19
"Nay.... Kamu lanjutkan saja pekerjaan kamu, saya akan mengajak shilla ke ruangan saya untuk di obati." perintah alex.
"I-iya pak." jawab naya dengan menganggukkan kepala dan berlalu meneruskan pekerjaannya.
**
"Nih, salep buat kamu." kata alex, dengan memberikan sebuah salep yang masih baru ke shilla.
"Tapi, aku nggak papa." ujar shilla percaya diri.
"Tapi aku yakin, kalau kulit kamu pasti memerah shil. Udah, nggak ada tapi-tapi an, kamu terima saja saleb ini dan kamu obati kulit kamu di toilet sekarang." paksa alex.
"Toilet..???" tanyanya dengan heran.
"Ya...... Karena nggak mungkin kan kalau kamu obati luka kamu disini dan menyingkap baju kamu di sini?!!" ucap alex menjelaskan. "Tapi kalau kamu nggak mempermasalahkan itu, ya aku juga nggak keberatan shill...." goda alex dengan cengirannya.
Mata shilla membulat seketika saat mendengar perkataan alex barusan. "Yak- kenapa kamu tiba-tiba jadi m***m begitu lex.." ucap shilla kesal dengan memukul pelan pundak alex.
Alex pun tertawa melihat shilla yang bertingkah seperti itu. Shilla pun lantas buru-buru keluar meninggalkan lelaki tersebut menuju toilet. Daripada harus terus di ruangan alex, bisa-bisa alex semakin konslet kepalanya.
**
SHILLA POV.
Saat jam pulang kerja...
"Randy jadi jemput nggak ya?! Apa dia cuman becanda doang?!" batinku dengan menendang kerikil kecil yang berada di sekitar kakiku.
Aku menghela nafas lelah, "aiiissshhh.. Nggak mungkin juga dia njemput aku. Kayak nggak ada kerjaan lain aja." gumamku dengan posisi kepala menunduk.
Tidak lama kemudian..
"Shill.... Kok belum pulang??" tanya alex dengan menepuk pelan pundakku.
"Eh, alex. Aku fikir siapa. Iya ini lagi nunggu angkot lewat..." jawabku yang sedikit kaget melihatnya.
"Nunggu angkot, apa nunggu seseorang??" tanyanya yang terlihat curiga denganku.
"Ya angkot lah.... Emang, mau nunggu siapa lagi..?!!"
"Randy. Mungkin." -alex
"Kok jadinya randy??" tanyaku heran.
"Soalnya dari tadi aku merhatiin kamu dari dalam, dan aku lihat juga banyak angkot yang lewat di depan kamu. Tapi... Kamu nggak ada niat buat berhentiin sama sekali." kata alex menjelaskan. "Berarti benar kan yang aku bilang barusan??" lanjut alex memastikan.
Aku bingung bagaimana harus menjawabnya. Karena dugaan yang di lontarkan alex padaku itu, memang benar adanya.
Aku juga nggak habis fikir, kenapa aku harus capek-capek nungguin si randy. Maksudku, nggak mungkin juga kalau dia bakalan njemput aku ke sini.
"Ya gue tau, pasti ini cuman akal-akalan dia buat ngerjain gue doang." batinku merasa yakin.
"Gimana kalau kamu pulang bareng aku aja??" tawar alex kepadaku.
"Tapi kan, kemaren aku udah kamu anterin pulang lex. Pakek acara kamu gendong segala gara-gara ketiduran. Aku kan jadi makin nggak enak sama kamu." ucapku beralasan.
Tapi, malah randy tetep kekeh bujukin aku buat nganterin pulang. Akhirnya akupun mengiyakan ajakannya.
Pada saat aku sudah menutup pintu mobil alex dan telah duduk manis di sana, tiba-tiba ada yang mengetuk kaca mobil yang berada di sampingku berulang kali.
Aku pun membuka kaca dan menoleh, dan tidak menyangka bahwa yang ku lihat itu adalah seorang narandy ardiansyah putra.
"Randy!" sapaku.
"Keluar cepet!" ucap randy yang memerintahku dengan raut wajah yang terlihat kesal. Aku juga tidak mengerti kenapa.
"Tapi aku--"
"Gue bilang CEPET!!" ucap randy dengan sedikit berteriak kepadaku. Dan berhasil membuatku ketakutan dan menurutinya.
Ku buka pintu mobil milik alex dan kulangkahkan kakiku keluar dari mobil tersebut dengan sedikit takut.
"Nih anak, kalau sudah kayak gini, nyeremin banget sih!!" batinku.
Randy menyeret tanganku, memaksaku untuk menaiki motor ninjanya.
"Randy, lepasin!! Nggak usah pakek acara nyeret tangan gue segala!! Gue bisa jalan sendiri!!" protesku tak terima dengan perlakuannya yang menurutku sangat kasar.
"Heh!! Lo nggak denger apa emang tuli?! Dia bilang lepasin!!" ucap alex yang sudah mulai ikut campur dengan cara melepas paksa genggaman randy dari tanganku.
Randy yang menurutku sudah terlihat kesal sedari tadi itupun lantas tidak terima dengan perlakuan alex padanya.
Randy pun menatap alex dengan tatapan tajam penuh emosi.
