10

1150 Kata
10   Walaupun dalam kondisi yang tengah tertidur lelap, tapi wajahnya masih terlihat sangat cantik bagiku. 'Shill, kapan kamu sadar akan perasaanku terhadapmu, kalau aku benar-benar sangat mencintaimu.' Setelah itu, aku memutuskan untuk keluar dari kosannya shilla, dan balik pulang kerumahku. ************ RANDY POV Sinar matahari yang masuk melalui jendela kamar tempat aku tertidur lelap, menyilaukan pandangan mataku yang baru saja terbuka. Aku memegangi kepalaku yang berdenyut-denyut, rasanya pusing sekali. Pandangan mataku melihat ke sekeliling ruangan kamar yang sangat asing bagiku. "Ini di mana?!" kataku sambil memegangi kepalaku. Akhirnya aku merubah posisi tubuhku menjadi duduk di pinggir ranjang. Aku mencoba mengingat-ingat kejadian semalam yang membuat aku menjadi seperti sekarang ini. "Ohh jadi gue lagi di kamar boby, tapi.... Tu anak ke mana?!" ucapku berbicara sendiri. Aku berusaha bangkit berdiri melangkahkan kakiku menuju pintu. Lalu menuruni tangga dan mencoba memperhatikan kesekeliling rumah untuk mencari keberadaan boby. "Ck, tu anak mana sih?! Masak iya dia sekolah, dan ninggalin gue sendiri disini!" gerutuku dengan memegangi kepalaku yang masih sangat pusing. "s**l, semalem gue minum berapa banyak sih." "Tujuh botol." sahut boby tiba-tiba. "Eh k*****t, lo mau buat gue sakit jantung?? Ngagetin gue aja lo." "Bukannya justru malah bagus ya, kan lo bisa cepet mampus. Nggak perlu susah-susah buat nyiksa diri lo dengan banyak minum kayak semalem. Itu kan yang lo mau." kata boby sinis. "Ck, maksud lo apa sih bob?" ucapku yang kini sudah duduk di kursi ruang tamu dengannya. "Udah deh ran, gue tau kalau lo saat ini lagi ada masalah. Dan itu pasti ada sangkut pautnya dengn shilla kan?" tebak boby menyelidik. "Lo tu sok tau. Masalah gue nggak ada sangkut pautnya sama dia. Ini cuman masalah bokap gue. Dia nyuruh gue buat nerusin perusahaannya, dan gue nggak mau." ucapku yang tidak sepenuhnya berbohong. Tapi sahabatku boby malah diam dan memperhatikanku lekat-lekat, seperti sedang mencari suatu kebohongan yang ada diriku. "Gue nggak bohong bob." lanjutku. "Lah terus, semalam pas lo mabuk di bar, kenapa mulut lo manggil-manggil nama tu cewek terus. Dan lo juga bilang kalau lo udah nyium dia. Waahh parah lo rand.." ucap boby sambil menggeleng-nggelengkan kepalanya. Akupun kaget dengan perkataan boby barusan. Dan diriku langsung saja menjadi salah tingkah di buatnya. "Anjiiiirrr nih mulut s****n, kenapa bisa-bisanya bongkar rahasia pemiliknya sih." batin randy dengan ekspresi kikuk. "Udah deh bro, ngaku aja. Nggak usah merasa gengsi kalau lo emang beneran suka sama tu cewek. Lo kan udah lama gangguin dia. Kan ada pepatah yang mengatakan kalau, dari benci bisa berubah menjadi cinta. Lagian apa salahnya kalau lo jadi suka sama dia. Itu kan wajar." ucap boby panjang lebar. "Udah gue bilang, gue nggak ada perasaan sama dia bob." ujarku mencoba berbohong. "Ck, terserah lo rand, gue cuman mau ngingetin kalau penyesalan selalu datang belakangan." ucap boby mengingatkan, sambil menyodorkan makanan ke diriku. "Nih makanan buat lo. Aku pun menerima dan memakannya. Dan kami membicarakan banyak hal mulai dari kenapa dia nggak sekolah, dan katanya dia nggak bisa ninggalin aku sendirian di rumahnya. Karena takut terjadi apa-apa, gara-gara kelakuanku semalam. Boby memang temanku yang sangat baik. Dia selalu bisa mengerti kondisiku. Dan aku beruntung memiliki sahabat seperti dia. Tapi... Gimana ya sekarang dengan shilla..... Entah kenapa aku takut lisa dan rani mengganggunya lagi. Karena aku hari ini bolos, aku jadi nggak bisa ngelindungi dia. "Ahh, mungkin nanti gue akan ke tempat kosnya pas dia pulang sekolah." batinku sambil tersenyum miring. ************* LISA POV Saat jam pulang sekolah..... "Lepasin ........ Lepasin tangan gue! Kalian apa-apa an sih?" bentak shilla kesal sambil sedikit meronta. Aku merasa senang sekali, melihat ekspresinya sekarang yang sudah terlihat sangat ketakutan. Ya, dari kemarin aku dan rani memang sudah merencanakan semuanya, untuk memberi pelajaran kepada cewek s****n ini. Semakin hari, aku semakin sangat membencinya. Apalagi saat orang yang aku cintai yaitu randy, membela dengan cara menarik tangannya kemarin. Aku dan rani tertawa terbahak-bahak, melihat dia yang meronta-ronta seperti itu. "Heh, lo bisa diem nggak?! b***h!!" ucapku sambil menekan rahangnya dengan sangat keras. "Le-lepas.. Sa-sakit..." rintihnya memelas. Akupun melepaskan tanganku dari rahangnya. "Ka-kalian berdua sebenarnya mau apa?" lanjutnya, yang sudah meneteskan air mata. Rani dan akupun saling menatap penuh arti. Dan kami berduapun tersenyum jahat. Lalu aku mengajak rani untuk membawa cewek s****n itu memasukkannya ke dalam gudang sekolah,untuk mengunci dan meninggalkannya sendirian di sana. "Hahaha, rasain.... Biar tau rasa dia." ujar rani dengan tertawa jahat. "Biar mampus sekalian dia di sana." ucapku menambahkan. Di luar pintu gudang itu, aku bisa mendengar suara tangannya yang masih memukul-mukul pintu tersebut. Dan memohon untuk dikeluarkan. Tentu saja rani dan aku tidak menghiraukannya. Kamipun pergi meninggalkan cewek s****n itu sendiri di sana. Aku merasa sangat yakin sekali, kalau nggak akan ada orang yang bakal nolongin dia. Kecuali kalau pagi tiba, karena petugas kebersihan sekolah pasti sudah datang menyelamatkannya. "Uuuuhhhhh shilla yang malang, dia pasti ketakutan setengah mati di dalam sana. Ya kan lis?!" ujar rani yang kini sudah berada di dalam mobil, menuju rumah. "Iya lah, secara gitu, itu gudang pasti serem dan gelap banget. Belum lagi penghuni kecil yang berkeliaran di dalam sana." jawabku menjelaskan sambil memegang kemudi mobil. "Penghuni kecil?? Maksudnya lis??" tanya rani heran. "Maksud gue, tikus..!!!" "Iiihhhhh..... geli gue lis mbayanginnya." ucap rani jijik. "Apalagi gue." sahutku. ************ SHILLA POV "TOLOOONNGG..... TOLONGIN GUE, BUKAIN PINTUNYA!! GUE TAKUUT. SIAPAPUN TOLONGIN GUE!!" Rasanya tenggorokanku sudah kering akibat berteriak sedari tadi. Dan tanganku rasanya sudah terasa memar sekali, akibat memukul-mukul pintu gudang ini. Dan berharap ada yang mendengar dan menolongku. "Gue laper....." gerutuku sambil memegang perutku yang sudah keroncongan. "Mana gelap banget lagi. Mereka jahat banget, ngelakuin ini ke gue." Sebenarnya aku sangat takut dan panik sekali saat ini. Apalagi dengan kondisi gudang yang sangat gelap banget. Dari tadi juga aku seperti mendengar suara makhluk berdecit, yang aku yakin pasti itu tikus. Aku tidak begitu takut dengan tikus, hanya saja aku merasa geli kalau sampai mereka menyentuh kulitku. Walaupun cuman sedikit. Kepalaku rasanya sangat pusing sekali. Aku juga nggak tahu kenapa. Ohh, mungkin karena aku belum makan. Dan seharusnya ini kan waktunya aku makan. "Ya ampuunn.... Gimana dengan kerjaan gue. Moga aja alex bisa mengerti, dan nggak mecat gue gara-gara gue nggak masuk tanpa izin." ucapku lirih, yang merasa khawatir. Kini aku tengah terduduk di pojokan gudang sambil memegang kedua lututku. Dan kondisi gudang ini sangat berdebu, dan sangat kotor. Aku takut kalau nggak akan ada orang yang nyelametin aku di dalam sini sampai besok. Otakku berfikir keras, agar bisa keluar dari tempat ini. Dan aku teringat dengan handphoneku yang aku taruh di dalam tas sekolahku. "Ya tuhaaann.. Kenapa gue nggak kefikiran sih?!" batinku dengan memukul pelan keningku sendiri. Akupun mengambil handphoneku untuk menelfon seseorang. Tapi aku bingung, siapa yang harus aku hubungi. Kalau aku menghubungi alex, aku takut mengganggu pekerjaannya. Menghubungi teman?? Bahkan aku merasa tidak mempunyai teman sama sekali di sini. Kalaupun ada, aku nggak mempunyai nomer handphonenya. Aku bingung harus bagaimana...!! Ku tundukkan kepalaku menempel di kedua lututku dengan posisi masih duduk, entah mengapa saat ini aku merasa kalau hidupku benar-benar sangat menyedihkan sekali. Aku merasa lelah dengan semua keadaan dan masalah yang selalu menimpaku. Tak terasa air mataku terjatuh kembali membasahi pipiku. "Hiks.....hiks..... Kenapa harus hiks...aku yang mengalami hiks... Semua ini....!!" tangisku pecah seketika. Di saat aku sedang menangis tersedu-sedu, tiba-tiba handphone yang ku taruh di lantai dekat denganku itupun berdering dan menampilkan nama sang penelfon. Aku kaget ketika melihat siapa yang menghubungiku. Aku bingung harus bagaimana. Tapi akhirnya aku memutuskan untuk mengangkatnya. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN