17
Setelah mereka selesai menghabiskan makanannya, shilla pun meminta randy untuk mengantarkannya pulang, karena dia tidak mau kalau sampai telat kerja nantinya.
Randy pun menurutinya.....
***
Sesampainya di tempat kos, gadis itupun langsung bergegas masuk ke dalam dan bersiap-siap berangkat kerja.
Saat gadis itu sudah berada di luar kos nya, dia terkejut mendapati sosok randy yang masih tetap berada di sana dan belum beranjak pulang.
"Randy??! Kok lo masih di sini? Gue fikir, lo tadi udah pulang." kata shilla terheran-heran.
"Gue nungguin lo."
"Buat??" tanya shilla.
"Nganterin lo ke tempat kerja."
"Nggak usah, gue bisa berangkat sendiri..!!" tolak shilla.
"Tapi, sayangnya gue nggak suka di tolak!!" ucap randy dengan menarik paksa tangan shilla memasuki mobilnya.
"Dasar tukang paksa." gerutu shilla yang kini telah duduk manis di dalam mobil lelaki itu.
Randy tidak memperdulikannya dan langsung memasang sabuk pengaman untuk gadis itu dan juga dirinya. Setelah terdengar suara bunyi klik, randy pun menancapkan kunci mobilnya dan langsung melesat menuju cafe tempat shilla bekerja.
Selama di perjalanan...
"Shil....."
"Hemm" sahut shilla cuek.
"Sebenarnya, hubungan lo sama bos lo itu kayak gimana sih?" tanya randy tanpa melihat lawan bicaranya.
Sebenarnya randy merasa masih penasaran tentang hubungan shilla dan bosnya itu, gara-gara waktu itu dia ngelihat shilla di cium dan di peluk oleh bosnya tersebut.
Karena menurut randy, seorang bos biasa ngga akan ngelakuin hal tersebut ke pegawainya, kecuali orang tersebut menyimpan sebuah rasa yang dalam.
"Ya nggak gimana-gimana..." sahut shilla.
Randy mengerutkan keningnya "tapi, menurut pandangan gue, bos lo itu kayaknya nyimpen rasa deh sama lo."
"Rasa..?? Stroberry?? Alpukat?? Lemon?? Mangga??" tanya shilla bertubi-tubi.
"Sekalian aja sekebon lo sebutin semua." ujar randy kesal, karena yang di ajak bicara tidak bisa serius.
"Lagian lo juga, ngasih pertanyaan yang aneh-aneh ke gue."
"Apa jangan-jangan kalian berdua-" ucapan randy terpotong.
"Heh!! Lo jangan bikin gosip yang aneh-aneh. Gue sama alex tu sebenarnya udah kenal lama dan kita cuman temenan doang, nggak ada hal lebih." kata shilla menjelaskan.
"Oh ya??" tanya randy tak percaya.
"Iya lah..!! Lagian gue udah ngaggap dia kayak sahabat gue yang paling baik setelah naya." jawabnya dengan seulas senyum yang mengembang di bibir cerry nya.
"Naya?? Siapa??"
"Temen gue di cafe." jawab shilla. Yang hanya di jawab randy dengan menganggukkan kepalanya.
Hening beberapa saat.
Sampai akhirnya randy menanyakan sesuatu hal lagi pada shilla. Entah kenapa saat ini randy sangat ingin mengetahui semua hal tentang wanita yang bernama shilla ini.
"Oh ya shill...." panggil randy.
"Apa lagi?" sahut shilla malas.
"Kenapa lo mau, capek-capek kerja part time di cafe kayak gini??" tanya randy yang mencoba mengorek kehidupan gadis itu.
"Pertanyaan lo konyol. Tentu aja karena gue cewek dari keluarga miskin, kayak yang selalu lo, dan temen-temen lo katakan ke gue." jawab shilla sinis.
Lelaki itupun tercekat setelah mendengar jawaban shilla yang memang benar itu. "Maaf...." ujarnya dengan tulus dan nada pelan.
"Hah??!" shilla kaget.
"Ya, gue minta maaf sama lo shil, dan gue harap lo bisa lupain semua perbuatan buruk yang pernah gue lakuin ke elo. Dan gue pengen kita sekarang bisa saling mengenal tanpa ada rasa dendam di diri lo ke gue." pinta randy. dengan ucapan yang amat sangat tulus. Berharap gadis yang kini ada di sampingnya itu mau memaafkannya.
Mendengar randy yang meminta maaf seperti itu, shilla sebenarnya tidak menyangka sama sekali. Mengingat randy yang dulu benar-benar sangat tidak mempunyai hati dan perasaan saat membully nya.
Tapi kenapa kini lelaki tersebut justru terlihat sangat berbeda sekali, dan ucapan yang di katakannya barusan tentu saja terdengar sangat tulus di telinga shilla.
Shilla menyadarkan dirinya dari rasa kagetnya atas perkataan lelaki itu, dan tersenyum miris. "Lo nggak perlu minta maaf rand. Karena semua yang lo bilang ke gue itu bener adanya."
Saat mendengar shilla yang berbicara seperti itu, sontak saja membuat randy seketika menghentikan laju mobilnya ke kiri jalan, dan menatap lekat shilla.
Shilla semakin di buat kaget, bingung, heran, dan merasa sedikit aneh dengan sikap randy yang seperti sekarang ini. "Rand, lo kenapa tiba-tiba berhentiin mobilnya kayak gini??"
Randy yang di tanya pun tidak memperdulikannya dan berkata "shill, gue beneran tulus sama omongan gue tadi. Dan gue janji, nggak bakal jahatin lo lagi kayak dulu." ujar randy meyakinkannya dengan wajah yang sangat serius.
Shilla yang ditatap lekat oleh randy itu pun di buat gugup dan sedikit begidik ngeri olehnya. Shillapun reflek dengan sedikit menggerakkan bahunya mundur ke belakang. "Emm....en-entah kenapa gue justru merasa semakin lebih takut ka-kalau sikap lo jadi kayak gini sekarang."
"Ck, maksud lo?? Gue nggak pantes kalau tiba-tiba jadi baik ke elo?? Gitu? Iya??" kata randy melontarkan banyak pertanyaan ke gadis itu dengan berdecak sinis.
Shilla pun tertawa renyah mendengar penuturan randy yang mengatakan dirinya 'baik'. "Kalau lo baik, lo nggak bakalan maksa gue buat jadi pacar pura-pura lo kayak gini sekarang." sindir shilla.
"Jadi....... Lo beneran bakal gue bilang baik, kalau lo mau mengakhiri semua drama tentang pacaran pura-pura kita ini." lanjutnya dengan manaik turunkan alisnya berulang ulang.
"No.no.no! Kalau soal itu sih, pengecualian!!" tolak randy dengan seringaiannya.
"Iisshh... Terserah lo deh!!" ucap shilla kesal dengan mengerucutkan bibirnya, dan melipat tangan di bawah dadanya.
"Anjiirrr..... Bikin gue makin gemes aja shill sama lo." ujar randy dalam hati.
"Gila.....!! Kayaknya, gue bener-bener udah gila.....!!" lanjutnya dalam hati, merasa tak percaya dengan perasaannya saat ini.
**
Selang beberapa menit, akhirnya kini mereka sampai juga di tempat tujuan. Mereka berduapun akhirnya turun dari mobil.
Shilla pun melangkahkan kakinya hendak menuju ke dalam cafe tersebut, namun kemudian ia berbalik menoleh ke belakang, karena merasa ada yang berjalan mengikutinya.
Kening shilla berkerut heran "lo ngapaian ngikutin gue masuk??" tanyanya ke randy.
"Gue mau nungguin lo sampek lo pulang." jawab randy enteng.
"Ngapain??? Kurang kerjaan lo, sampek nungguin gue segala?!! Nggak, pokoknya lo pulang sekarang." ucapnya kesal dengan tingkah laku randy yang semakin aneh itu.
"Kok lo ngusir gue sih, padahal gue udah berbaik hati buat nganterin lo kerja pakek mobil mewah gue. Seharusnya, lo berterimakasih sama gue. Bukannya malah ngusir." protes randy dengan wajah angkuhnya.
Shilla mendengus kesal mendengar ocehan randy tersebut. Karena menurutnya, randy lah yang memaksanya untuk mengantarkannya tadi.
"Nih cowok lupa apa gimana sih..!! Jelas-jelas dia sendiri yang maksa-maksa nganterin gue. Dasar aneh..!!" gerutu shilla dalam hati.
Shilla pun menghela nafasnya lelah, dan berkata "makasih randy...!!" ucapnya dengan senyum yang di paksakan.
"Ya ya, nggak usah senyum-senyum kayak orang i***t begitu!" kata randy dengan ekspresi yang di buat-buat.
Shilla pun memukul kuat lengan randy. "Resek ya lo..." ucapnya kesal.
"Udah sono..... cepetan pulang!!" usir shilla ke randy dengan sedikit mendorong tubuh lelaki itu.
"Ck, iya iya..... Nggak usah pkek dorong-dorong juga kali...." ucap randy.
Shilla pun hanya memutar kedua bola matanya malas, dan berbalik melangkahkan kakinya untuk meninggalkan randy. Tapi, tidak lama setelah itu, randy meneriakinya dari belakang"NANTI PULANGNYA GUE JEMPUT!!"
Mendengar teriakan lelaki itu, sontak saja membuat langkah kaki shilla terhenti dan dia membalikkan tubuhnya hendak memaki.
tapi.... Nyatanya dia hanya bisa menatap tajam lelaki yang sayangnya sudah lebih dulu memasuki mobil, dan melesat pergi meninggalkan shilla yang hanya bisa mendengus kesal dan menggerutu sendiri.
"Dasar lelaki k**i, egois, tukang paksa!! Se'enaknya saja dia mutusin semua hal sendiri..!! Dia fikir dia siapa?!" umpat shilla kesal ke randy yang bahkan tidak akan pernah dapat di dengar oleh orang yang dimaksud.
"Pacar kamu...!!"
Shilla menoleh, karena ia sangat kaget mendengar sahutan suara seseorang yang sangat dekat ke telinganya.
"Kamu.....?!!!" kata shilla setelah berbalik dengan ekspresi kaget.
Bersambung