Nyatanya Akasa

1078 Kata
Bel pertandaan usainya jam pelajaran pun berbunyi. Tak ingin buang waktu, Saka lantas segera merapikan peralatan sekolahnya dan bergegas membawa kakinya untuk keluar kelas. Dengan berlari kecil, Saka meninggalkan sekolah, melesat menuju halte agar ia bisa langsung pergi dengan skydrive bus yang baru saja tiba di sana, jadilah ia tak mesti menunggu kedatangan skydrive bus berikutnya, yang tentu akan membuat dirinya menunggu sedikit lebih lama lagi. Kali ini, dirinya menumpangi skydrive bus dengan rute yang berbeda dari biasanya. Bukan rute yang akan mengantarnya menuju rumah, melainkan rute yang akan membawanya ke kediaman Akasa. Setelah menghabiskan perjalanan dengan waktu kurang lebih 20 menit, skydrive yang ditumpanginya pun tiba di pemberhentian ujung kubah, yang mana kediaman Akasa tidak jauh lagi dari sana. Bahkan rumahnya yang berwarna merah itu sudah kelihatan ketika Saka turun dari skydrive bus.   Tok… Tok… “Nak, Saka? Ayo masuk, Akasa ada di kamarnya.” Kata ibu Akasa, menyambut kedatangan Saka, sahabat anaknya yang tentu datang ingin menjenguk.   “Terima kasih, Bu!” Balas Saka ramah.   Saka lantas melangkah menuju kamar Akasa. Tidak perlu diantar atau ditunjukkan di mana letak kamarnya, Saka tentu sudah hatam seluk beluk rumah ini. Kendati tidak rutin, bukan sekali dua kali Saka menginjakkan kaki di tempat ini. Semasa Akasa sehat, terkadang ia berkunjung kemari hanya sekadar untuk menghabiskan waktu dengan sahabatnya itu.   “Astaga, kau sudah tiba?” ucap Akasa, yang masih terbaring di ranjangnya. Keadaannya tidak lebih baik dari kemarin. Saka hanya melempar senyumnya menanggapi kalimat sahabatnya itu.   “Bagaimana keadaanmu?” tanya Saka, sembari melempar tasnya asal dan mendaratkan tubuhnya di sisi ranjang Akasa.   “Yah, seperti yang kau lihat.”   Seperti yang Saka lihat. Tidak ada tanda-tanda yang mengarah pada kata ‘membaik’. Kendati begitu, Saka masih bersyukur, karena keadaan Akasa tidak menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Obat yang Dokter Darius berikan sepertinya sedikit memberi efek baik.   “Ayo kita menonton film! Aku tahu kau pasti jenuh berbaring di sana sepanjang hari!” usul Saka. Sedang Akasa hanya terkekeh mendengarnya. “Di mana laptopmu?” tanya Saka. Akasa langsung mengacungkan jari telunjuknya ke arah meja di sudut ruangan. Di sana lah barang yang Saka cari berada.   “Sepertinya habis baterai. Tapi entahlah, bahkan aku sudah tidak ingat kapan terakhir aku menyentuhnya.” Kata Akasa.   Saka menekan tombol power di sudut laptop. Tidak menyala, yang ada malah kedipan cahaya berwarna merah yang menandakan kalau laptop tersebut memang tidak ada daya.   “Kau benar. Baterainya habis.” Ucap Saka, sembari meraih charger laptop yang diletakkan berdampingan dengan laptop itu sendiri. Pun ia segara mencari saklar dan melakukan pengisian daya pada laptop tersebut.   “Kita menonton sambil charge saja, ya? Kalau harus tunggu penuh pasti sangat lama.” Usul Saka lagi   Pun laptop berhasil menyala, meskipun bar baterai masih belum terisi penuh. Saka lantas segera menghubungkan diska lepas yang di bawanya itu pada laptop milik Akasa. Diska lepas itu sudah berisi beragam judul film yang sengaja ia unduh semalam.   “Kau ingin menonton apa?” tanya Saka.   Setelah memilah-memilah dan sempat ada keributan kecil antara Saka dan Akasa perihal judul yang akan mereka tonton, pilihan pun akhirnya jatuh pada sebuah serial asal negeri ginseng dengan genre thriller, yang menceritakan tentang perjuangan bertahan hidup dan upaya untuk mengembalikan kehidupan seperti sediakala.   Entah serial itu diterbitkan pada tahun berapa, Saka tidak memeriksanya terlebih dahulu, tapi yang pasti, film dan serial yang bisa di tonton saat ini hanyalah film dan serial lawas. Sebab di masa seperti ini, rumah-rumah produser film sudah tidak ada lagi yang masih aktif menggarap. Siapa juga yang bersedia menggarap film dalam kondisi pelik begini? Pun darimana dananya? Penggarapan film tentu memerlukan dana yang tidak sedikit, bukan? Padahal, kakek Saka yang sudah meninggal lagi-lagi pernah berkata. Kalau dahulu, serial drama dari negeri ginseng pernah sangat berjaya. Sangat marak pada masanya. Sampai-sampai nenek rajin sekali menonton secara marathon beragam judul serial tanpa ada yang terlewat.   Waktu bergulir. Seperti kebanyakan orang, ketika menonton serial begini pasti kesulitan untuk berhenti. Satu episode lagi. Satu episode lagi. Begitu seterusnya sampai tamat, mungkin nenek Saka juga dulu seperti itu. Saka dan Akasa sudah memasuki episode 3. Pada episode kali ini, menceritakan tentang salah satu teman si pemeran utama terdeteksi telah terinfeksi virus yang menjadi permasalahan dalam serial tersebut dan harus menjalani karantina. Dua bocah yang menonton itu tampaknya sudah terbawa atmosfer serial tersbut. Terlebih Saka, ia merasa amat familiar dengan alur dan permasalahan yang ada dalam serial drama yang ditontonnya.   Dan, ya. Rasa kantuk sepertinya menyerang Akasa tanpa terduga. Sehingga membuatnya terlelap di pertengahan episode. Saka yang menyadarinya pun langsung menghentikan pemutaran film dan merapikan kembali laptop milik sahabatnya itu. Nanti akan ia tonton kelanjutan serial drama tadi di hari berikutnya bersama Akasa lagi. Ia tidak ingin menontonnya sendirian. Adapun ia mengunduh banyak film dan serial itu semata untuk menghibur Akasa. Saka pribadi memang kurang meminati perfilman begitu. Ia lebih suka mendengarkan music ketimbang menonton film.   “Akasa, aku pulang dulu. Besok aku akan datang lagi.” Ucap Saka. Kepada Akasa yang sudah terlelap. Di tatapnya wajah sahabatnya yang pucat itu. Sungguh, Saka merindukan senyum dan tawa lebar dari Akasa. Saka merindukan semburat kebahagian dari wajah sahabatnya itu. Akasa membalikkan tubuhnya ke samping, ketika itulah, di saat yang bersamaan, secarik kertas terjatuh tepat di depan kaki Saka. Sepertinya kertas itu berasal dari bawah bantal yang Akasa gunakan.   Saka lantas meraihnya.   Kepada maut, kapan kau akan mengambil nyawaku? Sedang matahari saja sudah bosan melihatku. Pun air sudah mencercaku.   Kepada maut, tolong katakan kepadaku, tentang suara yang kudengar setiap harinya. Apakah nyanyian? Atau tangisan? Jangan katakan kalau aku tuli.   Dan, sungguh bosan aku duduk bertopang dagu. Hilang sudah harapanku, untuk satu. Satu saja aku ingin mengalahkan batu. Menahan siksa, di sini.   Saka sungguh tidak pernah sekali pun membaca tulisan Akasa. Bahkan ia tidak pernah tahu kalau sahabatnya itu memiliki keterampilan dalam merangkaikan kata. Namun kelihatannya, inilah yang dilakukan Akasa untuk menumpahkan kesedihannya. Akasa selalu tampak begitu tegar tiap kali bertemu dengannya. Akasa selalu tampak begitu tenang dan senang dengan kehidupan yang dijalaninya. Tak pernah terdengar kata keluhan yang meluncur dari mulutnya. Dan sekarang, Saka dapat melihat semuanya. Saka dapat melihat kerapuhan dan kesedihan sahabatnya. Akasa yang selama ini selalu menebarkan energi positif dan menghadirkan tawa, ternyata tak sekuat itu. Betapa bodohnya Saka yang tak menyadari hal ini. Lagi pula, mana ada manusia yang betul-betul senang menjalani kehidupannya di masa begini? Saka benar-benar tertipu telak. Nyatanya inilah Akasa. Tak lebih dari seorang anak dengan kesedihan yang selalu terbalut dengan kesenangan. Nyatanya inilah Akasa. Si penipu mahir. Yang selalu menertawakan rintih.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN