Four - Starry Eyes

2195 Kata
Aldric sudah kembali dari Kanada seminggu yang lalu. Jadi, hari ini lelaki itu sudah berkuliah seperti biasa. Begitu juga dengan Ara. Wanita itu sedang berada di kelas Marketing Communication. Melirik ponselnya yang sangat amat sepi. Tak ada notifikasi masuk. Padahal dirinya menanti notifikasi dari Aldric. Menunggu lelaki itu mengirimnya pesan. Sejak tadi lelaki itu tidak mengiriminya pesan apapun. Membuatnya khawatir. Tadi pagi mereka tak sempat bertemu. Bahkan pesan yang dikirim Aldric hanya sekedar mengucap selamat pagi saja. Setelah Ara menjawabnya, lelaki itu tidak menjawab lagi. Mau menelpon rasanya takut mengganggu. Bisa jadi Aldric sedang bimbingan dengan dosennya. "Kelas telah usai. Saya duluan. Selamat siang." Bu Devi segera meninggalkan kelas. Satu persatu mahasiswa mulai bersiap juga untuk meninggalkan kelas. "Ara, apa kamu mengerti apa yang dijelaskan Ibu Devi?" Ara menggeleng menjawab pertanyaan Hana, teman sekelasnya. "Apa kamu melamun sejak tadi?" Ara menyengir, memamerkan deretan giginya yang rapi. Hana menggeleng. "Aku harus bertanya kepada siapa?" "Tanya saja kepada Alina. Barangkali dia bisa menjawab." Hana menghela nafas. "Alina itu pelit. Mana mau dia menjelaskan kepadaku." Ara menatap Hana prihatin. "Maafkan aku, Hana, aku tidak mendengarkan Bu Devi menjelaskan." Hana tersenyum. "Tidakpapa. Apa kamu sedang ada masalah?" "Aldric tidak mengirimiku pesan." Hana menatap Ara kesal. Pasalnya temannya itu sungguh b***k cinta sekali. Hanya perkara tidak dikirimi pesan, dia menjadi gila seperti ini. "Aku pikir ada sesuatu yang terjadi." Ara menggeleng. "Kami berjanjian bertemu setelah kelas. Tapi semalam, dia bilang mau bimbingan dulu dengan dosen. Dia akan mengabariku. Tapi, setelah aku tunggu dia juga belum mengabariku apa-apa." "Tunggu saja. Aldric kan mahasiswa sibuk." Ara mengendikan bahunya. "Aku mau menghampiri saja ke fakultasnya," Hana mengendikan bahu. "Terserahmu saja." Setelahnya Hana berpamitan untuk pulang duluan. Kemudian setelah keluarnya Hana dari kelas. Ara segera pergi juga menuju fakultas tekhnik. Dimana dia bisa bertemu dengan Aldrico Mikail lebih mudah. Ara melangkahkan kakinya menuju gedung sebelah. Matanya mencari keberadaan Aldrico Mikail. Barangkali lelaki itu berjalan melintas. Tapi, sepertinya tidak. Seseorang menarik tangan Ara. Membuat Ara terkejut sekaligus bingung. Bukan Aldric. Lelaki itu tidak pernah menariknya tiba-tiba. Ini jelas orang lain. Siapa lagi jika bukan Evan Adinata. Lelaki itu menarik Ara menuju gudang. Menghimpit wanita itu menghadap tembok. "Akh" Ara meringis ketika tubuhnya berhadapan dengan tembok. "Evan, lepas," Lelaki itu masih diam saja. "Apa kamu gila?" Evan masih diam saja. Kedua tangan Ara dipegang erat oleh salah satu tangan lelaki itu. Rasanya susah sekali melepaskannya. Tenaga lelaki itu jelas lebih kuat darinya. Jantungnya berdegup kencang. Takut jika Evan akan menyakitinya. Dan yang lebih Ara takutkan adalah ada seseorang yang melihat mereka. "I miss you, baby." Evan masih membuat tubuh Ara menghadap tembok. Yang itu berarti wanita itu membelakanginya. "Aku tahu. Tapi, tolong lepaskan aku dulu." Ucap Ara sedikit frustasi. Takut sekali jika ada yang melihat mereka. Evan menyibak rambut Ara. Mengecup leher wanita itu dengan lembut. "Tenang, jarang sekali ada yang datang kemari." Bisik Evan tepat ditelinga Ara. Membuat wanita itu merinding. Evan menyentuh leher Ara dengan bibirnya. Sengaja mengecup leher itu. Ara semakin panik ketika Evan menyentuh lehernya dengan bibir. Wanita itu berusaha menggerakan tubuhnya agar Evan kewalahan dan melepaskanya. Tapi, sayang sekali hal itu tidak seperti harapannya. Evan justru semakin keras menahan tangannya. Tangan Evan yang lain menelusup masuk ke dalam dress yang Ara kenakan. Mengusap perut rata milik wanita itu. Sengaja melakukan agar perhatian wanita itu terbagi. Evan menginginkan sesuatu sebentar. Sebentar saja. "Akh, Evan, kumohon," Evan masih sibuk mengecup leher Ara. Begitu juga dengan tangannya yang kini beralih menuju pusat tubuh Ara. Mengusap milik wanita itu yang masih terbalut celana. "Evan-akh, astaga, berhenti." "Aku tahu kamu pasti menyukainya." Ara memang menyukainya. Apapun yang Evan lakukan dia menyukainya. Hanya saja, tidak untuk sekarang. Orang bisa melihat mereka melakukan ini. Tanpa Ara sadari bibir Evan menghisap leher Ara. Membuat tanda yang terlihat samar tapi masih tetap dapat dilihat. Perhatian wanita itu benar-benar terbagi hingga kewarasannya menghilang. Bahkan tak sadar jika Evan menghisap lehernya. Evan berhenti. Membalikan tubuh Ara menghadapanya. Wajah wanita itu merah sekali. Bahkan matanya terlihat sayu. Ara memang mudah sekali terangsang. Padahal dia hanya menggoda saja. Evan memeluk Ara erat. Membiarkan wanita itu tenang dari syoknya. Ara syok karena Evan baru saja memaksanya. Tapi, bukan marah, wanita itu diam saja saat dipeluk Evan. Pelukan lelaki itu sangat membantu. Buktinya, lambat laun syoknya hilang. Dia sudah tenang. "Sudah?" Evan masih enggan melepas pelukannya untuk wanita itu. Menciumi puncak kepala Ara dengan lembut. Mencium aroma coklat dari rambut milik Ara. "Apa tidak bisa menungguku sebentar hingga datang sendiri ke Apartemenmu?" Evan mendadak merasa bersalah. Suara wanita itu berubah parau. Apa wanita itu menangis. Evan melepas pelukannya. Menatap mata Ara yang sudah merah. Berkaca-kaca karena hampir menangis. Sumpah, Ara sangat takut tadi. Bahkan pelukan Evan masih membuat rasa takutnya belum hilang. Evan menangkup pipi Ara dengan kedua tangannya. Menatap wanita itu. "Jangan menangis. Maafkan aku. Aku hanya terlalu merindukanmu," Ara hanya diam saja menatap Evan. Lelaki itu merasa bersalah. "Evan, aku takut." Evan memeluk Ara lagi. "Apa yang kamu takutkan, heum?" Evan semakin memeluk Ara erat. Wanita itu balas memeluk Evan. Kemudian terisak pelan. "Aku takut jika seseorang melihatnya. Aku takut Aldric tahu kita melakukan ini. Aku takut dia meninggalkanku." Evan mengeraskan rahangnya. Jadi, Ara takut jika kekasihnya melihat ini. Sialan sekali. Evan masih mengusap rambut wanita itu. "Tidak. Disini sepi, kan? Jarang sekali yang melewati tempat ini. Jadi, berhenti menangis." Ara melepas pelukannya. Menatap Evan dengan tatapan yang sulit diartikan. Evan menghapus air mata yang masih menggenang dipipi Ara. Mencium kening wanita itu. Menyatukan dahi mereka hingga saling menempel. Mata sayu Ara membuat Evan merasa ingin melindunginya. Kali ini tak ada mata berbinar yang menatapnya. "Jangan takut. Jika Aldric meninggalkanmu, kamu bisa datang kepadaku." Ara memutar bola matanya. "Aku pergi. Jangan menghubungiku. Aku tidak akan datang ke Apartemenmu hingga waktu yang kutentukan sendiri. Urus kebutuhan biologismu sendiri!" Ara segera meninggalkan Evan. Penampilan Ara cukup berantakan. Bahkan rambutnya sedikit kusut. "Ara, kenapa menatap matamu saja rasanya sulit? Aku hanya ingin melihat mata berbinarmu, bukan mata sayumu." Batin Evan berbisik. Netranya menatap punggung Ara yang lambat laun menghilang. Wanita itu terlihat sedikit kacau. Evan mengakui satu hal. Dia merasa bersalah telah membuat wanitanya menangis. Tak seharusnya dia melakukan ini. Tapi, sungguh Evan merindukan wanita itu. Tapi, sebenarnya Evan belum pernah tidak merindukan wanita itu. Selalu merindukan setiap harinya.  Termasuk saat wanita itu tidur didekapannya. *** Ara keluar dari toilet setelah membenahi penampilannya yang kacau tadi. Untunganya dia segera menemukan toilet terdekat. Matanya masih merah begitu juga hidungnya. Padahal dia sudah cuci muka. Tapi, wajahnya masih terlihat tidak baik-baik saja. "Ara!" Seseorang memanggil namanya. Ara melambaikan tangannya sambil tersenyum. "Halo, Rayhan" Rayhan Ananda, salah satu teman Aldric yang Ara kenal. "Mencari Aldric?" Ara mengangguk. "Dimana dia?" Rayhan berpikir sejenak. Mencoba mengingat. "Aldric berkata padaku dan Vano akan menemui dosen sebentar. Kekasihmu itu selalu saja menemui dosen tanpa terkecuali. Sebenarnya untuk apa?" Ara mengendikan bahunya. "Mungkin bimbingan." Rayhan mengangguk. "Ah, tas Aldric sengaja ditinggal di Kelas tadi. Coba saja ke Kelasnya. Pasti dia kembali lagi mengambil tasnya nanti." Ara mengangguk. "Terimakasih, Rayhan." Setelahnya Ara berjalan melewati Rayhan. "Ara-ya, tunggu sebentar," Rayhan mendekati Ara. Berdiri dihadapan wanita itu. "Apa kamu baik-baik saja?" Ara mengangguk saja kemudian berjalan meninggalkan Rayhan yang saat ini tengah heran demgan wajah Ara. Ara menemukan kelas milik Aldric. Benar saja, tas ransel berwarna hitam tergeletak diatas meja. Aldric memang ceroboh. Bagaimans jika ada yang mencuri tasnya. Kenapa tidak dibawa saja tadi. Dasar bodoh. Ara masuk ke dalam kelas itu. Masih ada beberapa mahasiswa yang berada di Kelas. Mungkin mengerjakan tugas, mengulas materi tadi, atau berbincang. Mereka menatap Ara heran. Mungkin wajahnya asing. Tapi, saat Ara mengambil tas Aldric. Mereka semua tahu wanita ini adalah kekasih teman sekelas mereka. Ara tak menyapa mereka. Lagipula mereka juga diam saja. Setelah diambil tas itu, Ara segera meninggalkan kelas. Membawa tas hitam dengan gantungan marimong berwarna merah. Marimong merah ini adalah pemberian Ara. Dia juga punya. Tergantung juga di tasnya. Ara memilih duduk disalah satu bangku. Menanti Aldrico Mikail mencarinya. Kemudian Ara membuka tas milik Aldric untuk memeriksa dimana keberadaan ponsel lelaki itu. Tapi, tidak ada. Jadi, Ara simpulkan, ponsel lelaki itu dibawa serta. Ara mengambil ponselnya dari dalam tas. Mengirim pesan kepada Aldric bahwa tas lelaki itu sudah dibawa oleh Ara. Kemudian mengatakan bahwa Ara menunggunya di Taman fakultas. Semoga lelaki itu membaca pesannya. Tak berselang lama Aldric berlari. Nafas lelaki itu tersenggal-senggal. Kemudian duduk disamping Ara. Membuat Ara terkejut bukan main. "Astaga, kamu berlari?" Aldric mengangguk. Peluh lelaki itu bercucuran. "Kamu mencariku?" Ara mengangguk. "Kamu tidak membalas pesanku." Aldric menatap Ara dengan tatapan bersalah. "Maaf, ponselku dalam mode diam. Jadi, aku tidak tahu ada notifikasi masuk." Ara mengangguk. "Tidak perlu berlari, Sayang. Lihat, peluhmu bercucuran." Ara mengambil tisu dari dalam tasnya. Kemudian menghapus peluh Aldric. Lelaki itu tersenyum melihat Ara yang selalu bersikap manis kepadanya. "Aku takut kamu menunggu lama." Ara tersenyum. "Tapi, tidak usah berlari." Aldric mengangguk. Diusapnya puncak kepala Ara dengan sayang. "Ara, kamu sakit? Kamu terlihat tidak baik-baik saja." Ara menggeleng. "Aku hanya mengantuk." Ucap Ara berbohong kepada Aldric. "Maaf, ini pasti karena aku yang membuatmu menunggu lama." Ara menggeleng. "Aku memang mengantuk saja. Ayo, aku mau pulang." Aldric berdiri mengambil tas miliknya dari tangan Ara kemudian meletakan tas itu dibahunya. Ara berdiri juga. Kemudian menggenggam tangan Aldric. Mereka melangkahkan kaki menuju parkiran dimana tempat mobil Aldric berada. Setelah menemukan mereka segera berkendara menuju Apartemen milik Aldric. *** Aldric memasukan kode apartemennya. Ara mengekor dibelakangnya. Apartemen Aldric letaknya cukup dekat dengan milik Ara. Mungkin sekitar setengah jam mengendarai mobil. Bisa lebih saat jam tertentu. Tergantung situasi jalanan. "Astaga, Aldrico Mikail, kamu tinggal di kapal pecah. Kenapa jorok sekali, sih." Ara menatap apartemen Aldrico yang berantakan dengan risih. Berbeda sekali dengan apartemen Ara yang sangat rapi dan bersih. Membuat siapa saja yang datang menjadi betah. Beberapa barang letaknya tidak beraturan. Kemudian sisa makanan yang menumpuk diatas meja makan. Belum lagi piring kotor. Lalu, ada juga bungkus ayam, bungkus pizza, botol, dan kaleng minuman menumpuk disampah. "Berapa lama kamu tidak membersihkannya?" Ara memang sudah sekitar sebulan lebih tidak kemari. Aldric yang biasanya datang ke apartemen Ara. "Aku sibuk, Ara. Kamu tahu sendiri." Ara menggeleng. "Aku bersihkan dulu kalau begitu." Aldric membulatkan matanya. "Tidak usah. Kamu duduk saja. Kamu bilang tadi mengantuk. Wajahmu terlihat seperti habis menangis tadi." Ara terhenyak. Kemudian menggeleng mengalihkan pembicaraan. "Aku bersihkan saja, ya. Kamu harus membayarku," Aldric tersenyum, mengusap puncak kepala wanitanta. "Berapa aku harus membayarmu?" Ara menyamakan tingginya dengan Aldric. Mengecup bibir lelaki itu sekilas. Mengalungkan lengannya dileher Aldric. "Sekotak pizza dan sekotak ayam. Bagaimana?" Aldric tertawa kecil. "Hanya itu?" Ara mengangguk. "Baiklah." Setelahnya Ara mulai membenahi apartemen Aldric. Dimulai dari ruang keluarga lelaki itu. Banyak botol dan kaleng minuman yang tidak dibuang. Kemudian sisa makanan yang tumpah. Bahkan meja menjadi terasa lengket. Kemudian membersihkan karpet berbulu dengan vacum cleaner. Setelah selesai Ara beralih menuju dapur. Membersihkan meja makan dengan kain basah agar lengketnya menghilang. Kemudian memindahkan sampah pada plastik yang lebih besar. Selanjutnya Ara mencuci piring kotor. Mungkin sekitar seminggu tidak dibersihkan hingga aroma tidak sedap tercium kemana-mana. Ara sebenarnya sedikit jijik. Hanya saja, dia tidak mau apartemen Aldric menjadi sarang penyakit. Jadi, dia yang harus membersihkannya. Sebenarnya Aldric memakai jasa pembersih apartemen seminggu dua kali. Tapi, kemarin dia pergi ke luar negeri. Dia mengatakan kepada pihak apartemen untuk membersihkan nanti saja saat dia pulang. Tapi, saat pulang lupa mengabari pihak apartemen agar dibersihkan. Ara membersihkan lantai dengan vacum cleaner. Kemudian mengepel lantai itu hingga bersih. Aldric hanya duduk saja mengamati Ara. Wanita itu memang sangat mumpuni dijadikan seorang istri. Diam-diam Aldric tersenyum. Sampah tertumpuk hingga dua trash bag sekaligus. Padahal Aldric tinggal sendirian. Apartemen lelaki itu sudah lebih baik daripada tadi. Bahkan aroma lavender mulai tercium menggantikan aroma busuk. Ara yang memberikan pengharum ruangan lavender di pendingin ruangan Aldric. Agar aroma busuknya menghilang. Ara duduk disamping Aldric. Memejamkan mata sejenak. Karena lelah sekali. "Apa kamarmu kotor juga?" Aldric yang kini menatap Ara menggeleng. "Aku selalu menjaga kamarku agar selalu bersih." Ara mengangguk. Aldric mengusap peluh yang ada dikening Ara dengan jemarinya. Merapikan anak rambut Ara yang menutupi sebagian wajahnya. Kemudian menyibakkan rambut Ara kebelakang juga karena melihat wanita itu yang kepanasan. "Ini kenapa?" Aldric menunjuk leher Ara. Ada tanda merah disana. Aldric berusaha berpikir positif. Mungkin gigitan nyamuk. Tapi, ini lebih seperti hisapan manusia daripada hisapan nyamuk. Ara membeku. Mencoba memegang lehernya yang ditunjuk Aldric. "Kenapa?" Dia sendiri juga tidak tahu ada tanda merah dilehernya. Sejak tadi dia membiarkan rambutnya terurai. Dia lupa membawa ikat rambut. Ara mencoba berusaha melihat lehernya. Tapi, tidak bisa. Dia bukan burung hantu yang mampu memutar kepalanya. "Ntahlah. Mau liat?" Aldric mengambil ponselnya yang ada dimeja. Kemudian mengambil gambar leher Ara. Wajah Ara sedikit panik. Lalu, mencoba menenenangkan perasaannya agar Aldric tidak curiga. Evan Adinata, memang sialan. Bodoh sekali Ara karena tidak memeriksa sebelum bertemu Aldric. Bodoh sekali memang. "I-ini, nyamuk sepertinya. Kamu tahu sendiri nyamuk seperti apa." Aldric menaikan sebelah alisnya. "Nyamuk menggigit sebesar ini? Apa nyamuknya sebesar kucing?" Ara tergagap. "Gigitan nyamuk lalu aku menggaruknya dengan sedikit keras." Aldric mengangguk saja. Mencoba percaya dengan Ara. "Ah, kamu sudah memesan pizza dan ayam?" Aldric mencoba melupakan tanda merah itu. Kemudian menggeleng. "Aku sibuk mengamatimu tadi." Ara tersenyum. "Pesan sekarang kalau begitu." Aldric mengambil ponselnya. Menekan nomor pizza dan chicken delivery. Aldric berbicara dengan seseorang ditelponnya. Lebih tepatnya berbicara dengan pihak delivery. Setelah menyebutkan pesanan dan alamat. Lelaki itu menutup telponnya. Kemudian meletakan ponselnya diatas meja lagi. "Tunggu sekitar setengah jam." Ara mengangguk. "Bagaimana jika kita ke kamarmu saja? Aku lelah sekali sembari menunggu." Aldric setuju. Menggiring Ara menuju kamarnya. Kemudian mereka berbaring sembari berpelukan. Aldric bercerita mengenai pengalamannya di Kanada mengikuti pelatihan. Banyak dari luar negeri juga. Ara mendengarkan cerita Aldric hingga dirinya mulai mengantuk. Kemudian tak berselang lama Ara tertidur dipelukan Aldric. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN