Ara membuka kancing bajunya. Kemudian melempar bajunya ke sembarang tempat. Membiarkan lelaki dihadapannya hanya tersenyum miring. Ntah sejak kapan lelaki itu mulai obsesi dengan tubuh Ara.
"Aku yang akan memimpin permainan ini. Kamu tidak boleh mendesah." Evan tersenyum, enggan memalingkan wajahnya kesamping. Ingin terus melihat Ara yang mulai melepas bra-nya. Melemparkan bra berwarna merah muda itu ke lantai.
"Apa kamu sedang menghukumku, baby?" Tanya Evan sambil menarik tubuh Ara yang sudah hampir mencapainya. Menarik tubuh wanita itu hingga terjatuh diatas tubuunya. "Mau menghukumku, heum?" Ara memutar bola matanya.
Evan mencium mata Ara yang baru saja memutar. "Aku tidak suka kamu memutar bola matamu." Ara mendengus. "Aku tidak suka kamu memelukku sembarangan seperti di Perpustakaan waktu itu." Evan paham jika Ara tidak suka.
"Aku tidak perduli jika kamu tidak suka. Aku akan terus melakukannya." Ara menjadi kesal. "Aku juga akan terus memutar bola mataku kalau begitu." Ara tak perduli jika Evan membenci itu. Toh, dia melakukan sesuatu bukan agar lelaki itu menyukainya, kan?
"Tapi, aku akan menghukummu." Mencium bibir Evan saking kesalnya. Menggigit bibir lelaki itu. Hingga rasa anyir menyecap indra perasanya. "Itu hukumanmu." Evan menatap Ara tajam.
"Jilat darahnya, Ara." Ara membuang wajahnya. "Ara, aku bilang jilat darah dibibirku." Ara menggeleng. "Aku tidak mau." Evan mengeraskan rahangnya. "Ara, tatap mataku." Ara enggan menatap Evan.
Tangan Evan menyentuh dagu Ara. Membuat wajah mereka saling berhadapan dan mata mereka saling bersitatap. "Apa sulitnya menjilat darahku jika kamu saja selalu tidak masalah untuk menjilat spermaku?" Ara membulatkan kedua matanya.
"Sialan, kamu Evan Adinata. Aku membencimu setengah mati." Evan memeluk tubuh Ara yang kini berada diatasnya. Mengeratkan pelukannya agar tubuh mereka tak memiliki jarak.
Evan sedang shirtless saat ini. Karena Ara tadi juga sudah menanggalkan seluruh pakaiannya. Sudah dapat ditebak jika saat ini kulit mereka saling bergesekan tanpa ada pembatas. Evan dapat merasakan n****e Ara yang menyentuh kulit dadanya. Astaga, bisa gila lama-lama.
Evan masih menunggu Ara menjilat bibirnya yang berdarah. Benar, bukan? Wanita itu saja rela menjilat habis spermanya. Kenapa pula harus menolak menjilat darahnya. Sedikit menjijikan sebenarnya. Tapi, serius Evan sebenarnya hanya menggoda Ara saja.
"Kamu selalu mengomel kepadaku. Mengatakan membenciku. Tapi, bahkan kamu masih terlihat nyaman berada diatas tubuhku." Evan menjeda dialognya. Menanti bagaimana reaksi Ara karena ucapannya. "Apa ini yang kamu sebut membenciku, Amara Violeta?"
Ara diam saja saat bibir Evan mengecup wajahnya. Tak bisa menjawab ucapan Evan. Karena walaupun dirinya mengumpat berkali-kali kepada Evan, tubuhnya selalu saja menolak berjarak dengan lelaki itu. Rasanya seperti magnet kutub selatan dan kutub utara ketika didekatkan. Selalu merekat dan enggan berpisah.
Evan mencium kedua mata Ara yang tadi berputar karena kesal dengannya. Wanita itu diam saja. Itu berarti, dia menerimanya. Bibir Evan mendarat diatas bibir ranum Ara. Membungkam bibir yang kerap sekali mengumpat dan mengomelinya.
Mengecup ringan dulu. Belum masuk tahap melumat. Evan hanya ingin melihat reaksi Ara. Wanita itu berekspresi seperti biasanya. Datar dan tampak tenang. Perlahan jemari Ara menyentuh pipi Evan.
Mengecup bibir lelaki itu lembut. Mengecup ringan berkali-kali hingga membuat Evan merasa seperti dicintai. Padahal tidak. Ara yang saat ini tengah menghujani wajahnya dengan ciuman bukan wanita yang mencintainya.
"Jangan melakukan seperti kemarin lagi, Evan. Aku takut orang akan tahu hubungan pertemanan kita. Kamu mau kita tidak bisa seperti ini lagi?" Evan sedikit terkejut. Jadi, alasan mengapa Ara takut orang lain melihat mereka kemarin karena tidak mau kegiatan rutin mereka ini tak berlanjut.
"Aku hanya merindukanmu. Tak tahu lagi harus berbuat apa. Maaf, aku mengakui kebodohanku saat itu. Aku terlalu---" Ucapan Evan berhenti ketika Ara langsung melumat bibirnya. Menyesap bibir atas dan bawah lelaki itu. Menjilat sisa darah yang masih sedikit mengucur akibat gigitannya.
"Sudah, kan? Ini yang kamu mau?" Tanya Ara kepada Evan. Lelaki itu diam saja. Dia hanya bercanda. Lagipula darahnya juga sudah berkurang. Tapi, jika Ara memang sengaja menjilatnya untuk menghilangkan darahnya, Evan rela.
"Aku hanya bercanda." Ucap Evan jadi merasa tak enak. Rasa darah tidak enak menurutnya. Membuat Ara menjilat darahnya membuatnya merasa tak enak. "Kamu tidak perlu melakan itu, Ara. Aku hanya bercanda." Ara tersenyum miring. "Sudah terlanjur. Anggap saja bonus dariku." Evan mengangguk.
"Mau bermain?" Ara mengangguk. "I'm yours, tonight." Evan merasa sangat bahagia dengan tiga kata yang keluar dari mulut Ara yang biasanya selalu saja tajam. Tak jauh-jauh dari mengumpat.
Tapi, khusus untuk malam ini Ara adalah miliknya. Dia akan memakai kesempatan ini sebaik-baiknya. Memiliki Ara untuk dirinya sendiri. Merupakan sebuah mimpi besar untuknya. Sumpah, dia mencintai Ara sangat mencintai. Hingga lupa caranya mencintai dirinya sendiri.
Evan memutar tubuh Ara agar berada dibawahnya. Melihat wanita itu yang kini tengah menatapnya dengan tatapan "ingin". "Katakan kamu menginginkanku, Ara" Bisik Evan ditelinga Ara. "Katakan kamu ingin aku melesakan milikku didalam tubuhmu malam ini." Ara hanya bisa memejamkan mata ketika Evan berbisik ditelinganya.
"Akh, Evan Adinata aku menginginkanmu." Ucap Ara setelahnya. "Aku mohon, Evan,
Aku menginginkan bibirmu menyesap semua permukaan kulitku." Ucap Ara jujur. Evan tersenyum. Mengecup pipi kiri Ara yang tampak merah menahan dirinya.
Evan bermain diceruk leher wanita itu. Menghirup aroma manis yang hampir setiap hari dirindukannya. Mengecup setiap bagian leher, tanpa terlewat se-inchipun. Suara kecupan lembut terdengar di indra pendengaran Ara. Membuat wanita itu semakin menggila.
Evan menjilat leher Ara. Kemudian menyesap kulit leher itu hingga menciptakan bekas berwarna merah. Esok Ara tak ada kelas. Itu berarti wanita itu akan bersamanya seharian di Apartemennya. Jadi, biarkan dia memberi hickey diseluruh inchi tubuh indah yang membuatnya terobsesi setengah mati.
"Akh, Evan-ah, ka-akhmu baru s-ah-ja melanggar peraturan." Evan akui dirinya memang dilarang memberi tanda kepemilikan ditubuh Ara. Dimanapun tanpa terkecuali. Hanya saja, bukankah wanita itu sendiri yang mengatakan menjadi miliknya malam ini. Maka, apapun yang dilakukannya itu harus berdasar dari kemauannya.
"Aku tahu. Tapi, malam ini, bukankah kamu milikku?" Ara kesulitan menjawab. Pergesekan antara kulitnya dan kulit Evan saja sudah membuat kewarasannya menghilang. Apalagi bibir lelaki itu menjelajah disekitar lehernya.
"T-ter-akh-serahmu." Ucap Ara pasrah. Baiklah, akan Evan lakukan sebaik yang dirinya bisa. Dia mau membuat Ara menjerit mendesahkan namanya malam ini. Hanya namanya saja, Evan Adinata.
Ara meremas sprei milik Evan dengan erat. Ntah bagaimana ceritanya, bibir lelaki itu sudah berpindah menjelajah sekitar dadanya. Mengecup lembut permukaan kulit d**a Ara. Menyesapnya pelan agar tak menimbulkan bekas yang terlalu visibel. Biarkan karyanya terlihat cukup tipis saja. Tapi, menghias hampir seluruh tubuh Ara.
"Akh-, Evan-ah, astaga-" Ara merasakan dirinya menggila ketika bibir lelaki itu mendarat diatas perut ratanya. Mengecup ringan berkali-kali hingga membuat menjadi geli sekaligus nikmat. Menjilat permukaan perutnya yang masih rata. Lagi-lagi memberi hickey untuk meninggalkan jejaknya.
Evan membuka lebar kaki Ara. Menyembunyikan wajahnya diantara kedua kaki wanita itu. Ara sudah menanggalkan seluruh pakaiannya tanpa tersisa dari sebelum ditarik Evan hingga jatuh diatas tubuh lelaki itu. Jadi, Evan tak perlu repot-repot melepas pakaian Ara. Karena wanita itu sudah menanggalkannya sendiri sejak tadi.
Dikecupnya ringan tempat yang nantinya akan menjadi penghuni sementara "adik kecilnya". Menjilat milik Ara hingga membuatnya menggigit bibirnya untuk menahan desahan. Hal yang cukup sulit untuknya adalah menahan desahan. Tapi, dirinya enggan mendesah ketika Evan baru saja memulai pemanasan dengan memainkan miliknya.
Evan menggigit k******s milik Ara. Menyesap kewanitaan itu dengan lembut. Evan akan bermain lembut malam ini. Dia akan bermain dengan perasaan agar Ara mengingat malam ini berbeda seperti malam biasanya. Dia hanya ingin Ara merasa dicintai olehnya. Merasa bahwa dia memang sebegitu menginginkan Ara. Tak hanya sekedar tubuhnya yang diberikan secara cuma-cuma. Melainkan perasaannya pula.
"Evann-akh, a-akh-aku mau keluar." Evan tersenyum lembut. "Keluarkan saja, aku akan menampungnya." Tubuh Ara menggelinjang ketika merasakan sesuatu keluar dari tubuhnya. Milik Ara sudah becek karena o*****e pertamanya.
"Kamu memang sangat payah, Ara-ya. Aku bahkan baru memulai pemanasan. Cepat sekali kamu terangsang." Ara tak perduli. Dirinya memang selalu gila saat bermain dengan Evan. Lelaki itu pandai sekali membuat dirinya menjerit nikmat.
Evan menjilat habis cairan milik Ara. Bahkan sengaja menyesap agar seluruh cairannya dapat masuk ke mulutnya. Tubuh Ara sudah terasa panas karena o*****e pertamanya. Baru juga bermain sekitar lima belas menit dan Ara sudah membuat Evan merasakan nikmat cairan miliknya.