"Ya tuhaaannn.... Jangan sampai mulai lagi.." batinku memohon, berharap mereka berdua tidak akan melakukan hal gila lainnya.
"Lo, nggak usah ikut campur urusan gue sama dia. Lo nggak ada hak!! SHILLA ITU MILIK GUE!!" ucap randy mengingatkan alex dengan penuh penekanan.
"Apa sih maksudnya?! 'Miliknya'?? Gue kan bukan barang."
"Lo juga nggak ada hak!! Lo cuman pacar pura-puranya, inget!! Dan shilla belum jadi milik siapapun. Mending lo kelarin masalah lo sama mantan lo yang resek itu. Biar dia nggak ganggu shilla waktu kerja kayak tadi!!" bentak alex tak kalah emosi.
"s****n!! Gue udah muak sama lo!!" umpat randy mencengkram kuat kerah baju alex. Dan......
BUGH....!!
Satu pukulan dari tangan randy tepat mengenai bibir kanan alex. Membuat alex memegangi sudut bibirnya yang terasa sakit dan nyeri.
Alexpun tidak begitu saja tinggal diam, ia pun membalas pukulan randy dengan cepat, dan sukses mengenainya.
"Anjing ya lo....!! Brengsekk...!!" umpat randy yang tak terima dengan pukulan alex. ia pun hendak memukul balik alex, tapi terhenti karena aku yang menengahi perkelahian mereka.
"STOP..!! KALIAN INI APA-APA'AN SIH??! Berkelahi kayak gitu?! KALIAN MAU JADI JAGOAN??? IYA, HAH?!!" teriakku menengahi mereka berdua.
Dan tidak ada yang menjawabnya sama sekali.
"Ini udah kedua kalinya kalian berantem kayak gini. Mau kalian apa sih??" tanyaku emosi dan tetap tidak mendapat respon dari mereka.
"Gue capek tau nggak ngelerai kalian berdua yang bertingkah kayak anak kecil...!!" lanjutku masih dengan nada kesal.
Karena Aku benar-benar sudah sangat lelah dengan tingkah mereka berdua. Aku pun memutuskan untuk menyetop salah satu kendaraan yang sedang lewat, lalu kemudian pergi meninggalkan mereka dan tak memperdulikan mereka yang memanggil-manggil namaku.
**
Tempat kos.
Malam semakin larut, dan Akupun melangkahkan kakiku melewati g**g dan berjalan hendak menuju tempat kosku.
Selama kakiku melangkah menapaki jalan di g**g yang tidak terlalu sempit ini, fikiranku sudah melayang kemana mana akibat kejadian tadi.
"Aaarrgghhh!" aku mengacak acak rambutku frustasi, karena lelah dengan semua sikap randy yang selalu se'enaknya itu.
Aku memelankan langkah kakiku dan menggerutu sendiri dengan berbagai macam pertanyaan "kenapa sih, hidup gue mesti di bayang-bayangin sama makhluk yang bernama randy?!!"
"Kenapa juga gue harus kenal dia...?!"
"Kenapa harus dia yang selalu mengusik ketenangan hidup gue?"
"Terus gara-gara dia juga, gue jadi marah-marah in bos gue alex."
"Randy sialaaaaannn!" umpatku yang sudah kesal dengan menendang batu kecil yang ada di sekitaku.
"Aiiissshh..... Terus gue sekarang gimana??! Apa jangan-jangan alex bakal mecat gue besok?!." ucapku menggerutu dengan perasaan yang sangat mengkhawatirkan pekerjaanku.
Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan pelan, berusaha untuk menenangkan diriku saat ini, dan berusaha menyingkirkan semua fikiran negatifku dari dalam benakku.
Aku berjalan perlahan melangkahkan kakiku ke pintu kosku dengan kepala yang tertunduk lesu.
Saat langkahku hendak mencapai pintu...........
tubuhku tiba-tiba saja menabrak seseorang yang sudah berada tepat di hadapanku.
Hal itu sontak saja membuatku mengangkat kepalaku, berusaha mencari tahu siapa pemilik tubuh yang sudah aku tabrak itu.
"Elo......?!! Ngapain lo ke sini??!" ucapku dengan nada kesal.
"Ck, marah-marah mulu. Lo lama banget sih nyampeknya?! Gue udah donor darah gratis sama nyamuk penghuni kosan lo gara-gara gue nungguin lo dari tadi di sini." omel lelaki itu dengan sesekali menggaruk lengannya yang gatal akibat di gigit oleh nyamuk.
Aku memutar kedua bola mataku malas dan berujar "bodo amat, gue nggak peduli. Lagian gue nggak nyuruh lo buat datang ke sini dan nungguin gue tuh." ucapku tak peduli.
"Sekarang lo minggir, gue mau masuk..... Gue capek dan males berdebat panjang lebar sama lo." ucapku dengan berusaha mendorong tubuhnya ke samping, agar aku bisa membuka pintuku.
Tapi lelaki itu malah tidak mau bergerak sama sekali, dan makin merepotkanku. "Aiiissshhh..... Lo bisa minggir nggak sih?!" sentakku dengan nada kesal.
Dia tetap diam menatapku dengan tatapan yang tak dapat ku artikan.
"Lo bener-ben--" perkataanku tiba-tiba terpotong.
Cupp!
Bersambung