Sekala memarkirkan skydrivenya di parkiran rumah sakit. Pun dengan tergesa ia langsung membawa kakinya melangkah memasuki rumah sakit. Mencari ruangan di mana rekannya berada. Ya, siapa lagi kalau bukan Darius. Sebelumnya Sekala sudah menghubunginya terlebih dahulu. Kebetulan, saat ini Darius sedang senggang sebentar, jadilah Sekala segera meluncur untuk menemuinya.
Tok… Tok…
“Masuk!” seru seseorang dari dalam ruangan yang pintunya Sekala ketuk.
“Oh, kau. Cepat sekali kau tiba. Apa kau berteleportasi?” celetuk Darius, melempar candaan pada rekannya yang justru memasang mimik wajah yang serius.
Kening Darius mengernyit dibuatnya. Ketika rekannya yang baru saja datang itu langsung meletakkan sebuah wadah di atas meja. Wadah itu biasa digunakan untuk menampung urine ketika pemeriksaan urine akan dilaksanakan, tapi kali ini berbeda. Wadah itu tidak berisi urin, melainkan sebuah pil berwarna bening, sehingga membuat benda semacam batang berwarna putih kekuningan yang ada di dalam pil itu dapat terlihat.
“Apa ini?” tanya Darius.
“Pil yang kemarin kau bicarakan.” Jawab Sekala singkat.
Rasa penasaran pun sukses menggelitik benak Darius. Lelaki berbalut jas putih itu lantas meraih wadah tersebut, mengamati isinya dengan saksama. Bahkan matanya sampai-sampai menyipit guna menajamkan penglihatannya.
“Untukku?” tanya Darius lagi.
Alih-alih memberi anggukan, Sekala malah menggelengkan kepalanya. Yang sudah pasti membuat rekannya itu kembali mengernyitkan kening.
“Lantas kenapa kau membawanya kepadaku?” tanya Darius sekali lagi, sembari meletakkan kembali wadah yang semula ia bawa ke dalam genggamannya.
“Aku ingin kau memeriksanya. Kau lihat, bukan? Bagian putih yang ada di dalamnya?” ujar Sekala, sembari menunjukkan bagian putih yang ia maksud.
“Memangnya itu apa?”
“Entah. Tapi dia tumbuh. Maka dari itu aku ingin kau memeriksanya.” Tutur Sekala.
Helaan napas terdengar dari Darius. Dengan perasaan bingung sekaligus penasaran yang menyelimutinya sekarang, Darius pun meraih wadah tersebut.
“Baiklah. Aku akan segera memeriksanya. Sekarang aku harus meresepkan obat terlebih dahulu. Nanti begitu aku dapatkan hasilnya, aku akan langsung menghubungimu.” Jelas Darius, sembari bangkit dari duduknya.
“Darius,” Sekala memanggilnya, menatap rekannya itu dengan tatapan yang Darius sendiri tak dapat menafsirkannya. Yang jelas ia terlihat begitu serius kali ini.
“Jangan sampai ada yang tahu mengenai ini.”
**
“Bagaimana Akasa?” Senandika tiba-tiba saja menghampiri Saka. Ketika bocah itu tengah menyantap semangkuk mi yang menjadi makan siangnya.
“Parah. Tidak lebih baik dari yang sebelumnya kulihat.” Jawab Saka.
Alinea yang sebelumnya juga datang bersama Senandika pun menggelengkan kepala, “Semua memang semakin tidak mengarah pada kesejahteraan. Lingkungan kita benar-benar sudah rusak.” Katanya.
“Ya, begitulah.” Timpal Saka, sebelum menyuapkan mi sintetis yang telah dicapitnya menggunakan sumpit kayu.
“Nanti kau akan ke rumahnya lagi, bukan? Kami ikut, ya?” ujar Senandika.
Saka memberikan anggukan. Mulutnya masih dipenuhi dengan mi yang belum selesai dikunyahnya.
“Ah, iya. Aku menemukan tulisan Akasa.” Ucap Saka, setelah mulutnya benar-benar kosong. Pun ia mengeluarkan secarik kertas yang terjatuh begitu saja dari bantal Akasa kemarin, dan memberikannya pada Senandika.
“Bagaimana isinya?” tanya Alinea penasaran.
“Isinya menceritakan kalau dia benar-benar merindukan kematian.” Kata Saka. Setelahnya kepala Saka menoleh. Lebih tepatnya ia sengaja memalingkan wajahnya, tak mau dua temannya itu melihat matanya yang sudah mulai berkaca-kaca.
Memang, setiap kali ia teringat akan isi dari tulisan Akasa, hatinya merasa seakan teriris. Dadanya begitu sesak. Selalu terbayang kondisi Akasa yang sekarang ini. Selalu terbayang kondisi Akasa yang tak kunjung membaik. Adakah benar kalau, dia tidak akan bertahan lebih dari 3 hari?
***
Ketiga bocah itu mematung. Menatap dengan penuh rasa tidak percaya, terutama Saka. Ia sampai beberapa kali mengerjapkan matanya bahkan mencubit dirinya sendiri, memastikan kalau dirinya sedang tidak berada di alam mimpi. Pasalnya, apa yang ada di hadapan mereka ini agaknya sedikit mustahil.
“Bukankah tadi kau bilang, kondisi Akasa tidak membaik? Apa aku salah dengar?” tanya Senandika, dengan sama sekali tidak mengalihkan pandangannya.
“Tidak, kau tidak salah dengar. Saka memang bilang kalau keadaan Akasa itu parah.” Tambah Alinea.
“Kalian memang tidak salah dengar. Tapi apakah mungkin kita salah lihat?” ujar Saka.
“Hey! Kalian! Apa kalian hanya akan berdiam diri di sana? Kemarilah! Saka! Ayo kita lanjutkan menonton serial drama yang kemarin!” seru Akasa, yang berdiri di depan pintu rumahnya.
Benar. Itulah yang membuat Saka dan 2 temannya yang lain itu keheranan. Terlebih Saka, jelas-jelas dirinya melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana keadaan Akasa kemarin. Bagaimana bisa anak itu sekarang terlihat baik-baik saja dan bahkan sudah bisa bangun dari rebahnya. Sedang kemarin, untuk sekadar duduk di atas ranjangnya saja rasanya ia tak memiliki energi.
“Saka, ayo! Tampaknya Akasa memang sudah sembuh. Bukankah ini bagus?” Alinea menepuk pundaknya, dan menarik tangannya untuk segera menghampiri Akasa yang tersenyum lebar ke arah mereka.
Dengan masih diselimuti perasaan bingungnya, pun akhirnya Saka membawa kakinya melangkah menyusuri beranda rumah Akasa. Disambutnya Saka dengan amat antusias oleh sang pemilik rumah. Mereka pun lantas memasuki kediaman Akasa, menuju kamarnya untuk bercengkrama seperti biasanya.
“Saka, kau bawa diska lepasmu, kan?” tanya Akasa.
Saka pun memberi anggukan, dan meraih diska lepasnya yang berwarna hitam dari saku seragamnya. Mereka kembali menonton serial drama yang kemarin harus terpaksa terhenti karena Akasa yang tiba-tiba saja tertidur. Akasa menghidupkan laptop, bersiap untuk memutar kembali serial tersebut. Sementara Saka, ia melirik ke arah ember yang berada di sebelah ranjang Akasa. Ember yang semula selalu dipenuhi muntah dan darah, namun sekarang justru bersih tak ada noda setitik pun. Ini aneh. Bukan Saka tidak senang atas kesembuhan Akasa, ia senang, sangat senang, bahkan Saka betul-betul bersyukur akan hal itu. Namun, tetap saja ini sangat aneh. Bagaimana bisa seseorang yang sakit parah bahkan telah divonis tidak akan bertahan selama lebih dari 3 hari, bisa sembuh hanya dalam waktu yang sekejap? Apa ini karena keampuhan obat yang Dokter Darius berikan? Atau memang ramalan Dokter Darius yang selalu meleset? Atau… inikah yang orang-orang sering sebut sebagai mukjizat Tuhan?
***
Darius melapisi kedua tangannya dengan sarung tangan karet, tak lupa ia juga melindungi bagian mulut dan hidungnya dengan masker berwarna hijau muda. Pun ia mengeluarkan pil yang Sekala berikan sebelumnya. Dicermatinya pil tersebut di bawah sinar dari lampu khusus yang menjadi salah satu fasilitas laboratorium rumah sakit tempatnya bekerja. Sebelum pada akhirnya, Darius meletakkan pil tersebut ke sebuah wadah berpermukan datar, menyerupai piring dengan ukuran kecil berbahan stainless. Setelahnya Darius mulai membelah pil tersebut, menggunakan alat semacam pisau bedah yang berukuran kecil, dan mengeluarkan isi yang ada di dalamnya dengan bantuan pinset. Benda putih yang Sekala sebut-sebut bertumbuh itu pun, berhasil dikeluarkannya.
Kening Darius mengernyit. Dilepasnya sarung tangan karet yang semula melapisi tangannya, agar dapat leluasa meraih ponsel yang ia simpan di dalam saku jas. Menggulir layar ponsel lipatnya dan mencari satu nama yang terpampang dalam kepalanya.
“Sekala, kau di mana? Kita harus bertemu.”