9

1382 Kata
9   "Sebenarnya randy itu anak bi siti apa kalian?! Ucapku frustasi. Yang seketika itu membuat papa mamaku terdiam seketika. "Randy..... Mama min——" ucapan mamaku terhenti olehku yang mengatakan kalau malam ini aku ingin menginap di rumah temanku. *** AUTHOR POV Shilla saat ini sedang berada di cafe tempatnya bekerja. Dan dia kini sedang sibuk melayani pesanan dari para pelanggan cafe yang datang. Suasana cafe yang saat ini sedang ramai itu, membuat shilla dan para pegawai lain menjadi sedikit kuwalahan. Disaat para karyawan lain tengah fokus oleh pesanan yang di minta para pelanggan, lain halnya dengan shilla yang sedang bekerja sambil memikirkan perbuatan randy tadi siang. Bagaimana tidak, lelaki yang sering mengganggunya itu, telah dengan lancang mencuri ciuman pertamanya. Dan tentu saja shilla tidak terima dengan kelakuan randy yang seenaknya itu. Walaupun pada saat ketika lelaki itu mencium bibirnya tanpa permisi, shilla merasakan jantungnya berdegup dengan kencang, dan dia merasa seperti ada kupu-kupu yang sedang menari-nari di perutnya. Tapi tetap saja itu adalah perbuatan yang tidak sopan bagi shilla. "Huh, dasar cowok m***m sialan..!!!!" umpat shilla dengan kedua tangan yang sedang memelintir kain yang di gunakan untuk membersihkan meja dapur. Tanpa di sengaja, kata-kata shilla di dengar oleh bosnya yang bernama alex tersebut. Yang sedari tadi tengah memperhatikan gerak gerik shilla yang sedikit aneh itu. Bagaimana tidak, pada saat tadi shilla mengantarkan pesanan ke salah satu meja pelanggannya, shilla dengan tidak sengaja menumpahkan isi minuman yang di pesan oleh pelanggan tersebut. Untung saja minuman yang tumpah itu tidak mengenai baju pelanggan tersebut. Jadi shilla dengan cekatan langsung meminta maaf dan segera menggantinya dengan minuman yang baru, dan tentu saja gratis. Sebagai permohonan maaf atas pelayanannya yang sangat buruk. Padahal shilla selama ini termasuk sebagai karyawan yang sangat rajin dan terampil dalam menghadapi sikap pelanggan yang kadang berbeda-beda. "Shill, kamu kenapa? Kok kalau aku lihat-lihat kamu dari tadi, kayaknya kamu lagi ada masalah ya??" ucap alex penuh selidik. "Hah?? Ng—nggak kok lex, eh pak. nggak ada masalah apa-apa." ucapnya berbohong. "Jangan bohong sama aku shil, udah.... Kalau kamu manggil aku dengan sebutan alex di cafe pun nggak papa. Aku nggak akan mecat kamu hanya gara-gara hal sepele kayak gitu kok." ucap alex sambil menepuk pundak kiri shila. "Lagian kan kita kenal juga udah lumayan lama shil." sambung alex dengan menatap shilla lembut. "Tapi tetep aja aku nggak enak sama karyawan yang lainnya. Nanti di kiranya aku nggak punya sopan santun sama bos lagi." elak shilla memberi alasan. Tiba-tiba .. Karyawan lain ada yang memanggil alex, karena sesuau hal. Dan alex pun menghampirinya dan meninggalkan shilla di sana. Tapi sebelum itu, alex mengatakan sesuatu kepada shilla terlebih dahulu. "Shil, nanti pulang kerja aku yang anter kamu ya?!" kata alex dengan tersenyum tulus. " tapi pak——" "Eits...... Nggak ada tapi-tapian. Lagipula aku pengen tau tentang masalah kamu tadi, sampai-sampai membuat kamu menjadi tidak fokus bekerja." ucap alex dengan ekspresi pura-pura kesal. "Maaf....." ucap shilla sambil tertunduk lesu. Dan alex pun berlalu sambil tersenyum dan mengacak-acak rambut shilla karena gemas dengan ekspresi gadis itu. *** Di tempat lain.. Lelaki yang bernama randy itu kini sedang bersama dengan sahabatnya yang bernama boby. Mereka tengah duduk dan minum berdua di sebuah bar langganannya. Ya, memang beginilah sifat randy kalau fikirannya sedang kacau. Dia akan melampiaskannya dengan cara meminum minuman yang mengandung alkohol. Karena menurut randy, semua masalah akan segera pergi dari fikirannya jika dia sudah mabuk. Randy meneguk minumannya lagi dan lagi. Membuat boby menggeleng-nggelengkan kepalanya karena heran dengan kelakuan sahabatnya tersebut. "Rand..... Mending lo berhenti minum deh, muka lo udah kelihatan merah banget. Gue nggk mau ngelihat lo mabuk berat kayak dulu lagi." ucap boby mengingatkan. Yah, memang boby dulu pernah melihat keadaan sahabatnya itu lebih buruk dari ini. Boby ingat betul bagaimana saat itu dirinya yang tengah memapah randy keluar dari bar dalam kondisi mabuk berat, akibat randy yang telah kehilangan kakak sepupunya akibat suatu penyakit. Karena menurut randy, kakak sepupunya itu amat sangat berharga baginya. Karena ketika randy tengah di rundung masalah, hanya sepupunya yang akan mendengarkan keluh kesahnya. Tapi apa daya, kini semua itu hanya tinggal kenangan. Randy yang kini telah terbebas dari keterpurukannya akibat kehilangan sepupu kesayangannya tersebut, kini dia menjadi seperti randy yang dulu lagi. Randy yang rapuh. "Randy, lo dengerin gue nggak sih?" ucap boby sambil menepuk-nepuk pipi sahabatnya tersebut. Karena randy terlihat seperti orang yang sudah kehilangan banyak kesadarannya. "Shiil.... Gue butuh lo di samping gue shiill...." "Shilla....... Apa lo marah karena ciuman kita waktu itu?" "Shillaa... Kenapa orang tua gue nggak pernah perduli dengan perasaan anaknya shill....." "Shilla....... Jawab ... Jangan diem aja." "Nih anak kayaknya bener-bener udah jatuh cinta deh sama cewek itu. Tapi.... Apa katanya tadi?! Ciuman?? Ja—jadi, si randy udah pernah ciuman sama cewek itu?! Gila nih anak, ternyata benar-benar udah kemakan sama omongannya sendiri." batin boby. Yahh..... Setidaknya seperti itulah kata-kata yang keluar dari mulut randy saat dia tengah mabuk berat, dan tidak sadarkan diri. Yang keluar dari mulutnya hanya tentang nama shilla, shilla, dan shilla. Boby pun akhirnya membantu memapah tubuh randy yang sedang mabuk itu menuju mobilnya. Dan boby melakukannya dengan bersusah payah. "Ck, berat banget sih tubuh lo rand... Kapok gue lo ajak ke bar saat mood lo lagi nggak bagus." ucap boby yang kini sudah mempercepat laju kendaraannya menuju ke rumahnya. *** ALEX POV Jam menunjukkan pukul  11 lewat 15 menit. Walaupun sudah sangat malam, tapi aku tetap tidak mengurungkan niatku untuk mengajak wanita yang kini sudah berada di hadapanku ini untuk hanya sekedar nongkrong bersamanya. Ku pandangi wajahnya yang sangat cantik itu, bibir merahnya yang sangat mungil, dan bola matanya yang terlihat sangat menawan itu telah membuat diriku ini menjadi sangat menggilainya dari dulu. Shilla .......kenapa kau begitu sempurna di mataku?? Bahkan saat aku pertama kali mengenalnya, aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan gadis yang selama ini menjadi pekerja di cafeku. Tapi, rasa takutku yang tidak ingin kehilangannya, membuat nyaliku ciut untuk hanya sekedar mengungkapkan perasaan yang selama ini sudah terlalu lama ku pendam sendirian. Aku hanya takut kalau shilla membenciku, ketika dia tau kalau aku menyukainya. "Emmm lex, kenapa kita ke sini?" tanya shilla heran. "Emangnya kenapa shil? Apa kamu merasa nggak nyaman berada di tempat ini bersamaku?! Tanyaku dengan mengangkat sebelah alisku. "Aku suka kok, hanya saja ini kan sudah malam." katanya dengan memainkan jari tangannya. "Tapi aku ingin menagih jawaban dari pertanyaanku tadi di cafe." ucapku sambil terus menatapnya. 