Kedai

1123 Kata
Malam ini, Sekala kembali mengajak sang adik berjalan-jalan. Pun Saka menyetujuinya. Mereka sudah berada di dalam skydrive milik Sekala yang melaju santai. Menikmati suasana malam di tengah carut-marutnya keadaan.   “Apa situasi pahit begini menjadikan manusia sekarang jadi saling serang?” Ucap Saka tiba-tiba, saat dirinya tanpa sengaja melihat seseorang diserang di sudut gang sana. Memang tidak terlalu jelas karena minimnya pencahayaan. Namun sepenglihatan Saka, orang tersebut menyerang seseorang itu dengan kepalanya. Entah menghantamkannya ke wajah atau bagaimana Saka tidak tahu.   Sekala tersenyum miris mendengar ucapan sang adik, “Begitulah manusia. Saat dirinya merasa terancam, maka mereka hanya mementingkan dan memikirkan dirinya sendiri. Pun di masa krisis begini, tentu mereka berlomba-lomba untuk menyambung hidup masing-masing. Tak peduli apapun caranya.” Tutur Sekala.   Saka mengamini. Sedetik kemudian, bocah itu kembali mengedarkan pandangannya ke luar jendela. Hingga tiba lah skydrive yang ditumpanginya itu terhenti. Saka celingukan. Memerhatikan sekelilingnya dengan sedikit heran. Tempat ini sangat sepi. Tidak terlihat menyenangkan, yang ada justru mengerikan. Memang Sekala tidak mengatakan kemana tujuan mereka sebelumnya, tapi bukan tempat seperti ini yang Saka harapkan. Bahkan tempat begini tak pernah sekali pun terlintas dalam pikirannya. Dan, lagi pula, untuk apa juga Sekala membawanya ke sini?   Pada akhirnya Saka hanya mengekor pada sang kakak, memasuki sebuah kedai kecil dengan lampu berwarna jingga remang-remang, membuat efek dingin. Keduanya memilih tempat di ujung, di pojok yang gelap dan sepi. Kedai ini miskin pengunjung, pun pelayannya hanya ada satu, seorang wanita tua yang sering sekali tersenyum.   Sekala memanggilnya, memesan dua piring kue bolu sebagai teman berbincang mereka. Yah, satu hal yang mesti diketahui, kedai ini hanya menyediakan kue.   “Jadi, aku ingin membicarakan sesuatu.” Ujar Sekala.   “Apa itu?”   “Permisi, Nak. Ini pesanannya.” Saka harus menahan rasa penasarannya sejenak karena bolu pesanan mereka sudah datang. Setelah menghidangkannya di atas meja, pelayan itu pun pergi sembari melemparkan senyumnya, yang tentu dibalas oleh Saka.   “Kau lihat, kan, bagaimana keadaan kota, negara, bahkan dunia saat ini?”   “Tentu.” Saka mengangguk. Dahinya sedikit mengerut, ia berusaha untuk mencari arah pembicaraan ini.   “Aku berniat untuk mengubah itu semua. Setidaknya, untuk kota ini terlebih dahulu. Karenanya, aku sudah memutuskan akan pergi ke Amerika. Kau juga sudah tahu tentang ini, bukan? Aku harus mendapatkan teknologi mereka. Dan… besok aku akan berangkat.”   Saka tercengang.   Sebentar,   Sekala ini, kan, akan pergi ke Amerika, tapi kenapa begitu mendadak seperti orang yang mau beli micin ke warung? Apa lagi, di saat seperti sekarang ini pergi ke sana sama saja mengantarkan nyawa. Bahayanya bukan main dan tak perlu ditanya, bukankah seharusnya butuh persiapan ekstra? Ah, agaknya Sekala ini betul-betul sudah gila. Bukan saja hanya idenya yang gila tapi dirinya juga.   “Tapi, Kak…,” kata Saka, yang kemudian terdiam sejenak menjeda kalimatnya. “Bukankah ayah dan ibu melarang?”   “Aku tahu,” jawab Sekala sambil menunduk. Kue bolu yang mereka pesan sama sekali tidak tersentuh, apalagi dengan Sekala, ia hanya memainkan kue dengan garpunya. “Namun, tanpa resiko, sesuatu tidak ada artinya, bukan? Mereka hanya tidak mau ambil resiko,”   “Apa Kakak yakin kalau Kakak akan baik-baik saja?”   “Bukankah kau percaya padaku?”   Hening. Saka hanya menatap ujung sepatunya, tak tahu mesti bagaimana lagi. Dan tak tahu pula harus berkata apa. Memang benar adanya, kalau dirinya percaya pada sang kakak atas segala apa yang telah menjadi keputusannya. Tapi, seorang adik, tetaplah akan menjadi seorang adik yang begitu takut kehilang kakaknya.   “Bukankah ini sedikit gila, Kak?” tanya Saka.   “Kegilaan itu kadang membawa kebahagiaan. Mungkin sekarang, ide itu dianggap gila. Bagaimana jika aku berhasil?”   Benar juga. Kalau ide ini berhasil, maka tentu sangat membawa pengaruh besar bagi semuanya. Pun di setiap tindakan, pasti akan diiringi dengan resiko. Entah resiko itu besar atau kecil, entah sangat bahaya atau tidak terlalu. Sekala hanya berani ambil resiko terbesar dengan harapan hasil yang besar pula.   “Kenapa Kakak membawaku kemari? Tentu bukan hanya untuk mengatakan itu, bukan?” tanya Saka.   Mendengar pertanyaan yang diluncurkan sang adik, Sekala lantas membetulkan posisi duduk dan menarik kursinya lebih rapat ke meja.   “Aku akan pergi tanpa memberi tahu ayah dan ibu, karena kau tahu, kan? Mereka pasti akan melarang. Aku akan pergi bersama dua orang teman dan seorang dari Amerika yang sudah menyiapkan semuanya. Mereka akan datang ke sini, aku ingin kau juga tahu tentang diskusi kami. Kemudian saat aku pergi, katakan kepada ayah dan ibu apa yang sebenarnya terjadi. Katakan kepada mereka bahwa aku akan baik-baik saja dan aku akan pulang.”   Saka terdiam. Ini sulit. Bagaimana ia menjelaskannya nanti? Sudah terbayang emosi sang ibu yang pasti meledak-ledak karena putra sulungnya pergi menjemput bahaya bahkan tanpa berpamitan. Pun Saka hanya memandang ke luar kedai. Sementara Sekala menepuk punggung tangannya dan mengangkat alis meminta jawaban.   Helaan napas berat terdengar sebelum Saka mengucap, “Baiklah. Akan aku lakukan.”   Tak lama berselang, seorang lelaki berperawakan tidak terlalu tinggi memasuki kedai. Saka dan Sekala menoleh serentak ke arah pintu, sebagai respon alami karena mendengar suara dari hiasan yang diletakkan di atas pintu kedai akan berbunyi ketika ada seseorang yang membukanya. Pun Sekala tersenyum singkat pada lelaki itu.   “Siapa dia?” tanya lelaki tersebut kepada Sekala dengan nada yang aneh. “Kenapa dia ada di sini?” tanyanya lagi, sembari tiba-tiba saja duduk di sebelah Saka. Rupanya dia salah seorang kenalan Sekala.   “Dia adikku. Kenalkan, Saka, ini Zade. Dia yang akan membawaku ke Amerika nanti.” Tutur Sekala, sebelum mengalihkan pandangannya kepada Zade dan melanjutkan, “Bagaimana?”   “Semuanya berjalan dengan baik. Kamu bisa pergi besok malam.”   “Caranya?”   “Dengan pesawat pribadi, kita akan terbang ke Kanada. Dari sana, kita akan menggunakan kapal untuk masuk melalui celah perdagangan gelap.” Tutur Zade.   “Kau dengar itu?” tanya Sekala, sembari melirik ke arah sang adik. “Kau harus mendengarkan semua yang kami bicarakan, agar nanti bisa memberi tahukan kepada ayah dan ibu ketika aku sudah pergi.” Papar Sekala. Sedang sang adik hanya memberi anggukan pertanda mengerti.   “Baiklah,” kata Zade sambil melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. “Besok kita bertemu lagi di sini, dan aku akan kembali menjelaskan lebih detailnya.”   Sebelum beranjak, Zade sempat melirik ke arah Saka. Entah apa maksudnya. Saka tak ambil pusing tentang itu. Pun Saka dan Sekala juga segera meninggalkan kedai yang sudah mau tutup itu.   “Saka,” panggil Sekala, saat sang adik baru saja hendak memasuki skydrive, membuat niatnya itu mesti terurung dan menoleh ke arah sang kakak.   “Tolong berikan surat ini kepada ayah dan ibu setelah tiga hari aku pergi. Sebelum itu, jangan bilang apapun. Oke?”   Saka mengangguk. Diraihnya amplop putih rapi yang sudah direkatkan ujungnya. Pun ia akan menyimpannya sampai tiga hari setelah kepergian Sekala, seperti apa yang tadi dikatakannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN