15
Shilla pun memalingkan wajahnya ke samping dengan mata terpejam dan berkata "dia cuman bos gue rand!!"
"Ck,bos macam apa yang nyium pegawai se'enaknya kayak gitu?" ucapnya sinis.
"Itu— emm.... I—itu...." shilla kebingungan menjawab pertanyaan randy.
"Itu apa hemm??" sahut randy.
"Ck, tau ah!!" shilla berdiri, mendorong paksa tubuh randy agar menjauh darinya.
Tiba-tiba randy memeluknya dari belakang, dan membisikkan sesuatu ke telinga shilla "jangan coba-coba dekat sama cowok itu, dan lo jangan mau kalau dia nyium lo se'enaknya lagi kayak tadi. Ngerti?!!"
Shilla kaget dan melepas pelukan randy, "apa'an sih rand...." ucapnya dengan pipi yang telah merona.
Melihat shilla yang sudah merona seperti itu, membuat randy makin gemas melihatnya. "Lo makin cantik kalau udah nge blush gitu." ucapnya keceplosan.
"Hah??" shilla pun kaget. "Maksud lo??" lanjutya.
"Maksud gue, lo kalau kaget gitu,, muka lo makin tambah jelek." elaknya dengan mengacak gemas rambut shilla.
"Nih anak salah makan obat, apa gimana sih....?!heran gue." batin shilla.
Shilla mengerutkan kening dan berdecak kesal karena ulah randy yang telah membuat berantakan rambutnya "jangan ngacak-acak rambut gue!!" sungutnya dengan menepis tangan randy.
"Ck, kenapa sih, lo tu sama cowok tadi aja manis banget. Giliran sama gue juteknya nggak ketulungan." protesnya kini yang sedang bersandar di pintu sambil melipat kedua tangannya.
SHILLA POV
huft mendengar perkataannya barusan, benar-benar membuatku sangat kesal. Apa dia memang lupa atau pura-pura tidak ingat, dengan apa yang sudah dia perbuat selama ini kepadaku?!
Tingkahnya yang sangat menyebalkan itu sudah ngebuat aku benar-benar tidak bisa merasakan masa-masa SMA ku yang indah.
Flashback on
Pagi-pagi aku berangkat sekolah seperti biasanya, sebenarnya hari ini aku berangkat dengan terburu-buru sekali. Karena aku bangun agak kesiangan tadi.
Tentu saja itu semua karena pekerjaan part time ku setiap malam di cafe tempatku bekerja. Aku benar-benar sangat kelelahan, sampai-sampai aku harus telat seperti ini.
Hosh....... Hoshh...... Nafasku terengah-engah karena berlari menuju gerbang sekolah yang terlihat akan di tutup tersebut. Aku pun memohon meminta pengertian kepada satpam yang menjaga pintu gerbang tersebut untuk mengizinkanku masuk.
Akhirnya akupun di izikan masuk.......
"Makasih pak, makasih banyak..." ucapku sambil tersenyum lega.
Lalu setelah itu akupun langsung berlari menuju kelasku dengan nafas yang hampir saja habis. sesampainya didalam kelas.....
"Selamat pagi pak, maaf saya telat.... Tadi say——"
Ucapanku terpotong oleh pak guru yang memberiku hukuman, dan menyuruhku untuk membersihkan toilet sekolah.Akupun hanya bisa pasrah menerima hukuman tersebut.
"Aiissshhh..... Udah capek semalaman kerja, sekarang malah di hukum bersihin toilet, apes banget sih gue." gerutuku.
Saat diriku sudah sampai di toilet....
Aku kaget karena melihat randy sedang memegang alat pel sambil mengomel sendiri.
"Ehh, lo.... Lo.. Nga—ngapain di to—toilet cewek?" ucapku bergetar karena sudah merasa ketakutan.
Bagaimana aku tidak takut, randy dan teman-temannya kan setiap hari selalu saja membullyku. Dan sekarang, dia malah berada tepat di hadapanku.
"Lo sendiri??" ucapnya sinis.
"Gu—gue di—di hukum gara-gara telat." jawabku dengan menundukkan kepalaku.
Lelaki itupun tertawa, dan langsung menyodorkanku alat pel yang dia pakai tadi. "Nih, lo yang bersihin semuanya. Gue mau ngerokok dulu."
Akupun menerimanya dengan perasaan kesal. Akupun mulai melaksanakan hukumanku untuk membersihkan toilet tersebut sendirian, tanpa di bantu randy.
Randy sedari tadi hanya menonton sambil menikmati rokok yang dia hisap.
Akupun semakin kesal melihat kelakuannya yang seperti bos itu. Ingin sekali rasanya aku menumpahkan air kotor bekas pel ini ke kepalanya. Tapi tentu saja aku nggak punya keberanian seperti itu.
"HEH!! Ngapain lo liat-liat??!" bentaknya.
"Randy, lo ng—nggak bantuin gue? Lo kan ju—juga di hu—hukum sama kayak gue..." ucapku mencoba memberanikan diri berbicara padanya.
Tak di sangka, setelah ucapan yang ku katakan tadi, dia justru mendekatiku dengan keangkuhannya. Menarik rambut panjangku sehingga kepalaku sedikit mendongak ke atas.
"Aww... Sakit rand...."pekikku sambil memegangi kepalaku yang sangat kesakitan karena ulahnya.
"Ini akan bertambah sakit lagi, kalau rokok yang gue pegang ini mengenai pipi mulus lo." ancamnya dengan mendekatkan rokok yang masih menyala itu ke wajahku.
Air mataku seketika itu langsung terjatuh begitu saja setelah mendengar ancamannya. Aku saat ini benar-benar sangat ketakutan sekali.
"Ngerti nggak?!!" lanjutnya. Dan ku jawab dengan menganggukkan kepalaku.
Diapun melepas kasar tangannya yang menarik kuat rambutku. Dan meninggalkanku yang kini sudah dalam kondisi menangis ketakutan, setelah sebelumnya tadi dia sempat menendang ember yang berisikan air kotor bekas pel ke arahku.
Dia benar-benar sangat menakutkan.
FLASHBACK OFF.
Dia dan teman-temannya yang selalu ngebullyku habis-habisan ketika di sekolah, dan baru-baru ini, dia juga berani mencuri ciuman pertamaku.
Dengan itu semua, apakah aku masih bisa bersifat manis ke dia?! "Nggak." ucapku sambil menggelengkan kepalaku.
"Apanya yag nggak?? Jelas-jelas lo emang selalu jutek ke gue!" ucapnya yang mengira aku berbicara dengnnya.
"Udah deh, mending lo sekarang pulang! Ngapain sih lo pakek acara ke sini segala?!" ucapku sambil mendorong keluar tubuhnya yang sedari tadi bersandar di pintu.
"Aaiissshhhh..... Apa kayak gini, kelakuan lo sama orang yang udah nyelametin lo waktu kekunci di gudang??" ucapnya sinis.
Akupun mengela nafas mendengar perkataannya, "kalau gue tau lo bakal minta imbalan buat jadiin gue pacar pura-pura lo, gue nggak bakalan mau. Lebih baik gue milih kekunci di gudang semalaman." sahutku dengan melipat kedua tangnku.
"Oh ya?? Perasaan kemarin malam kalau nggak salah ada cewek yang minta tolong ke gue sambil nangis bombay deh." ucapnya dengan gaya seperti sedang berfikir.
"Ck, terserah apa kata lo, gue nggak peduli. Males gue berdebat sama lo."
Aku pun berbalik dan hendak menutup pintu, tapi di tahan oleh lelaki menyebalkan itu.
"Sekarang apa lagi?" tanyaku malas.
"Nih!! Baca!" ucapnya dengan menyodorkanku sebuah kertas ke tanganku.
Akupun menerima dengan mengerutkan keningku karena merasa heran dengan kertas yang dia berikan kepadaku.
"Apaan sih ini?! Tulisannya jelek banget, tulisan anak sd aja lebih bagus dari ini." batinku menyela.
Saat aku sedang mencoba membacanya, akupun di buat tak percaya dengan tulisan yang ada di kertas itu.
"WHAT?? lo becanda? Gue nggak mau! Apa-apa'an lo se'enaknya aja ngebuat daftar kencan sepihak kayak gitu... ?? Pokoknya gue nggak mau!!" sungutku dengan ekspresi kesal.
"Kalau lo nggak mau punya hutang budi sama gue, lo harus mau, dan lo nggak bisa nolak gue!!" ucapnya dengan egois.
Arrggghhh...... s**l banget sih hidupku, bisa kenal cowok tengil kayak dia. Bagaimana mungkin aku harus ngelakuin semua daftar kencan sepihak yang dia buat itu...
Lagi pula aku selama ini kan nggak punya pengalaman sama sekali dengan hal kayak gitu. Pacaran aja nggak pernah. Huftt, benar-benar nyebelin!!
"Tenang shill...... Ini kan cuman selama satu bulan doang, nggak lebih. Setelah itu lo bisa bebas dari lelaki tengil itu." ucapku menenangkan diriku.
"Oke, tapi lo harus janji, kalau ini cuman selama sebulan doang!!" ucapku mengingatkan.
"Setelah itu, semuanya berakhir." lanjutku.
"Ya ya, gue ngerti." jawabnya.
"Walaupun sebenarnya gue berharap lebih sama lo shill..." ucap randy dalam hati.
"Udah selesai kan??! Naahhh kalau gitu, lebih baik sekarang lo balik pulang, karena gu———"
Ucapanku terpotong oleh randy yang mengatakan bahwa daftar yang dia buat di kertas itu berlaku dari sekarang. Aku lagi-lagi di buat tak percaya dengan ucapannya barusan. Bisa-bisanya dia se'enaknya membuat keputusan seperti itu.
Tapi, saat ini aku benar-benar sudah lelah berdebat lebih panjang lagi dengannya. Jadi, dengan berat hati, aku pun mengiyakan perkataannya.
***
Bersambung