Sebuah Keinginan Part 5

1036 Kata
"Masa sih Far, hehe. Kalian itu sangat berharga, asal kalian tahu ya. Makanya kalo ada laki-laki yang jahat sama kalian, segera kabari kita-kita. Biar dikasih sedikit pelajaran." Ujar Gege. "Zidan juga harus dikasih pelajaran dong, Ge. Kan dia udah nyakitin Sita." Fara nyeletuk. "Itu beda kasus. Aku dah nasihatin dia. Dafa juga sepertinya udah melakukan hal yang sama. Semuanya diserahin ke Zidan, dia tahu bagaimana harus bersikap. Dia sudah dewasa." "Ga salah emang kita minta saran ke Gege ya Mir. Dia cukup dewasa menyikapi sebuah masalah ternyata." "Ya kan, dari luar aza kaya tengil, hehe, padahal sangat sangat dewasa dan logis," tambah Mira. "Dah ah, yuk kita pulang. Aku anter kalian pulang ya." "Aku bawa mobil Ge, kamu anter Mira aza. Aku mau ke toko buku. Duluan ya." "Oke." Sementara itu, setelah matahari agak turun, barulah Dafa dan Sita memutuskan untuk pergi dari sana dan menuju musola. Mereka masuk dan keluar berbarengan. Tak ada lagi tangis di mata Sita, pikir Dafa. Sepertinya dia sudah mulai berproses. Semoga dia bisa menghadapinya dengan baik. Ga bagus juga kalo ampir setiap hari menangis. Menguras tenaga. "Dah selesai Ta?" "Udah. Senja sebentar lagi muncul Daf. Aku ingin melihat lagi. Sebelum pulang ke rumah." "Mau lihat di mana?" "Kamu tahu bukit kecil yang deket sekolah dasar kita? Ke sana aza yuk?" "Memang belum ada bangunan di sekitarnya?" "Setahu aku sih belum karena itu tanah milik salah satu warga di sekitar sekolah. Ga ada yang berani membangun karena itu hak milik orang lain." "Oke kalo gitu. Dah lama juga aku ga ke sekolah kita. Sekalian nostalgia. Tapi inget ya Ta, jangan nangis lagi." "Semoga, hehe." Dafa pun melajukan mobilnya menuju sekolah dasar mereka dulu. Bangunannya ga ada yang berubah. Cuma udah dicat dan ditambah banyak tanaman serta bunga. Membuat sekolah tampak asri dan cantik, terawat. Tak lupa, Dafa berswafoto bersama Sita di depan gerbang sekolah mereka itu. "Enam tahun kita sekolah di sini. Banyak kenangan manis dan pahit." "Betul Daf. Terlalu.banyak memori." "Kita deket saat kelas 5 ya kan Ta? Saat banyak tugas yang harus dikerjakan berkelompok dan membuat kita berenam harus belajar bareng setiap hari." "Iya betul. Saat itu, kita hampir ga punya waktu bermain. Hampir setiap hari mengerjakan tugas. Melelahkan." "Kita langsung ke bukit belakang yuk?" "Oke." Mereka melanjutkan pergi ke bukit kecil di belakang sekolah dengan berjalan kaki. Bukitnya ga terlalu besar. Ada bebatuan yang bisa dijadikan tempat duduk. Dulu mereka berenam selalu datang ke bukit ini setelah belajar kelompok, untuk memandangi senja. "Duduk sini di sebelahku, Ta." "Oke." Mereka pun duduk bersebelahan. Tak lupa Dafa mengabadikan momen tersebut. Fotonya bersama Sita dan senja serta bukit sekolah. Dafa pun mulai updet status. "Senja sore ini, di tempat yang spesial, with you." Setelah itu, mereka asyik memandangi senja yang selalu indah. Seindah masa kecil mereka di sekolah itu. Seperti biasa, Dafa merangkul bahu Sita dan Sita merebahkan kepalanya ke bahu Dafa. Keinginanku hanya satu, andaikan waktu bisa berhenti saat ini saja, saat aku bersamamu Sita Laura, Dafa bergumam dalam hatinya. Sedangkan Sita, pikirannya berkelana ke masa-masa sekolah dulu. Mengingat teman-temannya, guru-guru, penjaga sekolah, penjual jajanan, penjaga perpustakaan, dan sekelebat bayangan Zidan pun muncul. Saat mereka sudah mengikrarkan diri untuk menjadi sepasang kekasih, mereka menjadi canggung jika bertemu di sekolah ataupun sedang belajar bersama. Berbeda jika sedang di private chat. Mereka bisa mengekspresikan perasaan masing-masing dengan leluasa. Sita ingin sekali membunuh rasa itu saat ini juga. Tapi mengapa susah sekali? Mengapa bayangannya selalu saja mengikuti? Keinginannya sederhana, menghapus nama Zidan Mubarak di hatinya. Senja, bantu aku dalam prosesnya, gumam Sita. Tak lama, notifikasi grup mulai bermunculan. Seperti biasa yang selalu ramai adalah grup Mentari. Dan seperti biasa juga, Gege yang memulai obrolan. "Duh ada yang lagi nostalgia nih kayanya." "Kamu tahu aza Ge, mana ga ada acara ngajak kita-kita lagi. Kan kita juga mau lihat sekolah kita, ya ga Mir?" "Iya nih, payah ah Sita ma Dafa. Ke sekolah ga bilang-bilang. Aku kan lagi bantu Gege cari spare part mobilnya. Ini juga belum nemu toko yang pas." Mira menjawab. "Aku juga masih di toko buku nih, dari tadi ngubek-ngubek belum nemu juga," kata Fara. "Ini ngedadak temen-temen. Tiba-tiba aza ada yang ngajak ke sini. Sekalian aza, dah lama aku juga ga ke sini." Dafa menjelaskan. "Entah kenapa aku tiba-tiba kangen pengen lihat senja di bukit kecil ini temen-temen," jawab Sita. Saat obrolan berlangsung, Zidan yang sedang merebahkan diri di rumahnya terdiam melihat isi obrolan. Pikirannya kembali ke masa lalu. Saat masih bersama menjalin kasih bersama Sita. Saat-saat paling membahagiakan untuknya. Zidan rela datang lebih pagi ke sekolah hanya untuk menunggu Sita-nya datang dengan senyuman indah di pagi hari. Ah, masa kecil selalu indah, pikir Zidan. Tiba-tiba, terlintas di pikirannya untuk ikut dalam obrolan teman-temannya di grup. "Aku juga kangen sekolah kita." Zidan hanya mengatakan itu di obrolan. "Eh kamu masih ada di grup ini, hehe. Karena jarang komen, kupikir kamu lagi sibuk Zi," Kata Gege. "Ada kok. Aku juga lagi ga sibuk. Seharian ini cuma rebahan di rumah. Pagi keluar sebentar, pulang lagi." Keluar sebentar bersama Wina. Dasar kamu Zi. Masih aza ga mau ngomong sejujurnya, padahal semua dah tahu tadi kamu pergi ama Wina. Dan kenapa harus Wina. Aku sebenarnya ga membenci Wina, aku cuma ga suka sikapnya yang terlalu bebas untuk ukuran seorang wanita. Ah sudahlah, jangan dipikirin, tambah mumet, pikir Sita. "Kamu tadi pergi ama Wina kan? Hayo ngaku aza. Tadi di kafe, aku, Fara, dan Mira ngelihat kamu dan Wina. Mau disapa, ga enak takut ganggu yang lagi pacaran." "Aku ga pacaran ama dia ya. Cuma nganter doang beli kado, terus balik deh." Kata Zidan. "Tapi dianya kayanya yang masih suka ama kamu Zi, tahu kamu dateng ke Indo, langsung mepet terus," ujar Fara. "Kita mau yang terbaik buat kamu Zidan. Cari perempuan yang benar-benar baik. Kita ingin kamu bahagia," Mira menambahkan. Apakah bahagiaku ada di kamu, Sita? Zidan bergumam. Tapi kenapa rasa kecewaku padamu mengalahkan semua rasa cintaku. Rasa cinta itu nyaris terkikis habis, Sita Laura. Cahayaku. "Terima kasih Mir, aku juga berusaha mencari yang terbaik, doakan aku mendapatkan perempuan yang baik ya teman-teman." Pinta Zidan. "Kami selalu mendoakanmu Zi," kata Dafa. "Semoga kamu bahagia, Zi," Sita menambahkan. Deg, serasa nyeri hatinya membaca doa Sita untuknya. Bahkan Sita berharap dirinya bahagia. Zidan pun meneteskan air mata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN