulutnya. "Konvergensi and new media. Kamu bisa pulang duluan." Aldric mengangguk. "Bagaimana jika nanti aku menjemputmu. Aku rindu masakanmu." Ara tersenyum. "Ingin sesuatu?" Aldric mengangguk. "Aku merindukan ramen buatanmu." Ara tertawa. "Astaga, semua ramen rasanya sama saja." Aldric menggeleng. "Buatanmu rasanya berbeda. Aku suka." Ara mengangguk. "Baiklah. Aku akan membuatnya untukmu nanti. Jemput aku ya pukul lima sore." Aldric mengangguk. "Tunggu aku. Jangan kemana-mana." Ara mencubit pipi Aldric gemas.
***