16
Tapi, saat ini aku benar-benar sudah lelah berdebat lebih panjang lagi dengannya. Jadi, dengan berat hati, aku pun mengiyakan perkataannya.
***
AUTHOR POV
Kini mereka berdua sedang bersama berada di sebuah salah satu gerai butik yang cukup terkenal. Shilla pun kebingungan karena lelaki tersebut membawanya ke tempat yang tidak pernah ia datangi tersebut.
"Randy, lo ngapain sih ngajakin gue ke sini??" ucap shilla dengan memegang lengan randy.
"Mau beli 1 set panci buat nyokap gue di rumah." jawab randy enteng dengan ekspresi datarnya.
Mendengar perkataan randy yang aneh, gadis itupun mengerutkan keningnya dengan heran. "Perasaan di sini yang ada cuman baju doang deh."
"Nah... Itu lo tau. Ngapain juga masih nanya." sungut randy yang sekarang sedang memilih-milih baju.
"Dasar cowok nyebelin." gumam shilla dengan suara pelan.
"Nih, coba lo pakek!!" ucap randy dengan menyodorkan sebuah gaun untuk shilla.
Shilla membulatkan matanya tak percaya dengan ucapan randy barusan. "Gue?? Ogah ah, buat apa juga ?! Lagian gue nggak punya uang sebanyak itu buat beli gaun begituan." ucap shilla setelah mengetahui harga baju tersebut yang sangat fantastis.
"Gue beliin bego." sahut lelaki itu.
"Buat apa?? Lagian beli gaun sebagus itu mau gue pakek ke mana?!"
"Renang." sahutnya dengan tampang tak berdosa.
"Lo gila?!" -shilla.
"Ck, gue mau ngajakin lo ke pesta ulang tahunnya si lisa." ucap randy menjelaskan.
"Hell?? Tap-"
"Udah..!!! Lo nggak usah cerewet dan bawel kayak nenek-nenek, mending lo sekarang cepetan cobain gaunnya di ruang ganti." ucap randy yang sudah bosan mendengar ocehan gadis itu.
"Dasar cowok aneh tukang paksa, i***t berhati iblis!!" gerutu shilla dengan suara pelan, namun masih bisa di dengar oleh randy.
"Heh, b**o'. Nggak usah ngedumel, gue bisa denger omongan lo barusan." ucap randy dengan tatapan kesal.
Seketika itupun shilla langsung berjalan cepat menuju ruang ganti, sebelum mendapatkan perlakuan buruk dari lelaki itu, karena sudah memakinya tadi.
Randy yang melihat tingkah gadis itupun, hanya tersenyum miring dan menatapnya menghilang di balik tirai ruang ganti.
"Nih gaun, kekurangan bahan apa gimana sih... Risih gue makeknya." batin shilla yang merasa aneh melihat penampilannya sendiri di depan cermin ruang ganti tersebut.
"Lo lama banget sih?! Apa perlu gue bantu makek'in??" ucap randy yang mencoba menggodanya dari luar, karena merasa gadis itu terlalu lama di dalam.
Gadis itupun menyembulkan kepalanya dari balik tirai dan berkata "lo gila??"
"Ck, cepetan keluar!! Gue pengen liat. Ngapain lo malah ngumpet?!"
Shilla pun keluar dengan memakai gaun yang di belikan oleh randy tadi, dia berjalan perlahan ke arah randy dengan ragu-ragu dan malu sambil menutupi belahan dadanya yang sedikit terekspose karena gaun itu.
"Kenapa lo?? Kedinginan?? Dasar norak!!" ucap randy yang memandang aneh ke arah gadis itu.
"Bukan kedinginan bodoh. ini tuh gara-gara lo yang ngasih gue gaun kekurangan bahan kayak gini...." ucapnya kesal dengan membuka tangan yang sedari tadi menutupi belahan dadanya.
Randy pun melongo melihat penampilan gadis itu dari atas sampai bawah, yang menurutnya sangat cantik dan elegan.
"Anjiiirrr nih cewek...!! Kenapa bisa makin cantik gini sih." batin randy dengan menampilkan wajah tak percayanya.
Karena risih di tatap oleh randy seperti itu, shilla pun reflek menutup kembali belahan dadanya dengan ke dua tangannya. "Ngapain liatin gue kayak gitu?? Mikir jorok tentang gue ya lo?!" ucapnya dengan menatap tajam ke arah randy.
Randy pun kaget dengan tuduhan gadis itu, dan segera memalingkan wajahnya ke samping berusaha tetap terlihat tenang di depan gadis itu.
"Siapa yang mikir jorok tentang lo?! Badan mirip triplek begitu, mana bisa buat gue tertarik." jawabnya dengan nada keangkuhannya.
"Dasar cowok m***m s****n!!" maki shilla, dengan berbalik memasuki ruangan ganti tersebut dan segera mengganti dengan memakai pakaian miliknya sendiri.
Randy pun menahan tawanya atas sikap gadis itu yang terlihat kesal oleh ulahnya tadi.
Setelah itu randy membayar gaun yang di belinya tadi, dan pergi bersama gadis itu menuju ke suatu tempat menggunakan mobilnya.
Sebenarnya randy lebih suka bepergian menggunakan motor ninjanya, ketimbang mengunakan mobil. Tapi entah kenapa hari ini randy ingin mengendarai mobil miliknya itu.
Hari sudah mulai beranjak malam dan matahari pun mulai menghilang sesikit demi sesikit.
Selama di dalam mobil, shilla masih bingung dengan randy yang membelikannya gaun mahal untuk pergi ke acara ulang tahun lisa.
Shillapun memutuskan untuk menanyakannya secara langsung, dari pada harus penasaran terus-terusan. "Emmm rand..."
"Hemm?"jawab randy cuek, karena dia masih dalam keadaan menyetir.
"Lo kenapa ngajakin gue pergi ke pesta ulang tahun lisa?" tanya shilla dengan pandangan menyelidik.
"Ya buat nemenin gue lah, kenapa emangnya?? Lo nggak mau?" kata randy yang malah balik bertanya.
"Iya, gue sebenarnya mal-" ucapan shilla pun terpotong.
"Ck, apa perlu harus gue ingetin lagi tentang status kita yang udah jadi pacar??" tanyanya tanpa memandang ke arah shilla sedikitpun.
"Pura-pura rand....!!" ucap shilla menambahkan.
"Ya ya gue tahu." -randy.
"Lo mau ngajakin gue ke mana sih?" tanya shilla heran, karena sedari tadi randy tidak memberitahunya sama sekali.
"Nah... Udah sampai....!! Ayo cepet keluar..." kata randy berucap tiba-tiba, karena sudah sampai di tempat tujuannya.
Gadis itupun mengerutkan keningnya heran. "Lo mau ngajakin gue makan??" tanyanya.
"Iya lah, masak mau berkebun sih!!" -randy.
"Tapi gue nggak laper rand..." dustanya.
KRUCUUUUKKK~~~~
Tiba-tiba terdengar suara bunyi perut shilla yang berdemo meminta makan.
Randy tersenyum miring dan seketika itu membuat shilla menjadi malu di buatnya.
"Mulut lo emang bisa bohong, tapi cacing di perut lo berkata jujur. Udah, nggak usah gengsi sama gue."
Akhirnya shilla menurut, dan mengikuti randy masuk kedalam restoran tersebut.
Mereka pun memesan menu dan memakannya. Di sela-sela kegiatan makan mereka, shilla pun bertanya ke randy tentang alasannya yang memilih mengajak dirinya.
"Rand.... Kenapa lo nggak ngajak cewek lain??" -shilla.
"Maksud lo?" tanya randy yang merasa tidak faham dengan pertanyaan gadis itu.
"Maksud gue, kenapa lo nggak ngajak pergi cewek lain ke pesta ulang tahun lisa?! Kenapa malah lo ngajakin gue??" kata shilla memperjelas pertanyaannya.
"Karena gue mau lisa ngejauhin gue." ucap randy cuek dengan mengunyah makanannya.
"Tunggu, maksud lo gimana rand?? Gue nggak ngerti dengan ucapan lo barusan." tanya shilla yang sudah menghentikan aktifitas makannya sejenak.
"Ya, gue pengennya lisa tu ngejauhin gue, kalau dia tau gue udah jadian dan jalan sama lo. Apalagi sampai ngajakin lo pergi ke pesta ulang tahunnya, gue yakin banget kalau dia ngak bakalan nempel-nempel ke gue lagi kayak bekicot." kata randy menjelaskan dengan panjang lebar.
"Kalau lisa bekicot, berarti lo yang jadi keong racunnya." kata shilla menyela.
"Lagian lo nggak mikir apa, berkat ulah lo itu, bisa aja kan si lisa bakalan makin tambah benci ke gue. Dan pasti dia nggak bakalan tinggal diam dan makin parah buat ngejahatin gue." lanjutnya dengan tertunduk lesu.
Shilla pun menghela nafas lelah dan menenggelamkan wajahnya di antara lipatan tangannya yang berada di atas meja "nasib gue s**l banget sih, belum lepas dari mulut buaya, malah bentar lagi gue di oper buaya ke mulut singa." lenguh shilla dengan suara parau.
"Ck, lo nyindir gue?" tanya randy menanggapi perkataan shilla yang seakan menyindir dirinya.
"Bagus deh kalau lo ngerasa." ucap shilla cuek dengan nada malas, dan masih dengan posisi yang sama.
Melihat shilla yang seperti itu, membuat randy mengulurkan tangan untuk mengusap puncak kepala rambut shilla begitu saja bermaksud menenangkannya. "Tenang aja, gue pasti lindungin lo kalau sampai lisa berbuat nekat lagi kayak kemarin-kemarin."
Mendapatkan perlakuan dari randy yang seperti itu, shilla pun langsung mengangkat sedikit kepalanya agar bisa menatap randy dan berkata "lo serius?? Palingan juga lo pasti bakalan sama kayak biasanya. Tetap ngebully gue habis-habis an."
"Aww.... Sakit bego...." pekik shilla dengan mengelus kening yang terasa nyeri akibat di sentil oleh randy.
Randy pun tidak memperdulikannya dan malah menyentil keningnya lagi, membuat shilla makin meringis kesakitan di buatnya "aiiiisshh.... Apa-apa'an sih rand?? Lo kira kening gue kelereng, yang bisa lo sentil-sentil se'enaknya.
"Iya." ucapnya tanpa merasa bersalah.
Shillapun mendengus kesal "dasar cowok resek."
Randy yang mendengarnya itupun hanya tersenyum miring, tak menghiraukan u*****n gadis itu.
Setelah mereka selesai menghabiskan makanannya, shilla pun meminta randy untuk mengantarkannya pulang, karena dia tidak mau kalau sampai telat kerja nantinya.
Randy pun menurutinya.....
Bersambung