Kepercayaan

1124 Kata
Saka termangu di tepian jendela kamarnya. Bukan saja kondisi sahabatnya, Akasa, yang mengusik pikirannya saat ini, melainkan juga tentang pil itu. Pil yang mulanya ia dengar dari salah seorang guru di sekolahnya. Saka menangkap suatu yang janggal dari gelagat sang kakak tiap kali mendengar ada yang menyebutkan perihal pil tersebut. Seolah ada sesuatu di baliknya. Pun Saka yakin betul, kalau kakaknya pasti mengetahui apa yang orang lain tidak ketahui mengenai pil yang peredarannya belum jelas itu.   Tok… Tok…   Pintunya terketuk. Lamunan Saka seketika terhenti, membuat bocah itu menoleh ke arah pintu dan berseru, “masuk!”   Sesaat berikutnya, pintu kamarnya yang sengaja tidak ia kunci itu lantas terbuka. Menampilkan sosok lelaki dengan setelan celana pendek dan kaos polos, menghampiri si pemilik kamar dengan sebaris senyum yang terlukis di wajahnya yang terbilang cukup tampan.   “Kau belum tidur?” tanyanya. Setelah tidak lupa menutup kembali pintu yang semula dibukanya.   “Belum.” Jawab Saka.   Lelaki itu menempatkan dirinya di sebelah Saka. Bergabung untuk termangu di tepian jendela. Menikmati pemandangan langit malam yang tentu jauh dari kata indah. Sudah tidak ada lagi kata indah di masa yang seperti ini. Semua hal yang indah, seakan sirna dilahap ganasnya pencemaran.   “Akasa akan baik-baik saja. Aku yakin itu. Dia anak yang tangguh.” Ujarnya. Ia sudah paham betul bagaimana watak sang adik, juga tentang hatinya yang begitu perasa dan isi kepalanya yang mudah sekali berisik. Bagaimana tidak, sudah sekitar 18 tahun mereka hidup Bersama, kendati terkadang keduanya tak tinggal satu atap, bentangan jarak tak semata jadi penghalang bagi batin mereka yang terlahir sebagai kakak beradik.   Sementara Saka, hanya mengulas senyum yang terkesan dipaksakan. “Ada apa kemari, Kak?” sebuah pertanyaan dilemparnya. Tentu, bukan tanpa alasan Sekala mengunjungi kamar sang adik di hampir tengah malam begini. Saka tahu, pasti ada sesuatu yang akan kakaknya itu sampaikan. Dan yang pasti, bukan sekadar kalimat penenang yang ia lontarkan sebelumnya.   Sekala menghela napasnya sejenak sebelum mulutnya kembali melontarkan sebaris kalimat. “entahlah… aku hanya sedang memikirkan bagaimana caranya meyakinkan ayah dan ibu tentang keberangkatanku ke Amerika.”   Mendengar itu, Saka hanya bungkam. Tak ada sepatah kata pun yang bisa ia utarakan sebagai tanggapan dari kalimat sang kakak sebelumnya. Jangankan untuk diutarakan, terlintas di pikirannya saja tidak. Bukannya tidak ingin menanggapi, hanya saja Saka sadar kalau persoalan ini cukup serius dan sedikit sensitif. Dirinya lebih memilih untuk menjadi pendengar saja dari pada takut kalau-kalau nanti malah salah bicara.   “Tadi ku lihat ibu dan ayah belum tidur. Aku akan membahas tentang ini lagi, kau mau ikut?” tawar Sekala. Saka mengangguk dengan sedikit keraguan. Sebab ia tidak yakin hadirnya dalam diskusi itu akan membantu. Dalam diskusi sebelumnya saja, kehadirian Saka tak mengubah apa pun, bahkan tak juga melahirkan solusi.   “Kak,” panggil Saka. Tangannya dengan segera meraih lengan sang kakak yang baru saja hendak berlalu meninggalkan kamar, membuatnya harus menghentikan langkah.   “Boleh aku bertanya?”   Sekala memberinya anggukan.   “Apa kau tahu sesuatu tentang pil yang dokter Darius bicarakan tadi?”   Tak seperti biasanya. Pertanyaan yang Saka lemparkan kali ini, tidak langsung menemui jawabnya. Dahi Sekala sedikit mengernyit, ditatapnya sang adik dengan tatapan yang tak bisa dimengerti.   “Kau… tahu pil itu?”   Alih-alih memberi jawaban, Sekala malah balik melempar sang adik dengan pertanyaan, yang membuat adiknya itu mengangkat kedua bahunya. Gesturnya menunjukkan kalau ia tidak tahu akan hal itu.   “Hanya saja guruku pernah membicarakan tentang hal itu. Kupikir kau tahu sesuatu karena katanya pil itu merupakan temuan dari perusahaan pesaingmu.”   Sekala terdiam selama beberapa detik. Rautnya jelas menggambarkan ada sesuatu yang ia sembunyikan.   “Tidak, aku tidak tahu,” ujarnya. Sesaat setelahnya, Sekala melempar tatap pada sang adik. Sorotnya tampak begitu tajam menusuk. “dan kau, aku tahu rasa penasaran dan tingkat keingintahuanmu cukup tinggi, tapi untuk yang satu ini, buang jauh-jauh rasa penasaranmu dan jangan pernah menyentuh benda itu.” Tambah Sekala, sebelum ia berlalu meninggalkan sang adik yang masih mematung di tempatnya semula.   Sembari menatap punggung sang kakak yang hilang di balik pintu, Saka berdecis.   “Tentu kau tidak mungkin bereaksi seperti itu kalau kau tidak tahu apa-apa, Kak. Kau pasti tahu sesuatu.” Gumam Saka.   ***   Seperti biasa, ruang makan di rumah ini terang benderang meski hampir tengah malam. Saka menyusul kakaknya yang sudah duduk di sana bersama sang ayah dan juga ibu. Rupanya pembahasan kali ini menciptakan atmosfer yang kurang mengenakan, Saka dapat merasakan itu ketika dirinya baru saja mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi kosong di sebelah sang kakak.   “Aku punya kenalan yang bisa membawaku masuk. Kita harus menyelesaikan penderitaan ini!” tegas Sekala.   “Tidak!” bantah sang ibu dengan sedikit berteriak. “Ibu tidak mau kehilangan dirimu, Sekala.”   “Ibu tidak akan kehilangan aku, oke?” ucap Sekala, sembari melukiskan senyum. “Tolong, percayalah padaku.”   Saka tak mengeluarkan sepatah kata pun. Suaranya sama sekali tidak terdengar sejak dirinya bergabung dalam diskusi ini. Selain takut salah bicara, dirinya juga tidak tahu harus bicara apa. Orangtuanya jelas bersikeras menentang keberangkatan Sekala ke Amerika, sebab mereka tahu, pergi ke Amerika sangatlah berbahaya.   “Saka, bagaimana menurutmu? Tentu kau tidak akan mengizinkan kakakmu untuk pergi, bukan?” tanya sang ayah. Sementara Saka, mendadak ia membenarkan posisi duduknya. Bocah itu menatap ke arah sang kakak sebelum membuka suaranya.   “Aku… percaya apa pun pada keputusan kakak. Aku yakin, Kak Sekala bisa mengatasi semua ini.”   Bocah yang semula tak berani buka suara, pada akhirnya menghadirkan awaban yang nyatanya membuat Sekala menyunggingkan senyum sumringah begitu mendengarnya. Pun sorot matanya yang saling bertemu tatap dengan sang adik itu seolah menyiratkan sebuah ungkapan terima kasih, karena telah memberikan kepercayaan pada apa yang menjadi keputusannya. Sekala tentu merasa seolah tersulut semangat, di saat kedua orangtua dan kekasihnya menentang mati-matian, nyatanya masih ada yang menaruh kepercayaan pada dirinya. Sekala betul-betul berterimakasih akan hal itu.   Bukan. Bukan Saka tak memedulikan keselamatan sang kakak. Hanya saja, jika ada satu orang yang harus dipercayainya di masa yang seperti ini, tentu ia akan menaruh rasa percayanya kepada sang kakak. Saka tahu betul, Sekala orang yang seperti apa. Sudah pasti apa yang menjadi keputusannya telah ia pertimbangkan dengan matang. Dan sudah pasti, ia bisa mengatasi segala resikonya. Dan lagi, Sekala, tidak pernah bertumpu hanya pada satu rencana. Saka paham itu.   ***   “Darius, bisa kau temui aku besok pagi? Ah, tidak. Aku akan ke rumah sakit besok pagi. Kau jangan kemana-mana.” Ucap Sekala, ketika mereka kembali dari kediaman Akasa. Darius yang kembali dengan menumpang kendaraan Sekala pun berpisah di depan rumah sakit. Namun, sesaat sebelum ia memasuki rumah sakit dan kembali melanjutkan pekerjaannya, Sekala lebih dulu melemparnya dengan kalimat barusan.   “Aku tidak bisa janji. Takut kalau saja ada pasien mendadak seperti tadi. Tapi kalau kau ingin datang, kapan pun itu datang saja. Barangkali kau juga bisa membantuku seperti tadi.”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN