20 Tapi lelaki itu malah tidak mau bergerak sama sekali, dan makin merepotkanku. "Aiiissshhh..... Lo bisa minggir nggak sih?!" sentakku dengan nada kesal. Dia tetap diam menatapku dengan tatapan yang tak dapat ku artikan. "Lo bener-ben--" perkataanku tiba-tiba terpotong. CUPP! Aku terdiam, manakala randy dengan tiba-tiba mengunci bibirku dengan cepat. Akupun kaget dengan apa yang di lakukannya saat ini padaku. Kedua tangannya kini sudah memegang erat bahuku, agar aku tidak menolak untuk melepaskan ciumannya yang saat ini masih hanya diam dengan cara menempelkannya saja. Bagiku saat ini, waktu benar-benar seperti tengah berhenti sesaat. Dan waktu juga sepertinya menginginkan diriku untuk bisa menikmati sentuhan bibir yang di berikan randy untukku. Tubuh kami berdua pun sudah san