"Menungging," Evan memerintahkan Ara untuk menungging. Wanita itu menurut saja. Mengikuti keinginan Evann untuk menungging. Lelaki itu tersenyum puas melihat pose Ara saat ini.
Payudara wanita itu menggantung. Jika sedikit saja Evan menggoyangkan tubuh Ara sudah dapat dipastikan kedua gundukan itu bergoyang. Ugh, membayangkan saja sudah membuat Evan gemas.
Evan melumuri tangan kanannya dengan saliva. Memasukan tangannya dianal milik Ara. Memutar jemarinya hingga membuat tubuh Ara sedikit bergoyang. Benarkan, payudaranya itu ikut bergerak. Evan jadi gila sendiri.
"Akh," Ara memekik ketika jemari Evan semakin dalam memasuki tubuhnya. Sungguh, lelaki itu handal sekali dalam urusan ranjang. Membuat Ara kesal karena selalu merasa ketagihan. "Evan-ah, s-akh-sakit." Seungyoun mengangguk. Memang itu tujuannya.
Ara memejamkan matanya. Menumpu kepalanya dengan kedua tangannya. Tak kuasa menahan diri untuk tidak berteriak sekaligus mendesah. Evan Adinata yang terhebat membuatnya menyerah.
Evan mempermainkan Ara dengan cara menarik ulur jemarinya. Membuat wanita itu menjerit menahan perih sekaligus nikmat. "Katakan, kamu menginginkan lebih." Evan meminta Ara agar memohon kepadanya.
"Evan-akh, aku menginginkan milikmu. Beri dulu aku waktu untuk memimpin." Suara wanita itu mendadak parau. "Oke, aku akan memberimu waktu."
Mereka sudah bertukar posisi. Kini Ara yang mulai melepas celana pendek yang dikenakan Evan. Membuang celana itu hingga terjatuh di lantai menemani pakaiannya. Biarlah pakaian itu menjadi saksi bisu bahwa Ara juga handal membuat Evan menjerit memanggil namanya.
Ara mulai dengan merangkak naik diatas tubuh Evan. Mengecup bibir penuh yang cukup membuatnya ketagihan. Dikecupnya ringan hingga berakhir dengan Ara yang melumat bibir Evan. Bibirnya tak sebesar milik Evan. Jadi, dia tidak bisa jika memenuhi rongga mulutnya dengan bibir Evan.
Ara duduk diatas perut Evan. Membuat pantatnya merasakan ada sekitar enam kotak bergesekan dengan kulit p****t. Masih sedikit perih setelah dipermainkan oleh Evan dengan jemarinya. Ara memang sudah basah, tapi belum mampu untuk melumasi semuanya. Tak bisa hanya mengandalkan saliva milik Evan. Jadi, membuat lubangnya sedikit perih.
Leher Evan tidak bisa dilewatkannya begitu saja. Kali ini bibirnya bermain disana. Mengecup leher itu dengan lembut. Lidahnya terjulur sedikit, menikmati tubuh Evan yang beraroma mint menurut Ara dengan lidahnya.
"Akh! Ara-ya-akh" Ara tersenyum ketika Evan mulai menyebut namanya. Kemudian yang Ara inginkan setelah ini adalah membuat Evan memuncratkan semua cairannya. Kemudian wanita itu akan berniat menjilatnya hingga tak tersisa.
Turun menuju d**a milik Evan. Mengusapnya d**a bidang itu dengan lembut. "Apa kamu menyukai saat aku mengusapnya seperti ini?" Evan mengangguk. "Aku menyukai semuanya." Ara tersenyum.
Evan berteriak dalam hati. Kesal karena wanita itu cantik sekali. Bahkan tanpa sehelai benang yang menutupi tubuhnya. Rambut yang berantakan dan lembab karena peluh mulai bercucuran. Belum lagi bibirnya yang bengkak karena dirinya mencium Ara cukup bersemangat tadi.
Ara menurunkan tubuhnya dari tubuh Evan. Mencium permukaan perut Evan. Membuat lelaki itu menahan desahannya. Jemarinya meremas rambut Ara. Bibir wanita itu sangat lihai ketika bermain diatas perutnya.
Ara tersenyum ketika melihat salah satu kesukaannya. Tato pistol milik Evan. Mengecup tato itu dengan lembut. Sesekali jemarinya yang lentik memutari tato itu. "Geli, Ara." Ara tersenyum. Kembali mencium untuk terakhir kalinya.
Ara memainkan junior milik Evan. Meremas junior itu hingga membuat sipemilik merancau tak jelas. "Akh-astaga-akh, kenapa semakin hari kamu semakin ahli?" Evan masih sempat bertanya disela desahannya. "Karena kamu yang mengajariku. Kamu lupa, heum?" Evan tersenyum miring.
"Ara, akh, aku akan keluar." Ara segera memasukan kedalam mulutnya. Tak perduli dengan cairan yang menetes ke leher hingga dadanya. Misinya berhasil. Ara senang berhasil membuat lelaki itu o*****e.
"Cukup, Ara." Ara menatap Evan kecewa. Lelaki itu memutar tubuh Ara hingga mereka bertukar posisi. Ara berada dibawah seperti sebelumnya.
Evan membenarkan letak rambut Ara yang menutupi sebagian wajahnya. Mengusap pipi wanita itu dengan ibu jarinya. Bohong jika Ara tidak senang diperlakukan seperti itu. Hatinya berdesir ketika Evan memperlakukannya lembut layaknya boneka porselen. Hanya saja, untuk mencintai, dia tidak bisa. Aldric masih mendominasi perasaannya.
"Katakan jika aku menyakitimu, mengerti?" Ara mengangguk. Memeluk punggung Evan erat. Milik lelaki itu mulai menembus kewanitaan Ara yang sempit. Walaupun kerap diretas, milik Ara masih tetap saja sempit. Membuat Evan merasa miliknya serasa dijepit.
"Akh, Evan-ah, sa-akh-sakit." Evan masih berusaha memasukan miliknya. Mengecup kedua mata Ara yang mengeluarkan lelehan bening. Mengusap lembut kepala wanita itu.
Evan menanti hingga milik Ara terbiasa. Lalu, mulai ia gerakan setelah wanita itu memberi kode. Evan menggerakan miliknya. Diikuti oleh Ara yang bergerak. Jemarinya memeluk erat punggung Evan.
Kepalanya diletakannya dibahu Evan. Menghirup aroma mint lelaki itu. Mengecup leher itu sembari menikmati penetrasi yang tengah mereka lakukan. Wajah Ara tampak memerah menahan desahan. Bibirnya digigit hingga sedikit terluka.
Evan yang melihat itu segera mengecup bibir Ara. Melumat serta menjilatnya agar tak menimbulkan rasa perih. Ntah apa alasan Ara menahan desahannya. Karena sebelumnya dia juga mendesah seperti biasa.
"Evan-akh, aku akan akh- keluarh" Evan semakin keras menggerakan tubuhnya. "Bersama. Tunggu sebentar." Tak berselang lama Evan segera mengeluarkan miliknya dan menumpahkan cairannya diatas perut Ara.
Wanita itu sudah tampak kelelahan. Evan ambruk diatas tubuh Ara. Memeluk wanita yang kini berada dibawahnya. Wajah Evan tepat berada diceruk leher Ara. Kesempatan untuknya mengecup kembali leher Ara.
"Bersihkan setelah itu tidur." Ucap Evan sambil bangkit dari atas tubuh Ara. Wanita itu menurut saja. Kemudian mengekor dibelakang Evan yang masuk ke dalam kamar mandi.
***