Saka mendapati skydrive sang kakak sudah terparikir di halaman sekolah. Sengaja Sekala menjemput sang adik untuk kembali membawanya ke kedai kecil di pinggir kota yang mereka kunjungi semalam. Pun Sekala mengangkat tangannya, sebagai isyarat menyapa sang adik yang ternyata sudah lebih dulu melihatnya.
Lantas Saka menyimpulkan senyum, menatap sang kakak yang berbalut kaus putih polos dipadukan dengan celana jeans hitam panjang, menunggunya di bawah terik. Terlintas dalam pikiran Saka tentang keberangkatan kakaknya malam nanti. Entah kapan dirinya akan bertemu kembali setelah keberangkatan itu. Entah kapan kakaknya akan menjemputnya lagi ke sekolah seperti ini. Kendati Saka percaya pada kakaknya itu, tetap ada perasaan takut yang terselip dalam relungnya.
“Kau lapar? Mau makan dulu? Aku sudah bilang ibu agar tidak menunggu kita untuk makan siang.” tawar Sekala.
“Tidak perlu, Kak. Aku mau makan bolu di sana saja. Ternyata bolunya cukup enak.” Jawab Saka. Semalam memang ia sempat mencicip bolu yang dipesannya ketika Sekala sibuk berbincang dengan Zade, rekannya yang dari Amerika itu. Ternyata rasanya lumayan, meski jika melihat dari lokasi dan keadaan kedai memang agak kurang meyakinkan.
Seperti biasa, tempat di sudut kedai selalu menjadi pilihan. Namun kali ini, bukan saja hanya Zade yang hadir di sana, melainkan juga ada 2 rekan Sekala yang lain, kalau Saka tidak salah dengar, Dylan dan Alden namanya. Sementara mereka banyak bicara, Saka malah sibuk mengunyah bolu yang sudah habis dua piring. Entah kenapa, Saka tak begitu menyukai Zade. Dia sering melirik Saka dengan sinis bahkan sejak awal pertemuan mereka semalam, dan kadan-kadang, secara terang-terangan, Zade melotot ke arah Saka. Karenanya Saka lebih memilih untuk membuang pandangannya dari Zade.
“Kau harus cepat mengurusinya!” kata Sekala menggebrak meja pelan. “Ini sudah kesepakatan, bukan?”
“Anak itu harus cepat keluar dari sini!” Zade mendengus pelan sembali melirik sinis ke arah Saka. Namun, Sekala sebagai kakaknya tak memberikan tanggapan.
Kendati sedari tadi hanya sibuk menyantap bolu, Saka juga menangkap pembicaraan kakaknya dan teman-temannya itu. Mereka berbicara tentang pesawat pribadi yang sudah disewa dari seorang bangsawan Amerika. Mereka akan naik pesawat itu nanti malam dan akan tiba besok pagi. Di sana, Sekala akan mengirimkan Saka kabar. Dan dari sana pula, Kanada maksudnya, dia akan naik kapal pesiar untuk masuk ke Amerika lewat jalur perdagangan gelap. Itu yang Saka pahami. Kenapa tidak langsung ke Amerika dan kenapa harus singgah dulu di Kanada? Jelas kalau seperti itu pesawat yang Sekala dan teman-temannya tumpangi akan langsung dihujani tembakan ketika memasuki wilayah Amerika.
***
Sang ibu telah menanti kepulangan dua putranya. Sekala memang pamit untuk menjemput sang adik, dan bilang kalau mereka tidak akan makan siang di rumah. Adapun ketika baru saja mereka turun dari skydrive, sang ibu langsung memberondongnya dengan pertanyaan karena mereka tiba di rumah jauh dari jam kepulangan Saka.
“Hanya lihat-lihat kota.” Itu yang dikatakan Sekala untuk menjawab pertanyaan dari ibunya.
“Mengapa setiap hari?” ibunya mulai curiga. Saka tahu akan itu.
Sekala tak lagi memberikan jawaban, dan malah berlalu lebih dulu meninggalkan sang adik yang masih akan berlanjut diinterogasi.
“Sebenarnya, apa yang kalian lakukan? Kenapa sering sekali kalian keluar rumah belakangan ini?” kini giliran sang ayah yang buka suara, sembari membereskan piring kotor. Tampaknya mereka baru saja selesai makan siang. Sudah berapa hari belakangan ini ayah Saka memang mendapatkan jadwal untuk bekerja dari rumah. Entah bisa dibilang beruntung atau tidak. Di satu sisi, ia jadi bisa berada di rumah sepanjang hari, berkumpul dengan keluarga kecilnya. Namun, di sisi lain, bekerja dari rumah ini memiliki jam kerja yang di luar nalar. Ayah Saka harus tetap siaga 24 jam sehari dan tidak diizinkan untuk menolak jika sang atasan melimpahkan tugas.
Saka terdiam. Sedang sang ayah mengangkat alisnya, meminta jawaban.
“Aku pasti akan menjelaskannya, tapi tidak sekarang,” kata Saka, sambil berusaha menyimpulkan senyum. “Sekarang aku lelah sekali.”
Pun Saka berhasil lolos, melarikan diri ke kamarnya.
Satu persatu kancing seragamnya ia lepaskan, melucuti pakaiannya sendiri dan menggantinya dengan pakaian rumah. Kaus dan celana pendek. Sederhana namun sangat nyaman dikenakan. Setelahnya, Saka meraih pemutar music dari atas nakas sebelah ranjang tidurnya. Biasanya, pemutar music itu selalu dibawanya kemana pun, bahkan ke sekolah, tapi hari ini ia malah kelupaan dan malah meninggalkannya tergeletak begitu saja di atas nakas.
Merebah, sembari mendengarkan tangga nada yang mengalun dengan amat sopan untuk masuk ke telinga. Rasanya begitu damai. Untuk sesaat Saka dapat melepaskan segala penatnya.
Namun,
Tiba-tiba saja terlintas satu nama dalam pikirannya.
Akasa.
Hari ini Saka tidak berkunjung ke kediamannya karena harus ikut dengan Sekala. Dan lagi, bukankah kemarin Akasa sudah sembuh? Kenapa hari ini dia belum masuk sekolah? Apa dia sakit lagi? Sepertinya besok Saka harus kembali menjenguknya.
Tok… Tok…
Earphone masih menyumbat telinga Saka, sampai ia tidak menyadari kalau ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.
Tok… Tok…
Pun seorang lelaki muncul dari balik pintu. Ia menggelengkan kepala ketika melihat si pemilik kamar yang tengah mendengarkan music menggunakan earphone. Pantas saja ketukannya dari tadi sia-sia.
Saka beringsut. Seseorang baru saja menarik sebelah earphonenya. Ia langsung mengubah posisi rebahnya menjadi duduk. Didapatinya sang kakak yang sudah berdiri di tepian ranjangnya.
“Aku sudah ketuk pintu tapi tidak ada respon, jadi aku coba masuk dan kebetulan tidak dikunci.” Jelas Sekala.
“Ah, iya. Aku sengaja tidak menguncinya karena memang belum mau tidur. Ada apa?”
Sekala menghela napasnya, mendaratkan tubuhnya untuk duduk berdampingan dengan sang adik.
“Malam nanti aku berangkat, kau tidak lupa apa yang sudah kita rencanakan, bukan?” tanya Sekala.
Saka memberinya anggukan.
Entah apa yang ada dalam pikiran Sekala, sampai tangannya tergerak menuju puncak kepala sang adik dan mengusapnya pelan. Membuat sang empunya keheranan. Sempat ada reflek ingin menghindar, tapi Saka mengurungkannya. Memang sedikit aneh, pasalnya sang kakak tidak pernah seperti ini sebelumnya. Mungkin pernah, tapi itu dulu, saat Saka masih kecil, ia sendiri sudah tidak ingat.
“Astaga, kapan adikku tumbuh secepat ini? Kau sudah besar.” Ucapnya sambil terkekeh.
“Kau bilangkan aku juga manusia, aku bertumbuh.” Balas Saka yang juga ikut terkekeh.
“Selama aku tidak ada, jaga ayah dan ibu, ya. Belajar lah yang giat di sekolah, agar kelak bisa membantu membenahi kekacauan ini.” Tutur Sekala.
Ada apa ini? Kenapa bagi Saka ini terasa seperti perpisahan?
“Apa yang kau bicarakan, Kak? Kenapa seperti perpisahaan? Padahal kau hanya akan pergi sebentar, bukan? Kau bilang kau akan segera pulang.” Protes Saka.
Sekala melukiskan senyum, “kau benar. Aku akan segera pulang.”
**
Mungkin, pagi datang terlalu cepat. Atau Saka yang terlalu lelah sehingga membuat tidurnya terasa belum cukup. Saka merenggangkan otot-ototnya, dengan masih merebah, ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi dan menggerakkan tubuhnya perlahan. Terasa nikmat memang jika dilakukan setelah bangun tidur. Rasanya, malas sekali bagi Saka untuk pergi ke sekolah. Yah, tapi mau tidak mau ia harus tetap sekolah karena banyak di luar sana yang tidak seberuntung dirinya yang masih dapat mengenyam Pendidikan di bangku sekolah.
“Selamat pagi!” sapa sang ayah, dengan koran yang bertengger di tangan kanannya.
“Pagi.” Balas Saka malas. Sepertinya nyawa Saka belum terkumpul.
“Lima puluh orang tewas minggu ini,” kata sang ayah sambil membolak-balikkan korannya. “Enam tewas karena berusaha pergi dari Indonesia ke Malaysia dan Brunei Darussalam. Mereka ditembak di tempat.”
Saka hampir tersedak roti kering yang baru dimasukkannya ke dalam mulut. Itu gila! Saka menjadi gelisah seketika, apakah kakaknya akan baik-baik saja? Malam tadi dia sudah berangkat, berpamitan pada ayah dan ibu hanya bilang kalau ia ada urusan penting. Pun Saka berusaha untuk memendam perasaan gelisahnya itu dalam-dalam.
“Oh, apa ini? Telah terjadi aksi saling serang dan menghancurkan beberapa kota di berbagai negara. Berita gila macam apa lagi ini?” ujar sang ayah, keningnya mengerut kebingungan. Tampaknya dunia sudah semakin menjadi. Ini semua benar-benar gila.
Tapi,
Sebentar.
Tiba-tiba saja Saka teringat akan sesuatu.
“Aksi saling serang?”