One - Crush

1949 Kata
Evan menggoyangkan gelas kristal berisi cairan berwarna merah pekat. Sembari menikmati hujan deras yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya. Memandangi ribuan lampu yang menyebar dibawah sana. Diselimuti langit mendung disertai hujan dan kilat. Selalu seperti ini. Sepi dan sendiri merupakan kawan terbaik untuknya. Bisa saja dia pergi keluar dan bertemu teman-temannya. Hanya saja malas rasanya harus menembus hujan sendirian. Udara dingin akan memeluknya erat ketika dia menginjak tanah luar. Jemari sebelah kiri menggeser layar ponselnya. Menampilkan foto Ara yang tengah tertidur lelap disampingnya. Wajah wanita itu tertutup rambut. Membuatnya tak bisa dilihat secara jelas. Foto itu diambil beberapa waktu lalu. Lebih tepatnya saat Ara menginap di Apartemennya. Kekasih Ara sedang lomba di China saat itu. Merupakan kesempatan untuk Evan memboyong Ara ke Apartemennya. Tidur bersama wanita itu selama dua hari sudah sangat cukup untuknya. Mereka menghabiskan banyak waktu bersama. Bahkan Evan lupa jika Ara bukan miliknya. Waktu itu rasanya seperti Ara hanya tercipta untuk dirinya saja. Kemudian, kembali tersadar saat ponsel Ara bergetar. Dengan segera diangkat ponsel itu. Evan mendengar jelas bagaimana Ara merengek merindukan kekasihnya. Meminta agar kekasihnya segera pulang. Ara nyaris menangis karena merindukan Aldric, kekasihnya. Tak perduli bahwa dibelakangnya ada Evan yang tengah mengamatinya diam-diam. Evan merupakan anak tunggal dari pengusaha kaya. Hanya saja, pernikahan kedua orang tuanya merupakan hasil perjodohan. Memang banyak perjodohan yang berakhir dengan saling mencintai. Tapi, tidak dengan orang tua Evan. Perasaan mereka tetap saja seperti dulu walaupun dirinya hadir sekalipun diantara keduanya. Bahkan sebuah rahasia yang beberapa waktu ini baru saja diketahuinya. Papa dan Mama nya memiliki kekasih. Bersama dalam waktu lama tak membuat mereka serta merta saling mencintai. Hingga Evan yang menjadi korbannya. Dia bukan lelaki yang mudah jatuh cinta pada seseorang. Bahkan cinta pertamanya merupakan sahabatnya sendiri, Helena Berliana. Wanita itu terpaksa harus pindah ke Amerika mengikuti kedua orang tuanya. Awalnya dia sangat terpukul. Tidak rela melepaskan Helen. Tapi apa boleh buat. Kemudian sekarang cintanya jatuh untuk Ara. Wanita cantik yang berhasil membuat Evan tergila-gila. Satu-satunya perempuan yang hampir setiap ada waktu tepat berbagi ranjang dengannya. Saling sahut menyahut desahan dengan memanggil nama bergantian. Evan ingin sekali menghubungi Ara. Hanya saja, dia takut jika wanita itu sedang bersama kekasihnya. Karena Ara bilang untuk jangan menghubunginya dulu sampai wanita itu sendiri yang menghubunginya. Baiklah, Evan menurut saja. Evan membuka galeri ponselnya. Melihat banyak sekali foto Ara yang disimpannya disalah satu folder yang disembunyikan. Lelaki itu kerap sekali mengambil gambar Ara diam-diam. Tak hanya ketika wanita itu berada di Apartemennya saja. Tetapi, saat wanita itu berada di Kampus. Evan merupakan mahasiswa semester akhir. Tapi, karena beberapa alasan dirinya masih harus menyelesaikan beberapa kelas yang sebelumnya belum terselesaikan. Dengan alasan itu pula dia bisa melihat Ara. Lelaki itu butuh tidur. Kepalanya menjadi pening karena terlalu banyak minum. Beberapa waktu lalu tidurnya ditemani oleh Ara. Ah, lagi-lagi teringat saat Ara menginap di Apartemennya. Sialan sekali wanita itu. Evan memejamkan matanya. Berharap saat pagi menjelang, Ara miliknya. Bukan milik Aldrico Mikail. Berharap saja sepuasnya. Tidak ada salahnya, kan? *** Ara menghujani wajah Aldric dengan ciuman. Pertama, dipipi kanan lalu berlanjut ke pipi kiri. Kedua, beralih menuju dahi. Dikecupnya hingga tiga kali banyaknya. Setelahnya lanjut mencium bibir. Dikecupnya ringan dan lembut. Takut jika lelaki itu akan bangun. Aldric tidur ditempat tidur Ara. Tidak melakukan apa-apa. Hanya tidur biasa. Tidurnya nyenyak sekali hingga Ara menjadi gemas. "Kamu pasti tidur tidak nyenyak beberapa hari ini, kan?" Ara mengusap pelipis Aldric dengan ibu jarinya. "Jangan terlalu memikirkan hal berat, Sayang. Nanti kamu sakit." Aldric pasti memikirkan banyak hal hingga sulit sekali tidur. Mungkin ini adalah pertama kalinya dalam beberapa hari ini dia tidur dengan nyenyak. "Gemas sekali rasanya. Ingin cium terus menerus." Ara memang selalu begitu kepada Hangyul. Kerap memperlakukan lelaki itu layaknya bayi. "Tidur yang nyenyak, Sayang." Ara memeluk Aldric lagi. Sejak tadi Aldric memposisikan dirinya berbaring tapi lebih rendah dari Ara. Tangannya melingkar diantara pinggang ramping milik wanitanya. Wajahnya menghadap d**a Ara. Tidurnya damai sekali. Hingga Ara dapat mendengar nafas teratur milik Aldric. Ara tidak bisa tidur seberapa keras usahanya memejamkan mata. Dia ingin melihat Aldrico Mikail sepanjang malam. Saat Aldric berada di China, menurutnya itu lama sekali. Dia kan jadi rindu. Jadi, malam ini dia memaksa Hangyul untuk tidur di Apartemennya saja. Rindu sekali hingga rasanya Ara ingin peluk dan tidak mau lepas. "Kenapa aku bisa segila ini sih hanya dengan melihatmu memejamkan mata?" Ucap Ara pelan. Takut jika Aldric akan terbangun karena terganggu dengan suaranya. Jemarinya mengusap kepala Aldric. Merapikan rambut lembut milik lelaki itu. "Goodnight, sweetheart." Pagi itu cepat sekali. Kini Ara tengah merengek tak mau melepaskan pelukannya. Mau peluk saja seharian ini. Tidak mau lepas. Aldric berulang kali mengatakan bahwa setelah kelas dirinya akan kembali ke Apartemen Ara. Wanita itu boleh memeluknya sepuas hati. "Lepas dulu, sayang. Aku ada kelas. Waktuku hanya satu jam sebelum kelas dimulai." Aldric merayu Ara. Susah sekali merayu wanita itu saat sedang dalam mode manja seperti ini. "Janji, ya. Setelah itu kembali lagi kesini. Aku mau peluk. Belum puas rasanya." Aldric tersenyum mengusap puncak kepala Ara. "Aku janji. Kamu ada kelas?" Ara menggeleng. "Aku sengaja mengosongkan jadwal hari ini." Aldric mengangguk. "Mau makan siang lagi? Ada yang ingin kamu makan?" Ara menggeleng. "Kamu cepat kembali saja." Aldric tertawa geli. "Iya. Nanti aku kembali lagi." Aldric mencium bibir Ara lembut. Melumat bibir ranum milik wanitanya itu. "Kenapa kamu semakin menggemaskan setiap harinya, huh?" Pipi Ara merona karena malu. "Ah, Aldric, bagaimana jika aku ikut ke Kampus?" Aldric mengernyit. "Mau apa? Kan kamu tidak ada kelas." Ara berpikir sejenak. "Aku mau baca novel disana sambil menunggumu. Tidak papa, kan?" Aldric mengangguk saja. "Boleh. Segera bersiap kalau begitu. Aku tunggu. Cepat, ya. Nanti aku bisa terlambat." Ara mengangguk. Setelah Aldric berjalan keluar. Dirinya segera bergegas membersihkan dirinya. Lalu setelah itu memilih pakaian. Memoles wajah cantiknya dengan sunscreen, bedak, dan lipstick. Hanya menggunakan make up sedikit. Tapi, wajahnya sudah terlihat sangat cantik dan menawan. Ara mengambil tas miliknya. Meletakan tali tas itu dibahunya. Matanya menangkap sosok Aldric yang tengah meminum segelas s**u. Ara memang selalu menyimpan s**u cair didalam kulkas. "Ayo, aku sudah siap." Ucap Ara kepada Aldric. Lelaki itu mengangguk. Meletakan gelas kotor diatas meja makan. Kemudian berjalan menghampiri Ara. "Ayo," Aldric menggandeng tangan Ara erat. Menarik pelan wanita itu. Langkah besar Hangyul sengaja diperlambat agar Ara dapat menyeimbangkan. *** Ara tengah membaca novel terjemahan karangan Lim Se Hyuk. Berjudul Angels of Morning Star. Menceritakan seorang mantan napi yang bekerja sebagai penjaga toko. Ara menemukan novel ini diantara buku-buku yang berjejer di rak buku perpustakaan. Novel merupakan salah satu kesukaan Ara. Membaca sudah menjadi hobi Ara sejak kecil. Menurutnya membaca menyenangkan sekali. Banyak hal yang dapat dipelajarinya dari membaca. Ara menghela nafas ketika merasakan seseorang tengah memeluknya dari belakang. Mengusap perut datarnya sambil sesekali mengecup leher Ara. Tak perlu berbalik dan Ara sudah tahu siapa yang ada dibelakangnya ini. "Apa kamu gila? Bagaimana jika ada yang melihat." Ucap Ara kesal. Kepalanya menengok kiri dan kanan. Beruntung sekali perpustakaan sedang sepi pengunjung. Juga tempat yang Ara pilih cukup jauh dari jangkauan orang-orang. Dipojok dan hampir bisa dikatakan di ujung ruangan. "Disini sepi. Lagipula aku merindukanmu. Kamu tidak mengabariku setelah pertemuan kita kemarin." Ara membalik tubuhnya. Menatap Evan dingin. "Aku sedang bersama kekasihku semalam." Lelaki itu mengangguk. "Aku tahu." "Lepas, Evan Adinata!  Bagaimana jika ada yang melihat kita." Evan menggeleng. Mengecup bibir Ara ringan. Evan masih memeluk Ara erat. Tidak perduli dengan keberadaan mereka sekarang. Intinya Evan mau peluk saja. "Kamu pintar mencari tempat. Orang-orang jarang sekali membaca hingga disini. Aku lebih lama menjadi mahasiswa disini daripada kamu. Jadi, aku lebih tahu." Evan menggesekan hidungnya dengan hidung Ara. Membuat wanita itu memutar bola matanya. "Terserah. Tapi, aku mohon lepas dulu. Jika orang melihat mereka akan salah paham." Evan tersenyum. "Jika sudah dilepas, kamu tidak boleh kabur." Ara menghela nafas. "Iya. Aku berjanji tidak akan kabur." Evan melepas pelukannya. Perasaan Ara menjadi lega. Berbeda dengan Evan yang merasa kecewa. Tak apa, nanti dia bisa memeluk Ara jika wanita itu datang ke Apartemennya. Hanya saja dirinya harus bersabar. "Darimana kamu tahu aku disini?" Ara melanjutkan membacanya. Padahal perasaannya berubah gelisah karena keberadaan Evan disini. Bukan menganggu, hanya saja dia takut jika ada yang melihat. "Aku selalu tahu keberadaanmu." Ara memutar bola matanya lagi. Evan menyentil dahi Ara. "Jangan memutar bola matamu. Tidak sopan. Bagaimanapun aku lebih tua darimu." Ara mendengus. "Lebih tidak sopan mana denganmu yang tiba-tiba memeluk dan menciumku?" Evan tertawa kecil. "Baiklah. Aku mengakui aku lebih tidak sopan darimu." "Sana pergi. Aku tidak mau ada yang memergoki kita." Bukannya pergi Evan sengaja meletakan wajahnya diceruk leher Ara. Membuat wanita itu menahan nafasnya. "Aku tidak mau. Aku merindukanmu. Sangat." Evan serius mengenai dirinya yang merindukan Ara. Bahkan dalam tidurnya pun Ara masih terngiang-ngiang dipikirannya. Kuat sekali bukan wanita ini mempengaruhi dirinya. Evan mengecup leher Ara lagi. Kemudian mengusak leher wanita itu dengan hidungnya. Masih dengan aroma manis karena parfum vanilla wanita itu. "Evan, hentikan, kumohon." Mohon Ara kepada lelaki itu. Evan sengaja menulikan telinganya. Membuat Ara terangsang memang tujuannya. Dia tidak masalah melakukannya di Perpustakaan. Yang terpenting bersama Ara. Dirinya menginginkan Ara. Dan sebentar lagi Ara juga menginginkannya. Ara menyerah. Selalu saja berakhir lemah saat lehernya diserang dengan kecupan. Sialan sekali Evan Adinata. "Kamu adalah manusia paling b******k yang pernah ku kenal Evan Adinata." Ucap Ara berbisik tepat ditelinga Seungyoun. Selanjutnya tangan wanita itu memeluk leher Evan. Bibirnya tentu saja bermain dengan bibir milik Evan. Bibir ranum milik Ara sengaja dimasukan Evan seluruhnya didalam mulutnya. Mulutnya yang lebih besar mampu melahap bibir mungil dan ranum milik wanita itu. Gemas sekali rasanya dengan bibir mungil itu. Tidak seperti biasa yang akan melumat bergantian atas dan bawah. Kini bibir Evan meraup penuh. Jemari Ara meremas rambut Evan. Satu hal yang selalu ada dibenaknya saat dirinya dan Evan tengah saling berciuman seperti ini. Dia tidak tahu kenapa ciuman Evan selalu berhasil membuatnya mabuk. Tidak hanya dibibir saja. Tapi juga di d**a, bahu, perut, wajah, telinga, bahkan, hmmm, sorry, pusat tubuhnya. Evan sudah merasakan semua bagian ditubuhnya. Lelaki itu tak pernah melewatkan seinchi pun bagian dari tubuhnya. Ara mendorong tubuh Evan saat menyadari lelaki itu akan berlaku lebih jika tidak segera dihentikan. Jemari lelaki itu sudah hampir membuka kancing baju yang dikenakannya. Tapi, gagal karena Ara mendorong tubuh Evan cukup keras hingga membuat lelaki itu terhuyung kebelakang. "Bisa tidak kamu menahan sedikit nafsumu?" Evan menggeleng. Menyapu bibir Ara dengan jemarinya agar sisa saliva bercampur lipstick yang menempel dipipi Ara terhapus. "Aku sudah mengatakan aku merindukanmu." Ara paham. Tapi, tidak bisa lelaki itu diam dan menunggunya saja. "Aku tidak bisa menunggumu lebih lama. Rasanya aku akan gila jika tidak melihatmu." Ara menggeleng. "Kamu gila jika tidak menjamahku. Benar?" Evan mengangguk. Mencium sudut bibir Ara yang ternyata masih ada sisa cumbuan mereka. "Betul, sekali. Aku tidak mengerti apa saat ini kamu sedang berakting sebagai zat adiktif. Kenapa membuatku kecanduan?" Ara mendadak merinding dengan ucapan Evan. "Pergi, Evan, sebentar lagi kelas Aldric usai. Aku tidak mau dia berpikir macam-macam karena menemukanmu disini bersamaku. Kumohon." Mata Ara berkaca-kaca. Dirinya takut sekali Aldric akan melihat dirinya dan Seungyoun. "Janji kamu akan ke Apartemenku." Ara mengangguk. "Aku janji akan ke Apartemenmu. Kamu boleh menjamahku semaumu. Tapi, aku mohon pergi dari sini." Evan mengangguk. Menyentuh kepala Ara. Menarik kepala wanita itu. Kemudian mencium puncak kepala Ara. "See you soon, my baby girl." Ara kesal sekali dengan Evan. Tapi, walaupun kesal Evan juga seperti alkohol yang selalu berhasil membuatnya mabuk. Bahkan hanya dengan kecupan dileher saja sudah membuat kesadarannya melayang. Itu merupakan salah satu alasan Ara tidak bisa menghentikan "pertemanan" ini. Evan sudah pergi. Jadi, Ara memiliki waktu memperbaiki penampilannya. Terlebih wajahnya. Ara mengambil cermin didalam tasnya. Melihat pantulan dirinya sendiri cukup kacau. Bibirnya bengkak karena ciuman Evan. Terlebih lipsticknya yang menjadi kemana-mana. Ada sisa saliva yang ntah miliknya atau Evan. Bisa juga saliva mereka yang sudah tercampur berada disekitar bibir Ara. "b******k, Evan Adinata." Ara kesal karena tiga alasan. Yang pertama karena dirinya takut jika ada yang melihat. Yang kedua penampilannya jadi berantakan. Yang ketiga, Ara jadi menginginkan Evan lebih. Membuatnya ingin menghampiri Evan dan menghabisi lelaki itu dengan bibir dan tubuhnya. Membuat lelaki itu menjerit dan mendesahkan namanya berkali-kali. Ara berjanji akan membalas dendam setelah ini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN