8
"Gue nggak akan berhenti sampai cewek murahan ini keluar dari sekolah ini!" ucap lisa menunjuk shilla. Dan rani yang terheran heran dengan sifat randy yang nge bela shilla.
"Lo bener-bener udah gila lis. Lagian kita berdua sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Kita udah putus dari lama. Dan ini nggak ada hubungannya sama sekali dengan shilla." ucap randy yang sudah merasa kesal dengan tingkah laku lisa.
"Tapi gue yakin kalau in--" ucapan lisa terpotong oleh randy.
"Cukup, GUE BILANG CUKUP LIS!!" bentak randy.
Semua orang di sana melihatnya tidak percaya.
Randy yang sudah merasa kesal dengan tingkah laku lisa itu pun, akhirnya menarik tangan shilla dan mengajaknya pergi menjauh dari tempat itu.
Lisa dan rani semakin di buat tak percaya akan kelakuan randy yang menarik tangan shilla pergi dari hadapan mereka. Membuat perasaan lisa semakin sakit di buatnya, dan membuat rasa benci lisa ke shilla bertambah semakin tinggi.
Teman-teman randy seperti delon, boby, dan raka itu pun akhirnya membubarkan paksa para murid yang sedari tadi sedang melihat adegan drama yang di buat lisa dan rani tersebut.
"Bro, si randy kenapa sih tumben banget ngebelain cewek itu." ucap delon dengan menyikut pelan lengan boby.
Boby yang di tanya pun hanya diam tidak menyahut...
"Jangan-jangan, apa yang di omongin lisa sama rani tadi semuanya bener, kalau teman kita randy sudah tergoda karena ulah m***m yang di lakukan oleh cewek itu." sahut raka dengan ekspresi menduga, dan langsung mendapat jitakan dari delon.
"Heh, mulut lo ka... Sama teman sendiri di saring dikit dong omongan lo! Lo tau sendiri kan, kalau randy bukan tipikal cowok yang seperti itu. Apa lagi si shilla. Dasar bego." kata delon yang hanya di jawab raka dengan cengirannya.
"Berarti, secara tidak langsung lo bilang kalau rani cewek lo itu salah lon?" tanya raka dengan mengangkat sebelah alisnya.
Delon pun terdiam dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh sahabatnya raka tersebut.
Tapi, boby yang sedari tadi diam dan hanya mendengarkan kedua temannya ngobrol tersebut itupun hanya tersenyum penuh arti. Dan membuat kedua teman boby terheran heran.
"Nih anak kenapa sih senyum-senyum sendiri kayak orang gila?!" batin raka dan delon.
"Rand..... Kayaknya lo udah kemakan sama omongan lo sendiri yang bilang kalau lo nggak akan suka sama cewek itu. Tapi sepertinya hati lo berkata lain." batin boby berbicara dengan tersenyum smirk.
SHILLA POV
Aku melepas paksa tangan randy yang mengajakku menjauh dari tempat itu, membuat randy menatapku dengan tatapan yang sangat sulit ku artikan. "Lepasin tangan gue ren!"
Randy melepaskan genggaman di tanganku dan berganti menatapku dengan tatapan yang sangat lembut.
"Shil, maafin gue." ucapnya dengan nada yang terdengar penuh dengan penyesalan.
Akupun terdiam.....
"Gara-gara gue, lo jadi kayak gini sekarang." ucapnya sambil memegang kedua pipiku dan menghapus sisa-sisa air mata yang berada di sana.
Aku masih tetap terdiam dengan berlinang air mata.
"Maafin gue shil, please...." ucapnya parau dengan posisi tangannya yang masih berada di pipiku.
Sebenarnya dengan kondisi kami yang sedekat ini, jantungku mulai berulah lagi. Berdegup kencang tidak karuan.
Apa ini.......?
Kenapa gue begini...???
Tapi aku langsung berusaha untuk menetralkan kembali perasaanku.
"Ran... Mending lo jauhin gue!! " ucapku dengan melepaskan kedua tangan randy dari pipiku.
Randy memandangku dengan tatapan sayu, yang lagi-lagi membuat jantungku berulah kembali.
"Apa maksud perkataan lo shill?" tanya randy.
"Lo pasti udah tau apa yang gue maksud dengan perkataan gue barusan. Gue cuman nggak mau cewek lo lisa salah paham ke gue dan dia menuduh gue yang nggak-nggak lagi kayak tadi." ucapku yang juga menatap matanya.
"Lo nggak denger apa yang gue bilang ke lisa tadi?! Gue udah putus sama dia shill.... Dan itu nggak ada sangkut pautnya sama lo." ucap randy menjelaskan.
"Justru karena itu, lo tetap harus jauhin gue!"
Lelaki yang kini berada di hadapanku itu pun tiba-tiba bernafas kasar dengan ekspresi wajahnya yang lelah dan mendekatkan tubuhya kembali ke arahku. Reflek, tanganku menyentuh d**a bidangnya agar dia berhenti mendekat.
"Kalau gue nggak mau???" ucapnya dengan mengangkat sebelah alisnya.
"Dia mau ngapain sih......?" batinku bertanya tanya, dengan wajah randy yang kini sudah di posisi sangat dekat sekali dengan wajahku.
"Ran.... Menjauh dari gue!" perintahku. Tapi tidak di hiraukan oleh randy yang semakin mendekatkan wajahnya ke arahku.
"Rand....... Lo tu——"
Cup...
Tiba-tiba ucapanku terpotong oleh randy yang sudah lebih dulu membungkam mulutku dengan ciuman dari bibirnya. Akupun membelalakkan mataku karena kaget oleh ulah randy yang tidak terduga itu.
Aku berusaha melepaskan ciuman kami. Tapi lelaki itu malah memeluk pinggangku dengan satu tangan kanannya yang memegangi kepalaku. Dan membuat randy semakin memperdalam ciumannya.
DEG...
Jantungku rasanya sudah tidak karuan karena ulah randy tersebut. Akupun berusaha menyadarkan diriku dari ciuman randy yang sudah menjadi ganas itu.
Aku tidak mau terjerumus oleh perasaan aneh dengan apa yang di lakukan oleh randy terhadapku saat ini.
Untuk yang kedua kalinya aku mendorong paksa tubuh randy yang kini sudah memejamkan kedua matanya karena tengah menikmati ciuman di bibirku. Tangan kananku terangkat begitu saja mendaratkan sebuah tamparan di rahang kokohnya.
Randy tersadar melihatku sudah berlinang air mata, dan dia menatapku kembali dengan tatapan menyesal. Tanpa berbicara lagi, aku langsung berlari menuju kelasku dengan kondisi baju yang masih basah.
Sementara randy masih terdiam mematung di tempatnya.
"Apa yang udah gue lakuin tadi.....??" batin randy sambil menyentuh bibirnya.
RANDY POV
Rumah randy.....
Malam ini Di balkon kamarku, aku duduk termenung, Fikiranku menjadi sangat kacau sekali karena kejadian yang tak terduga yang gue lakuin ke shilla tadi pas di sekolah.
Aku sangat takut kalau shilla mulai membenciku, karena aku nggak akan kuat menerima kenyataan itu.
Entah kenapa setelah mencium shilla tadi pas di sekolah, perasaanku seakan senang di buatnya. Di tambah lagi detak jantungku yang berdegup kencang, di barengi dengan darahku yang seakan mendidih di buatnya.
Bibir shilla terasa sangat lembut sekali di bibirku, aku benar-benar sangat menyukainya. Dan membuatku ingin melakukannya lagi dan lagi.
Tapi, apakah shilla juga merasakan hal sama saat ini seperti halnya diriku?!
Apakah benar, kalau aku sudah jatuh hati kepada gadis yang selama ini selalu aku ganggu saat disekolah?.
Dan kenapa juga hatiku merasa nggak rela, saat shilla di jahati rani dan lisa di sekolah tadi. Mereka benar-benar sungguh sangat keterlaluan.
Memikirkannya saja, sudah benar-benar membuatku frustasi di buatnya.
Aku menghela nafas kasar, dengan satu batang rokok yang sedari tadi ku genggam di tangan kananku. Aku, benar-benar merasa frustasi hanya karena gadis bernama shilla itu. Fikiranku benar-benar sangat kacau saat ini.
Aku melangkahkan kakiku memasuki kamarku lagi, karena aku mendengar suara ketukan pintu kamarku yang berbunyi.
"Ada apa bik?" tanyaku ke bi siti pembantuku.
"Itu den, di ruang tamu sudah di panggil sama nyonya untuk makan malam bersama tuan besar."
"Kok tumben bik, mereka ngajakin randy makan malam? Biasanya randy makan malam sendirian di rumah." ucapku heran.
Aku memang sudah sering menghabiskan waktu makan malamku sendirian. Atau paling nggak, aku akan makan malam di luar bareng temen-temenku yang lain. Dan aku sudah terbiasa akan hal itu.
"Mungkin karena tuan dan nyonya saat ini memang sedang tidak terlalu sibuk den, mangkanya mereka punya waktu untuk makan malam di rumah bersama aden." ucap bik siti positif.
Kini aku sudah berada di meja makan bersama kedua orang tuaku. Kami memakan makanan kami dengan hening.
Tapi, tidak beberapa lama kemudian, papaku membuka obrolan, memecah keheningan saat kami makan.
"Rand..... Gimana tentang sekolah kamu?" tanya papaku yang kini sedang mengunyah makanannya.
Aku pun menatap sekilas wajah papaku dengan ekspresi heran. "Tumben, papa nanyain sekolah randy? Biasanya papa kan nggak pernah perduli dengan randy." ucapku yang juga tengah mengunyah makanan di dalam mulutku.
"Mas, bisa nggak kalau kita ngomongin hal ini lain kali. Kita kan lagi berada di meja makan mas..." kata mamaku mengingatkan.
"Mau sampai kapan lagi vin kita harus menunggu hal penting ini untuk di sampaikan ke randy anak kita?" ucap papaku, dan aku memberikan tatapan kaget saat dia menyebutkan kata 'anak'.
'Sejak kapan mereka menganggap gue anaknya?!' fikirku.
"Emang papa mau nyampein apa ke randy?" tanyaku penasaran.
"Papa pengen kamu sekolah yang bener, dan jangan suka bolos-bolos nggak jelas lagi. Karena papa ingin kamu menjadi penerus di perusahaan papa nantinya." ucap papa randy dengan penuh wibawa.
"Tapi, randy masih SMA, randy masih pengen ngelakuin hal-hal yang randy suka pa. Dan papa nggak bisa ngatur-ngatur hidup randy seenaknya." ucapku dengan nada yang sudah kesal.
"Kalau bukan kamu yang meneruskan perusahaan papa, lantas siapa lagi rand? Kenapa juga papa nggak berhak ngatur hidup kamu, kamu kan anak papa, dan papa udah ngebesarin kamu dari kamu masih kecil. Lagi pula mau sampai kapan kamu ingin hidup dengan kesenangan kamu yang tanpa tujuan itu randy." ucap papaku dengan nada yang mulai meninggi.
Karena aku sudah merasa kesal dengan omongan papaku yang pasti tidak akan mau untuk dikalahkan itupun, akhirnya aku menaruh sendok dan garpu yang ku genggam dengan sedikit keras, hingga mengeluarkan bunyi yang cukup mengagetkan papa mamaku.
Lalu aku langsung berdiri hendak meninggalkan ruang makan.
"RANDY!!! kamu dengerin dulu kalau papa lagi bicara sama kamu! Papa belum selesai ngomong randy!" ucap papaku dengan nada tinggi. Dan sukses membuatku berbalik menatap mereka dingin.
"Sejak kapan papa perduli dengan randy? Papa sama mama memang selama ini sudah sukses membesarkan randy. Tapi papa sama mama nggak pernah ngasih randy kasih sayang, layaknya orang tua lain yang di miliki teman-teman randy." ucapku dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Selama ini, randy mendapatkan kasih sayang cuman dari bi siti doang pa, ma. Karena papa sama mama hanya sibuk mencari uang di luar sana, tanpa perduli bagimana perasaan randy yang sebenarnya." lanjutku dengan emosi yang sudah tersulut.
"Sebenarnya randy itu anak bi siti apa kalian?! Ucapku frustasi. Yang seketika itu membuat papa mamaku terdiam seketika.
"Randy..... Mama min——" ucapan mamaku terhenti olehku yang mengatakan kalau malam ini aku ingin menginap di rumah temanku.
BERSAMBUNG