'Duuhh gimana nih...... Apa aku cerita aja yah ke alex tentang randy' batin shilla. "Shill, kenapa diam?" ucapku sambil menyentuh hidungnya dengan ujung jari telunjukku. "Eh, iya... Jadi gini lex ceritanya....." Aku pun mendengarkan dengan seksama semua hal yang di ceritakan shilla mengenai lelaki di sekolahnya yang bernama randy. Mulai dari saat randy yang selalu mengganggunya, sampai saat randy yang mencuri ciuman pertamanya. Jujur, ada luka di hatiku, ketika shilla bilang kalau ciuman pertamanya telah di ambil oleh pria yang bernama randy tersebut. Rasanya, saat ini aku sangat ingin sekali menghajar lelaki m***m tersebut. 's**l' "Bagaimana perasaanmu waktu itu shill?"  tanyaku sangat penasaran. "Hah? Perasaan apa yang kamu maksud lex?" tanya nya balik. "Emmm..... Maksudku, bagaiamana perasaanmu saat lelaki itu mencium bibir kamu?" tanyaku dengan hati-hati. "Aku juga tidak mengerti dengan yang aku rasain lex. Hanya saja jantungku rasanya berpacu dengan lebih cepat. Aku juga nggak ngerti kenapa?!" ucapnya dengan nada heran. JLEB...!! Mendengar ucapan shilla, rasanya membuat hatiku ini serasa seperti tertusuk oleh ribuan duri yang sangat tajam. Rasanya sangat menyakitkan. "Mungkin itu tandanya kamu menyukainya shil." ucapku lesu. Dan diapun terkejut dengan apa yang sudah kukatakan barusan. "Hell?? Nggak mungkin banget aku menyukainya lex. Lagi pula aku sudah terlanjur benci oleh tingkah laku dia dan teman-temannya yang sering mengerjaiku saat di sekolah. Apa lagi sama si lisa pacarnya." "Ohh jadi dia udah punya pacar ya..." kataku dengan mengangguk anggukkan kepalaku. Dan shilla menjawabnya dengan nada yang tidak terlalu yakin. Karena kata shilla, lelaki itu bilang kalau hubungannya dan pacarnya sudah lama berakhir. Aku terdiam mendengarkan penuturan shilla. Lalu kami mengobrol membicarakan hal yang lain. Tak terasa waktu sudah semakin larut saja. Aku memutuskan untuk mengajak wanita yang berada di sampingku ini untuk mengantarkannya pulang, dan dia pun mengiyakannya. Saat aku sudah sampai di depan kos shilla, aku melihat shilla yang duduk di sampingku ini sudah dalam kondisi tertidur lelap. Aku ingin membangunkannya, tapi aku tidak tega melihat dia dengan keadaan yang sudah tertidur seperti itu. Akhirnya aku memutuskan untuk menggendongnya masuk ke dalam, setelah sebelumnya aku mencari kunci kamar kos shilla, yang berada di dalam tasnya. Ku baringkan tubuh mungilnya itu di atas tempat tidurnya. Dan ku selimuti tubuhnya yang sudah terlihat kelelahan itu. 'Benar-benar cantik' Walaupun dalam kondisi yang tengah tertidur lelap, tapi wajahnya masih terlihat sangat cantik bagiku. 'Shill, kapan kamu sadar akan perasaanku terhadapmu, kalau aku benar-benar sangat mencintaimu.' Setelah itu, aku memutuskan untuk keluar dari kosannya shilla, dan balik pulang kerumahku. Bersambung..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN