“Dokter Darius?” Saka sedikit terkejut, begitu dirinya memasuki kediamannya sendiri dan mendapati Darius, rekan sang kakak yang beberapa waktu lalu bertemu dengannya itu, terduduk di ruang tamu. Saka melamun sedari tadi. Ia masih memikirkan tentang kesembuhan Akasa yang terbilang ajaib, sampai-sampai ia tak menyadari kalau ada skydrive milik Darius terparkir di beranda rumahnya.
“Ayo!” Seru Sekala yang baru saja keluar dari kamarnya. Berjalan sembari memakai jaket dengan tergesa.
“Mau kemana, Kak?” tanya Saka, heran melihat sang kakak yang kelihatan buru-buru sekali seperti ada sesuatu yang genting.
“Ah, aku ada urusan penting. Kau baru pulang?” Ujar Sekala.
“Ya, tadi aku mampir ke rumah Akasa terlebih dahulu.” Jawab Saka.
“Bagaimana keadaannya?”
“Dia sudah sembuh,”
Jawaban yang Saka berikan, berhasil membuat Sekala dan juga Darius tersentak. Keduanya saling melempar tatap yang menyiratkan tanda tanya. Mungkin mereka sama terkejut dan herannya seperti Saka tadi, ketika melihat Akasa yang sudah berdiri di pintu menyambut kedatangannya.
“Sepertinya obat yang kau berikan betul-betul ampuh, Dokter Darius! Dan kau juga ternyata memang peralamal yang payah.” Tambah Saka.
“Begitulah.” Sahut Darius, sembari tertawa hambar. Padahal, jauh di dalam lubuk hatinya, tanda tanya itu terus menggelayut. Belum ada kasus seperti ini sebelumnya, selama ini, tidak pernah ada pasien yang keracunan akibat meminum air tanpa dinetralisir dapat selamat. Paling tidak, mereka hanya mampu bertahan sehari atau dua hari dari yang telah diprediksikan. Apakah ini keajaiban?
**
“Sekala, kau di mana? Kita harus bertemu,”
“Ah, tidak. Aku akan ke rumahmu sekarang!”
Darius bergegas meninggalkan laboratorium, menanggalkan jas putih dan juga masker yang masih melekat di wajahnya. Ia segera meraih kunci skydrive pribadinya, dan langsung melesat membelah jalanan menuju kediaman rekannya, Sekala.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pintu Darius layangkan dengan tidak santai. Beruntung Sekala yang memang tahu kalau rekannya itu akan datang langsung membukakannya. Kalau saja sang ibu yang menyambut kedatangan Darius, sepertinya Darius akan langsung kena semprot karena mengetuk pintu seperti tadi.
“Aku menemukannya, aku tahu benda itu!” seru Darius.
“Benarkah?! Kalau begitu tunggu sebentar, aku ganti baju dulu, kita tidak bisa membicarakan hal itu di sini!” ucap Sekala yang langsung membalikkan badannya berniat untuk kembali ke kamar dan mengganti pakaiannya. Namun,
“Sekala? Boleh aku menunggumu sambil duduk?” tanya Darius yang masih berdiri di ambang pintu.
“Ah, iya. Silakan saja.”
Dan di sana lah. Pertemuan dirinya dengan Saka yang baru saja kembali setelah menjenguk Akasa. Betapa terkejutnya Darius ketika ia mengetahui kalau pasiennya yang satu itu ternyata sudah sembuh.
Kini, Darius dan Sekala sedang dalam perjalanan yang entah kemana tujuannya. Sekala duduk di kursi penumpang bagian depan, sembari mengamati wadah berisi pil yang telah dibedah oleh Darius sebelumnya.
“Itu jamur. Jamur berfilamen, necrofungus psilocybelis. Mereka biasanya tumbuh… pada mayat.”
“Ini sangat beresiko kalau dikonsumsi, bukan?” ujar Sekala.
“Menurutmu? Orang gila mana yang mau mengkonsumsi sesuatu yang tumbuh pada mayat? Sesulit sulitnya hidup di masa seperti ini juga aku tidak akan pernah sudi memakan hal semacam itu!” Kata Darius.
“Sudah kuduga… ada yang tidak beres dengan pil ini.” Kata Sekala.
“Lantas apa rencanamu selanjutnya?”
Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh rekannya itu, Sekala terdiam sejenak. Pandangannya menatap lurus pada jalanan yang ada di depannya. Pun napasnya terhela, sebelum pada akhirnya ia kembali menatap wadah berisi pil berbahaya teresebut.
“Aku tidak punya banyak waktu. Di Palembang sangat kacau, banyak rekanku yang telah dijadikan kelinci percobaan atas pil bodoh ini. Dan tidak pernah kudengar kembali kabar tentang mereka, dari situlah aku merasa kalau ada yang tidak beres dengan pil ini. Sedangkan sekarang, masyarakat sudah mulai mengetahui tentang pil dengan embel-embel dapat mengatasi rasa haus seperti yang kau ketahui. Aku khawatir kalau semakin banyak masyarakat yang tahu, maka mereka akan mencari pil ini dan pil ini akan beredar secara luas.” Tutur Sekala panjang lebar.
“Kau benar, aku bahkan mendengar tentang pil ini dari salah satu pasien. Dia menanyakan apakah rumah sakit menyediakan pil yang dapat mengatasi rasa haus? Kalau iya, mereka akan membelinya berapa pun itu.” Timpal Darius.
“Besok aku akan ke Amerika. Aku percayakan hal ini padamu, aku yakin kau pasti bisa mencegah peredaran pil ini. Tapi sebelum itu, sepertinya kau butuh penelitian lebih lanjut. Pernah dengar tentang Profesor Ed? Aku cukup mengenalnya dekat, nanti aku akan meminta bantuannya untuk masalah ini.”
“Kau sudah gila?”
“Kau tidak mau?”
Darius menghela napasnya, pun dirinya menepikan skydrive yang ia kendarai, ke pinggir jalan. Membuat Sekala mendadak keheranan.
"Kenapa berhenti?" tanya Sekala.
“Aku sangat sangat sangat bersedia untuk meneliti pil ini, tapi maksudku, kau sudah gila? Pergi ke Amerika? Kau tidak mungkin tidak tahu tentang penembakan penyusup, bukan?”
Lagi. Bukan sekali dua kali Sekala mendengar kalimat seperti itu. Orangtuanya, juga kekasihnya selalu mengatakan hal yang sama berulang.
“Tidak ada jalan lain,” ucap Sekala. “Cukup bantu aku untuk mencegah peredaran pil ini, dan aku akan segera kembali untuk menetralisir air di seluruh pelosok negeri, agar tidak lagi kau temui pasien keracunan.”
***
Saka merebahkan tubuhnya di atas sofa, beristirahat, dan membiarkan pikirannya melayang-layang. Rasanya ingin sekali ia tumpahkan isi kepalanya itu karena sudah terlalu sesak dan berisik.
“Saka, kau tidak mau makan?” panggil sang ibu dari meja makan. Lantas Saka yang baru merebah itu kembali bangkit dan membawa langkahnya menuju meja makan.
“Kakakmu kemana?” tanya sang ibu, sembari menyendokkan lauk sintetis yang biasa diolahnya.
“Pergi bersama temannya. Katanya ada urusan penting,” jawab Saka. “Bagaimana persoalan keluarga kita? Apa semuanya baik-baik saja?”
Seketika, ayah dan ibu Saka saling melempar tatap begitu mendengar tanya yang diluncurkan oleh putranya itu.
“Tentu saja, Saka. Kami bisa menangani tagihan itu, kau tidak perlu khawatir.” Sang ayah memberinya jawaban, diiringi dengan sebaris senyum.
“Dari mana kita dapat uang sebanyak itu? Tagihan itu jelas tidak murah.”
“Teman Ibu ada yang meminjamkannya.” Kini giliran sang ibu yang memberinya jawaban.
“Bagaimana kita menggantinya?”
“Itu….”
“… Ah, bagaimana kondisi Akasa? Apa dia sudah membaik?” sang ayah mengalihkan pembicaraan.
Saka tak pernah mendapatkan jawaban berikutnya. Ia tahu betul kalau orangtuanya sedang berbohong. Saka tahu semuanya tidak baik-baik saja. Sekarang, sudah pertengahan Oktober dan Saka tidak yakin apakah masih bisa hidup November nanti.
“Akasa sudah sembuh.” Jawab Saka.
“Hari ini ada pudding!” seru sang ibu yang kemudian mengeluarkan pudding cokelat dari kulkas. Tentu saja pudding tanpa air. “Ini kesukaanmu, kan, Saka? Makan ini nanti sebagai pencuci mulut.”
Saka berusaha tersenyum, “ya, terima kasih.”
***
“Sekala,” panggil Darius. Keduanya masih dalam perjalanan. Namun, kini memiliki tujuan. Yakni menuju ke tempat Profesor Ed. Tidak lain dan tidak bukan tentu saja untuk membahas permasalahan pil tadi.
“Menurutmu, bagaimana teman adikmu itu bisa sembuh?”